LOGINAnnisa Humaira seringkali dihina karena tak seorang pun tahu siapa ayah kandungnya. Meski demikian, dia memiliki semangat juang tinggi untuk menjadi pengacara. Hal tersebut menarik perhatian dua pria tampan dengan latar belakang berbeda. Raditya Atmaja, seorang duda kaya beranak satu dan juga Zian Bintoro, kekasih sepupunya. Keduanya begitu mencintai dia dan bersiap meminangnya. Namun, siapakah pria yang akan dipilih Maira pada akhirnya?
View MoreSolene sighed deeply as she hung her hand from the side of the bed and the dildo fell to the floor.
She lay naked on her back as she tried to steady her ragged breathing. She had masturbated up to seven times that day, twice that evening already and it was definitely not something she was proud of.
She raised her other hand to her face and looked at the picture of the man on her phone screen. Charles Hugo
Her husband.
Solene and Charles had been married for a few months now and what started off on a rosey note, turned sour quicker than she had imagined.
Charles was disloyal. She loved him to bits but had her heart shattered by him when she found out he had been cheating on her and sleeping around with other woman.
She loved her husband so much and was willing to move past his disloyalty but he was a chronic cheat and couldn't stop. He kept on with his dirty games even after being caught.
Solene couldn't tell anybody and she definitely couldn't divorce him. It was too early for that and she was scared of being laughed at. She really wished she listened to her family and kept the marriage on a low profile or atleast off socials.
Charles had been distant and cold towards her and for someone who was guilty, throwing tantrums. He hadn't touched her in months and she craved for him so badly.
He was good in bed and satisfied her so good. And with the memories of that, her sex toys and his picture, she could experience half of that same pleasure she derived from him.
Now, he was nowhere to be found. He worked as a marketing director in a big company and went away on an indefinite business trip.
Solene knew too well he didn't go on any business trip. He was probably nestled up with one of his mistresses in bed. What business trip lasted indefinitely by the way?
She tossed her phone on the bed and crossed her arm over her eyes. She lay still in bed with her eyes closed wondering why she had never seen signs of her husband's true nature before they tied the knot.
She didn't hate him. She just hoped that one day soon, his eyes would open to the wrong he'd done her and she hoped too that it wouldn't be too late by then.
“Darn it” she muttered and sat up. She had taken her bath a few minutes before masturbating and now she was all wet and sticky.
She stood up, picked up her dildo and strode into the bathroom to freshen up again.
Immediately she strode out of the bathroom, the ring of the door bell startled her. Charles? She hurriedly ran into their closet and hid her washed dildo amongst her other sex toys.
She moved hurriedly through the apartment clad in only a white fluffy bathrobe. Her hair fell in wet strands that glued to her face and neck.
“Coming!” She called out as the bell rang again.
She opened the door and was almost thrown aback at the sight of Richard Hugo standing with a wide grin and a small trolley in his hands.
Richard was Charles' twin brother. They were identical twins but those who knew them well could differentiate between the duo.
Charles was older and taller by an inch. His hair was a darker shade of brown than Richards and he had a tiny birthmark on the left side of his jaw while Richard's was on the right.
Solene knew Richard first back in college but they were just friends. Richard was always bubbly, cheerful and most of all a ladies man. The last was one thing Solene was always weary of.
She met Charles when he came for she and Richard's convocation and was drawn to him since then. Charles was in a separate university from Richard and was a little less of everything Richard was.
After college, she began seeing Charles and Richard left the country to explore the world, he went incommunicado for years and didn't even show up for her wedding.
And now here he was. At her home.
“Hey sister in-law” he said with a wide grin, “Are you going to invite me in?”
Solene was dumbfounded, she stared at him but made way for him to come in.
“What—what’re you doing here?” She muttered more to herself but loud enough for his hearing.
“I'm here to see my bro and his wife.” He said simply still wearing his smile. “Why? Aren't you happy to see me?” he asked and ran his eyes over her.
She smiled for a second and nodded, snapping herself back to reality. “I am… happy to see you”
“You could atleast make it look real by giving me a hug yunno” he said and held his arms out.
Solene hesitated for a bit before slowly walking into his arms. He hugged her tight and rocked her from left to right but her hands were by her side the whole time.
He pulled away and held her by the waist. “Are you okay? Where's Charles?”
“I'm fine” she said and pulled away from his grip, stepping away a little. “Charles isn't home. He went on a business trip”
“I see” Richard nodded and slipped his hands into his trouser pockets.
“Why are you here for real?” Solene asked in a clipped tone.
Richard looked at her for a bit. He could tell she was angry at him. They were best of friends throughout uni and she assumed him as her best friend after she met Charles but he disappeared one day without any notice. He never took her calls or responded to her texts. She had every right to be mad.
“Listen Sol. I understand you're mad at me. I can read your energy but I'll explain everything if you calm down and let me” he said and took a few steps towards her.
“I don't want to hear anything except the reason why you're here?”
“I’m here for you” he said and walked to her front then held her waist again.
Solene stopped breathing for a moment and tried not to place too much meanings to his words.
***Zian sudah tak kuat lagi mendengar nestapa Maira. Dengan cepat ia merangkul gadis itu. Ia tak peduli kondisi Maira yang basah kuyup. Kaos oversize yang Maira kenakan sudah menempel dengan badannya karena dilem oleh air hujan yang terus saja mengguyur bumi. Kini pakaiannya juga basah. Tapi masa bodoh. Dalam otaknya ia hanya ingin membuat gadis itu tenang."Siapa orang yang telah menghina kamu seperti itu? Katakan padaku, Mai!" ucap Zian dengan nada yang ditekan penuh amarah. Selama ini dia mengikuti Maira dan menjadi pengagum rahasianya, ia tak pernah menemukan Maira bersama pria manapun. Ia tak pernah menemukan Maira berada di tempat terkutuk itu. Ia akan menghabisi orang yang tega menuduh Maira dengan tuduhan yang tak pernah dilakukannya."Katakan, Mai!" Suara Zian melembut saat menyadari Maira tertunduk diam didadanya."Kakaknya Feni ..." ucap Maira tanpa disadari.Jemari kanan Zian yang memeluk pundak Maira mengepal. Dalam hati ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan abang
***"Sudah, Maira." Maira membuka pintu disampingnya tanpa merespon perkataan Raditya."Terima kasih kamu telah jadi sahabat yang baik buat aku selama ini, Fen. Ini mungkin yang terakhir kita bertemu sebagai sahabat," ucap Maira sebelum melangkah keluar. Feni tercengang. Tak ada angin tak ada badai kenapa Maira memutuskan persahabatannya? Ia hanya memandang lesu punggung Maira yang mulai menjauh. Apa ini, Tuhan? Tak berapa lama Maira berbalik dan menghampiri pintu mobil Raditya yang masih terbuka."Mai, kamu kembali." Feni tersenyum bahagia. "Ayo naik. Sudah kubilang hujannya masih deras. Ayo sini!" Feni tersenyum saat Maira melongak ke pintu yang masih terbuka."Ini jaket mahal Mas kamu!" Maira meletakkan jaket Raditya dan kembali berjalan menerobos air hujan. Raditya dan Feni dibuat tercengang oleh tingkah Maira."Mas! Apa kamu kenal Maira sebelum ini? Dari tadi ia tak mau merespon kamu sama sekali! Selama 3 tahun bersahabat dengannya dia tak pernah melakukan ini padaku. Ini pasti k
***Mata Maira merah menahan amarah. Hidungnya kembang kempis dengan deru napas yang naik turun. Namun ia hanya mampu diam dan menunduk. Ia tak mau mengotori mulutnya dengan kata-kata kasar pada pria angkuh dan galak itu. Andai ia bukan kakaknya Feni ia pilih berlari pulang.Hati Maira yang baru saja tertawa melihat tingkah adiknya kini harus tersulut emosi lagi karena abangnya.'Mulut pedasnya itu! Ah! Tapi apa salahnya? Dia mengatakan hal yang benar kan? Memang aku ini hanya penjual cilok. Sabar, Mai! Kenapa harus tersinggung coba?' Dalam kepalanya yang masih menunduk, Maira mencoba menjerang senyumnya meski sulit untuk menguatkan hatinya."Mas Radit gak boleh gitu! Meskipun ia penjual cilok, tapi cantik kan?" ujar Feni untuk mencairkan ketegangan yang semakin menguar.Glek!Raditya menelan salivanya. Memang tidak salah yang dikatakan adiknya. Memang dari tadi pagi ia sudah terpesona pada gadis penjual cilok ini. Ah! Takdir yang manis! Ia bahkan lebih manis dari Aina-mantan istrinya
***Maira tak menghiraukan pandangan Feni yang dari tadi meliriknya. Ia lebih mengkhawatirkan pandangan Nayla yang tak ada dibalik mobil."Pulanglah! Kasihan Nayla sudah menunggu," jawab Maira lirih tapi penuh penekanan membuat Zian kecewa karena jawaban gadis itu tak nyambung dari pertanyaannya. Zian melengos sambil mengusap dadanya. Kecewa? Sudah pasti! Mengapa gadis disampingnya ini selalu menutup diri darinya. Sabar, Zi!Namun saat dirinya ingat aksi nekatnya di mall tadi, seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya.Ia tak mau putus asa. Tak ada perjuangan yang sia-sia. Zian menguatkan tekadnya. Keinginan yang lama ia pendam, bisa dekat dengan Annisa Humaira, mahasiswi pekerja keras yang dari awal melihatnya langsung mencuri hatinya. Satu-satunya gadis acuh dan tak mengindahkan keberadaannya. Jika sampai dirinya melanjutkan studinya ke Amerika dan ia belum juga bisa mengungkapkan cintanya pada Maira ia akan sangat menyesal. 'Aku harus segera mengungkapkan cintaku!'"Aku tunggu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.