Pernikahan Penuh Luka
Rupanya, gerakanku itu tertangkap olehnya.
“Kamu ngantuk,” katanya sambil menoleh. “Sudah sore, jangan tidur dulu. Bangunkan Arka nanti.”
Aku mengangguk, meski rasa kantuk itu semakin kuat.
Bara melanjutkan ucapannya dengan nada yang lebih pelan namun tegas, “Dan nanti malam, aku mau kita tidur bareng. Aku sudah janji sama kamu, Syah. Aku mau berbagi diriku untuk kamu dan Bela.”