Ada sesuatu yang segar dari 'Cergam Rify' terbaru yang bikin aku terus terpikir bahkan setelah membacanya. Alurnya dimulai dengan tokoh utama, seorang pemuda biasa yang tiba-tiba menemukan dirinya terjebak dalam dunia paralel setelah kecelakaan misterius. Yang menarik, dunia ini bukan sekadar fantasi klise—setiap detailnya dirancang untuk memantik pertanyaan tentang realitas dan identitas. Konflik utamanya muncul ketika dia menyadari bahwa dirinya mungkin hanya 'cadangan' dari versi aslinya yang hilang. Plot twist di babak akhir benar-benar menghantam: ternyata dunia aslinya yang selama ini dia anggap nyata justru ilusi. Aku suka bagaimana penulis bermain dengan konsep determinisme vs. kebebasan memilih, diselingi adegan laga visual yang epik.
Yang bikin betah, karakter-karakter pendukungnya tidak datar. Ada sosok ilmuwan gila yang ternyata korban eksperimennya sendiri, plus antagonis yang motivasinya justru relatable—ingin mempertahankan 'keseimbangan' meski dengan cara kejam. Klimaksnya sedikit bittersweet; protagonis harus mengorbankan memori tentang dunia paralel itu untuk kembali, tapi ending terbuka menyisakan pertanyaan: apakah pilihannya benar-benar free will, atau masih bagian dari skenario besar? Rasanya kayak nonton 'Inception' versi komik lokal.