MasukSuamiku menyiksaku selama pernikahan ini, membawa kekasihnya sebagai penghangat ranjang dan membekukan ranjangku. Terlebih saat aku tahu alasannya.... Cukup sudah! Lihat saja, kau pikir aku akan tinggal diam, Mas?
Lihat lebih banyak“Oh there you are, Sera!,” My mother beamed as I walked into the sitting room dragging my wet umbrella behind me.
“Hi mum.” I made to hug her but stopped when I saw that my whole family were gathered in the sitting room - including my boyfriend, Kael.
My brow raised in surprise. He never told me he was coming over. Fuck I've been texting him all day but he never responded.
Was everything okay?
But judging from the grin on my parent's face, everything was perfectly fine.
But what's going on?
“Come on in dear. Come in. We have got great news.”
“Exciting one!” Dad quipped in and I raised my brow as I took off my coat and followed my mother into the sitting room.
“What's going on?”
Kael was seated beside my sister and he was the only one not smiling.
No - instead he's trying as much as possible to avoid my gaze.
Which just raised my suspicions because seriously - what was going on?
“Okay, so hit me! What's the good news?”
“Your sister Thalia here and Kael are engaged! They are to wed next week.”
I blinked and turned to my mum with eyes wide open. Surely I didn't hear her right.
“What?” I breathed, my heart suddenly beating faster.
“Kael and I just got engaged. We are to wed next week.” Thalia said, and I shook my head in disbelief.
Kael.
As in, Kael, my boyfriend?
But..how?
“Oh I'm so excited. There is so much that we need to plan, so much.”
I stared at my mother, dumbfounded at her reactions.
Was she for real?
What on earth is going on?
Kael is my boyfriend. My. Boyfriend and -
I turned my gaze to him but he averted his gaze and stared fixedly on the floor.
“I…I don't understand.. understand.” I stammered standing up from my chair when it became clearer that this was no joke, my head spinning.
“You are marrying my boyfriend?!”
Thalia shrugged, “you mean my fiancé?”
I scoffed in frustration.
How could they all sit here like everything was normal? How could they be happy - rubbing the news to my face?
What the fuck happened?
How did this happen? Kael and I were on a date just last night and now he's marrying my sister?
“This better a joke because goddess help me — “ I turned to my mum and my anger increased “you are excited? You knew about this? You knew Kael is my boyfriend and you are okay with this? You knew they were going out behind my back?”
My mother rolled her eyes as if I was just being ridiculous, “what do you expect us to do? The boy made his choice Sera. You cannot crucify him for choosing.”
My knees almost gave out on me but I steadied my stance - just so I won't embarrass myself by falling in front of them.
“Mother…”
“For god's sake, Sera, do not be so dramatic! The least you could do is be happy for me.” Thalia snapped and I laughed, my vision blurred with tears as I stared at my beautiful sister.
“Happy for you? All my life, Thalia, you have always had it all. The attention, the love, the care. Every single thing and just when I thought I found my own happiness - you couldn't allow me to have that too.” a tear fell and I brushed it off, “and our parents have always supported you. You want my congratulations? Fine! Congratulations! I hope you two rot in hell!!!! I hope you meet death!!”
Naya mencoba mengabaikan perasaan anehnya, dan mengangguk, "Baiklah, kita berikan kejutan untuk semuanya hari ini, mereka pasti seneng kamu sudah bisa jalan, Mas!" Lingga tersenyum, "Berkat obat paling mujarabmu, Sayang!" "Ishhh! Ke rumah Ibu sekarang!" potong Naya saat mengetahui suaminya mulai menunjukkan tanda-tanda berbeda. Badannya saja masih seperti remuk redam akibat ulah suaminya itu, "Dasar banteng liar!" "War, banteng liar akan menyerudukmu, Sayang!" canda Lingga semakin menjadi-jadi membuat Naya akhirnya terkekeh. Dan setelah itu, Lingga melajukan mobilnya sendiri, pertama kalinya menyetir setelah selama ini Naya yang menyetir membuat Lingga merasa kembali menjadi laki-laki seutuhnya. Cukup lama, mobil Lingga akhirnya terparkir sempurna di depan rumah Bu Btari, di sambut oleh Bu Btari yang menggendong Naima, Nendra dan Bia yang tengah menggendong Kayla. "Itu, Mama dan Papa datang!" Terdengar suara lirih Bia sambil menggoyangkan tangan Nendra, membuat Lingga tersenyum
Naya terkekeh mendengar godaan Lingga, kemudian mendorong kursi roda suaminya menuju kamar, "Bukan kamu yang menyeret ku, Mas, tapi aku yang meyeretmu!" Lingga tertawa mendengarnya, "Baiklah, aku pasrah padamu, Sayang!"Tawa keduanya memenuhi rumah yang dulu dingin di awal pernikahan itu, menghangatkan dan mengukir kembali asa yang pernah lebur. Seolah ingin mengganti semua rasa sakit menjadi kebahagiaan saja. Naya membersihkan suaminya, menggantikan dengan pakaian tidur, kemudian berganti dirinya yang mandi cukup lama untuk sekedar me time. Setelah seharian lelah mengurus kedua anaknya dan suaminya, berendam air hangat cukup merilekskan tubuhnya, mumpung kedua anaknya diangkut oleh sang ibu. Sedangkan Lingga sudah duduk di balkon dengan dua gelas hot chocolate buatan mbok rum lengkap dengan cookies home made. Menunggu istrinya yang sudah ijin untuk berendam lebih lama, Lingga sendiri sengaja memberikan waktu karena istrinya pasti sangat lelah seharian. Cukup lama, sekitar satu
Lingga seakan memiliki harapannya lagi, merasa dirinya harus sembuh untuk kedua anaknya dan juga Naya. Naya benar-benar menyulut semangat Lingga, dan Naya kembali memeluk suaminya penuh dengan haru, melihat suaminya memiliki semangat hidup membuatnya sangat bahagia. 'Bahkan jika kamu tak bisa jalan sekalipun selamanya, aku akan tetap bangga memilikimu, Mas!' batinnya. Bersamaan dengan itu, Bu Btari masuk kembali ke dalam kamar menggendong bayi mungil itu sambil menggandeng tangan kecil cucu pertamanya yang baru tiba, "Peluklah Papamu, kau pasti rindu kan?" titahnya. Membuat Naya dan Lingga terpaku melihat putranya sudah berlinang air mata menatap sang ayah. Sontak Lingga merentangkan tangannya, dengan mata penuh kerinduan melihat putranya yang terlihat jauh lebih besar, dengan gaya pakaian yang berbeda dan juga rambut yang berwarna pirang. Sedikit banyak, Lingga tau yang putranya rasakan, membuat Lingga tak bisa menahan matanya yang sudah basah, "Kemarilah jagoan, Ayah rindu!"
"Mas!" lirih Naya masih terus mengusap wajah suaminya, "Aku menanti delapan bulan untuk bisa berbincang dengamu, aku habiskan hari-hari dengan rasa bersalah! Dengan penyesalan! Jika bisa aku ingin menukar dunia ini dengan bangunmu kembali bukan untuk perceraian!" lirih Naya dengan lelehan air mata. Hatinya tak sanggup mendengar ucapan rendah diri itu dari suaminya, segala penyesalan, semua sakit suaminya, Naya lebih dari sakit. "Naya yakin Mas akan cepat sembuh, bisa jalan lagi! Hanya butuh waktu, Mas ... Mas juga belum menepati janji akan ke Barcelona dengan Nendra! Seperti keinginan Nendra, mari bangun rumah tangga kita lagi, jangan menceraikan Naya, Mas!" pinta Naya. Persetan dengan harga diri, nyatanya kehilangan Lingga begitu menghantam hatinya, begitu memporak-porandakan hidupnya, memporak-porandakan hati putranya juga. Jika permohonan Lingga delapan tahun lalu Naya tolak, kini permohonannya, akan Naya pastikan tidak akan tertolak. Namun, bukannya menjawab, Lingga justru ke
Lingga sontak membalik keadaan, kemudian menangkup wajah Naya, "Aku tau, kau menderita selama ini, maafkan aku! Aku tak tau, berapa ribu air matamu yang sudah jatuh!" Menatap luasnya netra hitam Naya yang begitu menenggelamkan, "Yang aku tau, sangat berat harus hidup sendiri dengan Nend
"Dengan cara apa? Memperkosaku lagi seperti dulu? Begitu!" ketus Naya pada Lingga. Naya tidak ingin lemah! Bersama Lingga adalah luka yang tak pernah mau Naya sentuh lagi. Semuanya menyakitkan. "Ya, Jika itu diperlukan! Aku akan menarikmu ke ranjangku!" kesal Lingga.
Naya melihat, sebuah foto terpajang besar di sebelah almari kabinet, Naya menarik satu sudut bibirnya, 'Dia pasti sengaja memajang foto pernikahan untuk mempengaruhi aku! Maaf, Mas, aku tidak terpengaruh sama sekali!' batinnya sambil memutar pandangannya di setiap sudut ruangan yang terlihat nyam
Naya selalu saja kalah jika putranya itu sudah memasang wajah sedih. Hatinya seolah hancur melihatnya. "Yuk, berangkat!" ajak Naya setelah membersihkan piring bekas mereka berdua makan. "Let's go, Mama!" jawabnya sambil menggengam tangan Naya, "Benarkan bahasa Inggris, Ne


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.