ANMELDENPerpustakaan istana bukan sekadar perpustakaan. Ini adalah surganya pecinta buku.
Rak-rak kayu ek menjulang setinggi tiga lantai, dihubungkan oleh tangga spiral dari besi tempa. Cahaya pagi masuk melalui jendela kaca patri di langit-langit, memantulkan warna-warna permata ke lantai marmer. Aroma kertas tua, tinta, dan kayu bercampur menjadi satu—seperti napas dari ribuan tahun sejarah yang tersimpan di dalamny
Owen tiba di kediaman Lancaster saat pagi belum terlalu terang. Ia menyerahkan kudanya pada pelayan yang menghampirinya. “Di mana Ayah?”“Di ruang kerja, Tuan. Sedang membaca.”Owen melangkah masuk. Ia berjalan menyusuri koridor. Ruang kerja Lord Lancaster terletak di ujung, menghadap taman kecil yang mulai ramai oleh suara burung.Ia mengetuk pelan, lalu masuk.Lord Lancaster duduk di kursi dekat jendela. Di atas mejanya ada beberapa lembar kertas yang tampak belum lama disentuh. Ia mendongak, dan begitu melihat Owen, ia meletakkan kertas di tangannya.“Kau pulang,” katanya.“Ada yang ingin kusampaikan.”Lord Lancaster menyandarkan punggungnya. “Bicaralah.”Owen menarik kursi dan duduk di seberang ayahnya. Ia berbicara pelan, tidak terburu-buru. “Semuanya sedang dipersiapkan. Bukti sudah didapat. Tinggal satu hal.”Lord Lancaster menatap putranya. “Kesaksian.”“Ya.”Lord Lancaster menatap kertas-kertas di mejanya sebentar. “Aku sudah berjanji.”“Aku tahu.” Owen menatap ayahnya. “Tap
Setelah menutup buku itu, Duke Ashworth duduk diam selama beberapa menit. Lalu ia membukanya lagi.Kali ini ia tidak terburu-buru. Jemarinya menelusuri setiap lembar, setiap lipatan. Di bawah cahaya yang masuk dari jendela, kertas-kertas itu tampak sama seperti biasanya.Tapi tidak semuanya.Ia berhenti. Ada dua lembar yang terasa berbeda. Lipatannya berbeda dengan lipatan surat yang lain.Ia menarik keduanya dan membukanya.Kosong.Ashworth tidak langsung bereaksi. Ia menatap dua lembar kosong tersebut seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di hadapannya.Ia tahu isi buku itu. Bukan setiap kalimat, tetapi ia tahu
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver meninggalkan Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Kereta yang sama dari Harrington membawa mereka keluar gerbang, melewati jalan setapak yang masih diselimuti kabut tipis. Tidak ada yang banyak bicara. Surat-surat itu kini tersimpan di saku dalam jas Benedict.Henry sudah menunggu di pintu sayap timur istana. Pakaiannya sederhana, bukan pakaian jamuan. Tidak ada pengawal di dekat pintu itu. Ia membawa mereka masuk lewat koridor belakang yang jarang dipakai, melewati ruang-ruang kecil berdebu, sampai tiba di ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup, lalu Henry menguncinya.“Kita mendapatkannya,” katanya.Benedict mengeluarkan dua sura
Benedict masuk saat malam sudah benar-benar larut.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Rosemary berdiri dari kursi dekat jendela. Edmund dan Oliver masih di tempat mereka, di dekat meja yang dipenuhi kertas-kertas lama.Tidak ada yang bicara sampai Benedict mendekat dan mengeluarkan dua lembar surat dari bagian dalam jasnya.“Dapat,” katanya.Rosemary tidak bertanya. Ia sudah tahu apa yang dimaksud.Benedict meletakkan surat-surat itu di atas meja. Dua lembar kertas terlipat rapi, sedikit lecek karena dipindahkan dari buku ke saku, dari saku ke serbet, dari serbet ke saku. Warnanya krem tua, dengan tinta yang masih tajam di beberapa bagian.Rosemary mengambil salah sa
Pengumuman itu membuat semua orang tetap berada di tempatnya.Beberapa bangsawan yang tadinya sudah berdiri kembali duduk. Pelayan-pelayan berhenti di sisi ruangan, menunggu aba-aba. Henry berdiri di bawah cahaya lilin yang menggantung rendah. Semua mata tertuju padanya.“Aku tidak akan menahan kalian terlalu lama.” Henry mengangkat gelasnya. “Malam ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal.”Duke Ashworth menyandarkan punggungnya dan mendengarkan. Cedric di sampingnya menunduk, tapi matanya sesekali melirik ke arah Henry.“Kerajaan ini dibangun oleh keluarga-keluarga di ruangan ini,” lanjut Henry. “Aku berharap, apa pun perbedaan di antara kita, kita masih bisa duduk di meja yang sama. Dan malam ini adalah buktinya.”
Aula besar dipenuhi lilin-lilin tinggi yang berdiri di sepanjang dinding. Cahaya keemasan jatuh di atas meja panjang yang dilapisi taplak putih. Para pelayan bergerak tanpa suara, mengatur detail terakhir sebelum para tamu memasuki ruangan.Henry berdiri di dekat pintu utama. Jas biru tuanya rapi, dan tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya. Tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak, memeriksa setiap sudut, setiap pelayan, setiap tamu yang mulai berdatangan.Para bangsawan masuk satu per satu. Duke Harrington tiba lebih dulu, mengenakan jas hitam dengan kerah tinggi. Di sampingnya, Benedict berjalan dengan postur tegak, meskipun bahunya sesekali masih sedikit kaku. Henry menyambut mereka dengan anggukan formal.“Duke Harrington.” Henry tersenyum tipis. “Aku senang kalian bisa datang.&rd
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro







