LOGINNaira hanya ingin bekerja demi membayar utang dan mengobati ibunya. Tapi lamarannya ditolak mentah-mentah. Namun, siapa sangka, keesokan harinya ia justru ditawari sesuatu yang lebih gila: "Menikahlah denganku. Kontrak satu tahun. Setelah itu, selesai." Arvin Mahendra, CEO tampan yang yang terkenal dingin, menawarkan Naira pernikahan kontrak demi menyelamatkan status dan warisan perusahaannya. Sementara Naira, yang terdesak keadaan, tak punya pilihan lain selain menerima. Namun, saat perasaan mulai tumbuh, masa lalu Arvin datang menghantui. Nadine, kakak kandung Naira sekaligus mantan tunangan Arvin, kembali dan ingin merebut semuanya—termasuk Arvin. Di tengah tekanan keluarga dan fitnah yang menyudutkan, Arvin harus memilih: mempertahankan Naira, atau kembali pada wanita dari masa lalunya. Siapa yang akan Arvin pilih saat semuanya dipertaruhkan?
View MoreNaira langsung menoleh. “Kau tahu siapa?”Arvin menatapnya sejenak sebelum menggeleng pelan. “Belum pasti. Ricard sedang menyelidikinya.”“Ricard?” Alis Naira terangkat tinggi. “Ricard yang itu?”Arvin mengangguk santai, seolah menyebut nama Ricard bukan sesuatu yang luar biasa. “Ya.""Tapi... kau bilang dia tidak tahu kontrak kita.""Dia memang tidak tahu soal kontrak kita, seperti yang pernah kubilang. Tapi dia yang paling bisa kuandalkan untuk urusan seperti ini. Aku memintanya menyelidiki siapa yang sedang mencurigai pernikahan kita.”Naira menahan napas. Otaknya bekerja cepat, memutar ulang setiap interaksi yang pernah ia alami dengan Ricard. Tatapan lelaki itu, ucapannya, intonasinya yang nyaris selalu terdengar ambigu.“Aku pikir… Ricard mencurigakan,” gumamnya. “Dia terlihat... mengetahui sesuatu tentang pernikahan kita dan dia juga selalu mempertanyakan tentang pernikahan ini, seolah tidak mempercayaimu.”Arvin menghela napas, kali ini terdengar lebih berat. “Ricard memang ti
Pagi itu datang tanpa ampun. Matahari baru saja naik di balik jendela lebar kamar apartemen, tapi tubuh Naira terasa seperti tak sempat benar-benar terlelap. Rasa sesak di dadanya masih tinggal sejak malam sebelumnya, sejak Arvin mengucapkan kalimat yang terus bergaung dalam pikirannya:“Pastikan kau tidak menyimpan apa pun dariku, Naira. Apalagi sesuatu yang bisa mengguncang reputasi atau membahayakan nama keluargaku. Karena kalau ada yang mencoba menghancurkan rencana ini dari dalam … aku tak akan memberi peringatan kedua. Dan aku selalu tahu.”Kalimat itu dingin. Dan tajam seperti sembilu.Naira menatap bayangannya sendiri di cermin meja rias. Ada lingkaran samar di bawah matanya, tapi yang membuatnya merasa lebih tak berdaya adalah tatapan itu, tatapan orang yang menyimpan terlalu banyak hal, dan tak punya tempat untuk berbagi. Tangannya gemetar saat merapikan kancing terakhir di blus putih bersih yang Arvin minta ia kenakan."Agar terlihat netral dan profesional," katanya tadi pag
“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”Naira tidak langsung menjawab. Tenggorokannya tercekat, dan ia masih bisa merasakan degup jantungnya menabrak tulang rusuk, seakan ingin melarikan diri lebih dulu darinya sendiri.“Aku hanya lelah,” ucapnya pelan, tanpa menatap Arvin.Arvin tak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di ambang pintu kamar mandi, memperhatikan Naira yang masih membelakangi cermin. Sorot matanya menusuk, namun suaranya tetap tenang saat ia berkata, “Kalau kau menyembunyikan sesuatu, lebih baik kau pikirkan baik-baik. Aku tak suka kejutan.”Kemudian ia berbalik dan pergi, membiarkan pintu kamar mandi terbuka.Naira menunggu hingga suara langkah kaki itu menjauh, lalu buru-buru mengambil ponsel yang tadi disembunyikan. Ia membuka kembali pesan dari nomor asing itu. Kata-katanya masih sama. Singkat. Penuh ancaman terselubung.“Ini baru permulaan. Kita lihat sampai kapan kau mampu bertahan. Naira.”Tangannya bergetar. Ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Dan yang paling
Langit Zurich cerah, tapi tidak lebih tenang dari pikiran Naira. Ia duduk terpaku di dalam mobil hitam yang membawa mereka dari bandara menuju sebuah hotel mewah, tempat yang telah disiapkan untuk kunjungan bisnis dan juga pengukuhan hukum pernikahan mereka.Arvin duduk di sampingnya. Diam. Tatapannya tertuju ke luar jendela, ke deretan bangunan klasik yang berdiri rapi seperti barisan penjaga rahasia.“Aku tidak menyangka tempat ini akan terasa… dingin,” gumam Naira, mencoba mencairkan suasana.Arvin menoleh, suaranya pelan tapi tegas. “Tempat ini sangat tepat untuk hal yang penting, Naira. Pengukuhan pernikahan kita secara hukum internasional akan dilakukan di sini. Setelah itu, kau resmi menjadi bagian dari hidupku. Bukan hanya secara sosial, tapi legal dan global.”Kata-kata itu seharusnya membuat Naira lega. Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya. Jantungnya justru berdetak lebih cepat.“Apa karena ... hal itu?” tanyanya pelan.Arvin menyandarkan tubuhnya, menatap lurus ke depan.
Daniel menatapnya sambil tetap tersenyum ke arah kamera, ekspresi yang seolah tak menyimpan apa pun—kecuali rahasia gelap yang baru saja dia sematkan ke telinga Naira."Aku tahu siapa kau."Naira membeku.Senyumnya menegang. Ia bahkan lupa harus menatap ke arah fotografer. Jantungnya berdetak kenca
Suara denting alat rias dan bisikan pelan memenuhi ruangan. Naira duduk di depan cermin besar dengan lampu-lampu bulat yang memantul di kulitnya. Wajahnya telah diberi alas, mata dihias lembut, dan rambutnya disanggul rapi oleh para perias profesional. Gaun putih gading menggantung di sisi ruangan,
Naira berdiri membeku di balik pintu kamar, napasnya tercekat setelah mengucapkan pertanyaan yang selama ini dipendam. "Tunggu … A-apakah kau juga akan menuntut hakmu di ranjang, sebagai suami?" Suaranya bergetar dan hampir pecah.Di luar sana, Arvin diam sesaat, seperti menimbang-nimbang. Lalu sua
Lorong rumah sakit yang pucat masih berbau disinfektan ketika ponsel di tangan Naira kembali bergetar. Getaran kecil itu terasa seperti ledakan di dadanya—sebab nama "Arvin" kini berarti satu-satunya jalan keluar, sekaligus jalan buntu. Ia menunduk, membaca pesan singkat yang tertera di layar berca






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews