Mendadak Talak
“Bukankah aku sudah dewasa, tidak perlu Ibu khawatirkan lagi.”
“Bagaimana Ibu tidak mengkhawatirkanmu. Kamu menikah dengan Bagus, tetapi pulang malam-malam dengan Arsa?!”
Wahda tersentak. Ia melepaskan pelukannya, lalu duduk di sofa. “Bukankah dia sepupuku, keponakan ayah, kenapa Ibu repot soal itu?”
“Tapi apa tetangga berpikir sampai ke sana? Bagi masyarakat, agama, ia laki-laki yang boleh kau nikahi,” sahut Mauriyah sambil duduk di sofa yang satunya.
Hot Chapters