Renjana
Kemudian ditengahnya ada lapangan, tempat biasa kami berkumpul, disusul oleh barak-barak tempat kami beristirahat, lalu aula, setelah itu ada kamar mandi, dengan 65 kubikel khusus perempuan, dan ternyata dibagian bawah ada beberapa penjual yang menjajakan berbagai makanan, mirip kantin umum, walaupun tepat diatasnya ada gedung yang digunakan sebagai dapur.
“Laper nih, antar aku jajan dulu ya,” pinta Ida, yang bahkan belum kami jawab pun dia sudah meluncur. Sekejap saja, dia sudah membawa bungkusan siomay ditangan kanannya dan satu cup kopi ditangan kirinya.
“Kenapa kalian gak mau beli?” tanya Ida dengan mulut penuh siomay.
“Males,” jawabku asal-asalan.
Hot Chapters