Nasi Bungkus untuk Laila
Pria yang kini berusia hampir kepala tiga itu semakin semangat bila berdiskusi masalah keilmuan.
Udara di luar terasa dingin, sekitar dua puluh derajat celsius, musim dingin baru saja berakhir, berganti musim semi yang sangat Arsen sukai. Musim ini mengingatkan ia pada seseorang, yang namanya tak lekang oleh waktu, terpahat dengan indah di bilik-bilik hatinya. Ia membayangkan berdua bersama berjalan di bawah naungan pohon flamboyan yang banyak tumbuh di pinggir jalan, menyuguhkan bunga berwarna merah, yang akan berguguran seperti salju jika tertiup angin.
Cuaca dingin seperti ini, enak sekali jika memakan kusyari yang masih hangat, Miftah membelinya untuk sarapan mereka.
Hot Chapters