Teman Tidur Suamiku
“Plis, Mbak, untuk kali ini aja, pikirin perasaan Mbak sendiri, bukan orang lain. Aku tahu Mbak selalu mikirin orang lain, tapi sekarang... pikirin diri Mbak. Juga … aku.”
“Ham, jangan paksa aku.”
“Aku gak maksa.” Ilham tersenyum tipis. “Tapi, aku yakin ... Mbak juga punya perasaan yang sama kayak aku.”
Seketika suana sunyi. Hanya detik jam dinding yang terdengar berdetak pelan di ruang itu.
Anya mengangkat wajah, menatap Ilham. Mata mereka bertemu sesaat—lalu ia memalingkan pandang, seolah takut tertangkap basah.