Dimanja Suami Kontrakku
Musik jazz mengalun pelan, tidak mengganggu, hanya menemani.
Vano duduk bersandar, satu kaki menyilang, kartu undangan berwarna krem dengan emboss elegan berada di tangannya. Ia membolak-balik kartu itu seperti sedang memastikan sesuatu yang masih terasa tidak nyata.
“Pulau pribadi,” gumamnya. “Gila ya. Rex beneran all out.”
Reuben mengangkat alis sambil mengaduk kopinya. “Gue kira Jakarta doang. Maksimal Bali. Ini… privat island? Itu level ‘gue nikah sekali seumur hidup dan kalian cuma numpang datang’.”