TAK INGIN BERCERAI
lirihnya.
Suamiku memukul dadanya, mungkin terasa begitu sesak dan menyayat hati mengetahui bahwa ayahnya entah siapa.
"Entah bagaimana kalian bisa dipertemukan sampai akhirnya menikah.. mungkin ini takdir kita.. dulu Ayahnya Murti berhutang dengan Papa yang tak bisa dilunasi. Rian, kakak kamu dulu masih kecil dan hampir meninggal karena kejang, Ayahmu yang hanya seorang pegawai biasa meminta pinjaman kepada Papa. Tapi dalam waktu yang cukup lama, Ayahmu tidak bisa melunasinya. Sampai akhirnya, Ayahmu menjual Ibumu sebagai ganti biaya pelunasan. Dan ternyata Ibumu hamil. Papa sudah mengambil sampel DNA kamu, Mur. Dan kamu memang anak kandungnya.. jadi..." ungkap Mama beralih menatapku.