LOGINYanti, mereka menyebut dan memanggilku. Banyak sekali teman laki- laki yang mendekatiku. Kurang tahu apa yang menjadi pesona untuk mereka mendekatiku. Begitu pun aku, aku sangat mudah jatuh cinta. Bagiku ganti- ganti pacar bukanlah suatu masalah. Yang penting kelak saat aku menikah, Cintaku hanya untuknya seorang, begitu dulu aku sering sesumbar. Beda halnya dengan kini, cinta? Bahkan aku muak memikirkannya jika tidak di paksa-paksa oleh mama dan papa. Takut jika aku terlalu asyik kuliah dan berkarier dan aku menjadi perawan tua.
View More"Mommy!"
Seorang bocah laki-laki tiba-tiba saja sudah menarik-narik celana kulot yang dipakai oleh seorang gadis yang sedang sibuk memakan es krim miliknya.Gadis yang masih berusia 20 tahun, dan duduk di bangku kuliah semester tujuh itu membelalakkan matanya menatap bocah itu, sedangkan tiga sahabatnya saling menatap lalu tertawa karena gadis tiba-tiba saja dipanngil 'Mommy' oleh bocah laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya."Hey, aku bukan Mommy kamu.""Mommy, es krim!" ucapnya memandang berbinar ke arah tangan gadis itu yang sedang memegang es krim."Hn? Anak siapa nih?!" Gadis cantik yang memiliki tubuh kecil, netra berwarna coklat, bibir juga hidung mungil, serta kulit putih itu terlihat gelagapan. Karena tiba-tiba ada bocah laki-laki yang menghampirinya, bahkan memanggilnya 'Mommy'"Anak kamu lah! Wayo Sya, anak sama siapa?""Astaga! Emang aku keliatan udah ibu-ibu apa?""Mommy!”Rengekannya kembali terdengar, kali ini mata bocah itu sudah berkaca-kaca, menampilkan puppy eyesnya."Sstt, eum iya ini—" Disya memangku bocah kecil itu, lalu dia memberikan es krim yang sedang dipegangnya. Disya merasa kasihan ketika bocah itu merengek—dan wajah lucunya—ah mana mungkin Disya setega itu untuk tidak memberikan es krim miliknya?"Makasih Mom," ucapnya mencium pipi kanan Disya. Gadis itu langsung membelalakkan matanya, begitu juga dengan ketiga sahabatnya."Astaga! Beneran anak kamu Sya?" pekik Alya, salah satu sahabat Disya yang sedang duduk di sampingnya.Disya menggeleng cepat. Sahabatnya dan ia celingukan menatap sekeliling caffe. Namun, sepertinya tidak ada yang kehilangan anaknya, semuanya terlihat biasa. Ada yang mengobrol, fokus dengan laptop, atau ponselnya. Di antara mereka tidak ada yang berekspresi seperti kehilangan anaknya."Kai, Daddy mencarimu kemana-mana. Daddy sudah bilang 'kan tunggu Daddy," seorang lelaki menghampiri meja mereka dengan gurat khawatir tampak jelas di wajahnya menatap bocah laki-laki yang ada dipangkuan Disya.Disya yang melihat lelaki di depannya langsung menatapnya tanpa berkedip, saking Disya terpesona dengan lelaki itu, mulutnya sampai sedikit menganga. Lelaki di depannya sangat tampan, hidung mancung, halis tebal, bola mata berwarna hazel, rahang tegas, juga kulit putihnya.Semuanya terlihat sempurna!"Sya, mulut kamu!" bisik Alya, menyikut lengan Disya untuk kembali menyadarkan gadis disampingnya.Disya menggeleng pelan, mengatupkan bibirnya segera, lalu berdehem kecil untuk kembali bersikap normal."Dan kenapa kamu memakan es krim? Daddy melarangnya bukan?" Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah Disya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam."Kamu yang kasih?" ketusnya."Hah?" Disya cengo.Yang benar saja? Bocah laki-laki ini yang tiba-tiba datang dan memanggil Disya dengan sebutan 'Mommy' dan dia juga yang meminta es krimnya, Disya tidak bisa menolaknya bukan? Bisa saja dia menangis nanti, lalu apa kata orang-orang? Bukankan orang-orang akan menatapnya sinis karena membuat seorang bocah menangis yang bisa saja tangisannya akan membuat para pengunjung merasa terganggu?Kenapa juga lelaki itu seperti memarahi Disya?Mengambil es krim yang sedang dipegang bocah laki-laki yang di ketahui bernama Kai, lalu menyimpannya kembali di atas meja. "Ayo kita pulang!" ajak lelaki jangkung yang masih berdiri di dekat meja Disya.Kai memanyunkan bibirnya lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia malah melingkarkan lengannya di leher Disya, memeluknya erat."Ayo Kai!" Lelaki itu masih mencoba membujuk Kai."Mommy," rengek Kai menelusupkan wajahnya di dada Disya. Tangan Disya dengan refleks mengusap kepala bocah laki-laki itu lembut."Tidak Kai, dia bukan Mommy." Lelaki tampan itu mencoba memangku Kai dari pangkuan Disya, namun Kai tetap tidak mau melepaskan pelukannya.Semua pengunjung caffe kini menatap ke arah meja mereka, seolah ingin tau apa yang sedang terjadi. Jelas saja beberapa pengunjung yang rasa ingin tahunya tinggi itu memperhatikan mereka. Tidak ada yang bisa ketiga sahabat Disya lakukan selain ikut menonton memperhatikan."Dadd—eum... maksudnya Pak, biarin aja Kai di sini sama saya, ngga papa kok.""Tidak! kami harus pulang!""Ayo!" Disya menganguk semangat, lalu dia berdiri dari duduknya. Lagi-lagi ketiga sahabatnya melongo melihat tingkah Disya, begitu juga dengan lelaki itu. "Saya sama Kai, bukan saya, Kai, sama kamu!" ketusnya dengan nada tidak bersahabat sama sekali, tatapan tajam yang sedari tadi tertuju pada Disya bahkan tidak luntur juga sampai detik ini. Seolah lelaki itu memang tidak suka dengan Disya."Devan!"Lelaki tampan itu menoleh, seoarang perempuan paruh baya berjalan dengan langkah cepat menghampiri meja mereka."Oma!""Mommy." Kai memeluk leher Disya erat, seolah ia memberi tahu kepada perempuan paruh baya yang sudah berdiri di samping lelaki jangkung itu, bahwa Disya adalah Mommynya."Hah?" Maya—nama perempuan paruh baya itu terlihat melebarkan matanya mendengar ucapan Kai. Menatap Disya lalu menggeleng pelan. "Tidak, Kai. Ini bukan Mommy," lanjutnya kembali menatap Kai.Maya akhirnya membujuk Kai untuk turun dari gendongan Disya, ia juga meminta maaf kepada Disya karena ulah Kai yang mengira ia Mommynya. Setelah sekian lama dibujuk, akhirnya Kai mau melepaskan diri dari Disya. Walaupun harus dibohongi jika nanti mereka akan bertemu lagi.Disya berjinjit mendekatkan wajahnya ke telinga Devan. "Daddy," bisik Disya lalu menampilkan senyumnya."Ck! Gadis kecil!" cibirnya menatap Disya tajam, lalu dia berjalan menyusul Maya juga Kai yang sudah keluar dari caffe.Disya langsung terduduk kembali di kursinya lalu dia memegang dadanya."Ganteng banget!" pekik Disya heboh."Aku siap jadi Mommy kamu Kai," ucap Disya lagi."Fix! Aku harus ketemu lagi sama Kai, kalo perlu aku culik dia. Biar Daddynya jadi suami aku!""Setres! Kalo dia udah punya istri gimana?" tanya Fani yang membuat Disya langsung terdiam untuk sesaat. Sedikit menyadarkan Disya juga tentang ucapan dan niatnya yang akan menjadikan Devan suaminya.Disya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, lalu memejamkan kedua matanya, sedikit membenarkan posisi duduknya, lalu menengadahkan kedua tangannya di depan dada. "Ya Tuhan! Jodohkanlah hamba dengan Pak Devan, kalo Pak Devan masih ada istri, bunuh saja istrinya!""Astaga, Disya omongan kamu ih!" pekik ketiga sahabatnya berbarengan. Mereka tentu saja syok mendengar ucapan sembarangan yang diucapkan Disya beberapa detik yang lalu."Sejak kapan kamu jadi suka sama om-om hah?!" tanya Yumna, mengernyitkan keningnya melirik Disya. Tidak salah 'kan ucapannya yang mengatakan lelaki bernama Devan yang baru beberapa menit yang lalu meninggalkan caffe itu disebut om-om? Usianya jelas pasti sangat jauh dengan mereka."Sejak hari ini!"~✧✧✧~Lima hari lagi aku akan melahirkan Juniorku, dokter bilang sih calon anak aku dan Mas Rafi laki-laki, duh bahagianya, sekian lama menanti dan berusaha sekuat tenaga mengandung Junior yang di bilang sangat manja saat dalam kandunganku. Mas Rafi telah membelikan segala perlengkapan dan kebutuhan untuk bayiku, mulai dari popok bayi, kasur bayi, sepatu bayi semuanya bernuansa biru dan sampai mas Rafi sendiri yang selama ini membuat dan menyiapkan kamar bagi Junior, sang buah hati kami. Setiap sebelum tidur Mas Rafi selalu menciumi bayi kami di perut, tendangannya sudah kuat sekali. Duh mama sudah keram sayang perutnya. Begitu pun mama dan papaku, sudah ingin menimang-nimang cucu kesayangan mereka. Mereka sudah pada menungguiku di sini, begitu pun mertuaku mungkin lusa mereka sampai dari Jakarta, papa mertuaku masih sangat padat kerjanya. Aku sudah tidak nyaman sekali, perut sudah mulai sakit, kaki sudah makin terasa bengkak, dan susah tidur di kala malam. Hamil pertama membuat a
Pagi ini Mas Rafi bergegas pergi ke kantor, setelah selesai memakaikan dasi aku pun bergegas menyiapkan sarapan, aku memasak nasi goreng sosis dan jus tomat kegemaran mas Rafi. Suamiku tampak sibuk memilih dan menyiapkan berkas-berkas kantornya. Dan aku pun sama, menyiapkan segala keperluanku untuk pergi ke kantor dengan mas Rafi. "Sayang." "Iya Mas Rafi, tolong simpankan berkas dan tas kerjanya Mas ke mobil ya."
Mas Rafi ternyata suami yang romantis, diam-diam dia telah membuat acara bulan madu untuk kami. Ya, sesuai janjinya tadi sore ini dia pamit kepada mama dan papaku untuk membawa aku pindah. Mama dan papa sedikit haru melepas kami. “Yanti, Nak Rafi hati-hati ya, Mama selalu mengharap kalian untuk selalu mampir dan menginap di sini.” “Iya Ma, Aku dan Yanti akan sering-sering main kesini.” “Ya, Yanti yang nunut ya dengan Mas Rafi.” “Iya Pap.” “Semoga kalian cepat memperoleh keturunan, dan Nak Rafi bisnisnya sukses. Nanti kelak Nak Rafi dan Yanti juga pegang perusahaan Papa ya.” “Iya Pap.” “Ya sudah, Papa, Mama, Rafi dan Yanti pamit dulu ya.” “Iya Sayang.” Ternyata, setelah mobil kami meninggalkan pekarangan rumah mama, Mas Rafi menjelaskan jika dia mengajakku liburan satu minggu di Puncak, Bogor. Ya tidak usah terlalu jauh dari Jakarta tapi sudah membuat aku sangat senang. Ternyata benar, dia mengajak
Bab 11 Pagi ini aku bangun lebih awal, aku pun melanjutkan prosesi mandi kembang sebagai calon pengantin. Tante Nana sangat cekatan dan sangat profesional dalam mempersiapkan segala kebutuhanku sebagai pengantin. Dia memakaikan aku baju dodot, dan memulai riasan paes agengku. Aku terpukau saat menatap wajahku di cermin, aku bagaikan ratu sehari ini. Tante Nana membuat paes prada, citak dan alis menjangan dalam riasanku, sungguh hasil riasan yang sangat mengagumkan sekali, aku sangat terlihat berbeda. Kemudian Tante Nana pun memasangkan aksesoris lainnya, cunduk mentul, gunungan dan centrung sebagai hiasan di rambutku, serta sumping, kalung sungsun, kelat bahu yang berbentuk naga serta gelang paes ageng. Sempurna sudah riasanku hari ini sebagai pengantin. Tampak hadir sahabat-sahabatku, ada Kiki, Maria, Catur, Erfina, Lina, Ria, Caca dan Tika. mereka sudah tampak cantik dengan riasan kebayanya. Hatiku mulai gelisah, takut dan haru, ternyata seperti ini rasanya
Tidak sengaja, aku mendengarkan perkataan papa dan mama di telepon. Tampaknya obrolan itu sangat serius, aku pun melanjutkan langkahku menuju dapur, panas sekali hari ini, dan aku ingin mengambil jus yang segar dari dalam kulkas. "Oh iya Mas, baik Mas boleh kalau malam minggu
Yanti, Yanti mungkin kah aku jatuh cinta lagi, beberapa hari ini, Surya sering menghubungiku, seraya menelepon saja atau curhat melalui pesan-pesan singkatnya. Lumayan menghibur dan asyik Surya jika aku ajak mengobrol. Sore ini, aku akan bertemu teman-teman kampus dahulu, sembari mengorek-ngorek
Persiapan pernikahan kami semakin gencarnya. Mama, Papa, tante Rini dan om Baskoro tampak sibuk ke sana dan kemari. Tak terasa hanya seminggu lagi aku akan menikah dengan Mas Rafi, keluarga kami masih sangat memegang adat istiadat aku akan di pingit satu minggu hanya di dalam rumah saja, tidak bo
Pagi ini hari seakan indah sekali, sebelum mandi dan mempersiapkan diriku aku pun memilih gaun yang akan aku pergunakan. Satu gaun warna merah, yang sederhana ini tampak cantik jika aku kenakan untuk pergi bersama Mas Rafi. Aku memotong kuku, kemudian aku luluran dahulu sebelum mandi. Ya ampun ke


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews