LOGINAksa Wirasena adalah seorang Lurah (Kepala Desa) muda yang di pilih secara langsung oleh warga Desa Tirto Wangi. Desa Tirto Wangi adalah salah satu desa yang ada di pelosok daerah. Berkat usaha keras dari Lurah mereka, perlahan Desa tersebut mulai banyak kemajuan terutama pada bagian fasilitas umumnya. Adat istiadat di Desa Tirto Wangi pun masih terbilang cukup kental. Suasana khas pedesaan dengan warga yang sangat ramah, hangat dan selalu saling tolong - menolong dan saling menjaga, membuat Desa terpelosok itu terkenal sebagai wilayah yang aman dan tentram. Kinanti Malayeka, adalah salah satu pendatang di Desa Tirto Wangi. Ia adalah ASN baru yang di tempatkan di Puskesmas yang ada di Desa Tirto Wangi. Kinanti adalah satu - satunya Dokter yang bertugas di sana. Ia terkenal sebagai Dokter yang sangat ramah, cekatan dan juga telaten hingga menjadi Dokter kesayangan warga. Walaupun tinggal seorang diri dan jauh dari keluarga karena pekerjaannya, namun Dokter Kinan tetap merasa aman dan nyaman tinggal di Desa Tirto Wangi. Keberadaan Dokter Kinan sendiri cukup menarik perhatian Pak Lurah Desa Tirto Wening yang kebetulan adalah anak pemilik rumah yang di sewa oleh Dokter Kinan. Seiring berjalannya waktu. Hubungan mereka menjadi semakin dekat hingga membuat Aksa jatuh cinta pada Dokter cantik itu. Apakah Aksa berhasil meraih hati Kinanti? Apakah hubungan asmara mereka berjalan dengan lancar, atau justru banyak halangan?
View MoreAksa melangkahkan kaki lebih cepat saat melihat orang - orang yang sedikit berkerumun di tempat terakhir ia bersama Kinan. Hatinya sedikit was - was dan berharap bukan kekasihnya yang menjadi sumber kerumunan. Namun, harapannya sirna kala tubuh tingginya menangkap keberadaan Kinan di tengah - tengah sana. Langkahnya pun kian lebar kala mendengar makian kasar seorang wanita. Aksa segera menerobos kerumunan itu dan langsung berdiri di samping Kinan. "Ada apa ini?" Tanya Aksa dengan suara tegas sambil menatap tajam ke arah pria dan wanita di hadapannya. Sementara Kinan langsung menoleh ke arah Pria yang berdiri di sampingnya. "Mas..." Lirih Kinan hampir tak terdengar. Gadis cantik itu langsung memeluk pinggang Aksa saat Aksa merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan. "Iya, Mas disini, Sayang. Maaf ya, Mas agak lama." Ujar Aksa sambil mengusap - usap kepala belakang Kinan. "Ada apa, Dek? Kok ada dia di sini?" Tanya Aksa. "Gak tau, Mas. Dia tiba - tiba nyamperin aku." Jawab Kinan sambi
"Kinan..." Suara seseorang memanggilnya. Kinan pun secara refleks langsung menoleh saat mendengar namanya di panggil. Namun, ia terkejut saat melihat siapa yang sudah memanggilnya. "Faris..." Lirih Kinan hampir tanpa suara saat mendapati pria berbadan tegap itu sudah berdiri di dekatnya. "Kinan tunggu!" Faris menahan keranjang belanja Kinan saat gadis itu hendak pergi untuk menghindar. "Jangan mendekat, Faris!" Tegas Kinan dengan raut wajah sedikit panik. Tentu saja ia masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu di Kantor Dinas Kesehatan. "Aku rindu kamu, Kinan. Allah menjawab doa ku, kita ketemu lagi di sini." Ujar Faris dengan wajah bahagia. "Sadar diri, Ris! Kamu sudah menikah dan aku gak ada urusan lagi sama kamu." Ujar Kinan dengan tegas. Kinan terus berusaha mengatasi rasa takutnya sembari berharap agar Aksa cepat kembali. "Awas, Ris. Aku mau pulang." Kata Kinan sambil berusaha menarik keranjang belanjanya yang di tahan Faris. "Kinan, ayo kita mengobrol dulu. Aku be
"Waah... Wahh... Mas, ini beneran bagus banget." Kata Kinan dengan takjub saat melihat taman bunga di hadapannya. Ratusan macam jenis bunga yang berwarna warni, tumbuh dengan indah di taman itu. Tak hanya itu, bunga - bunga itu di susun membentuk beraneka ragam bentuk seperti love, bintang, dan lainnya. Di sana juga ada sebuah terowongan yang di tutupi oleh bunga air mata pengantin. Pemandangan yang sangat indah itu, tentu tak mungkin di lewatkan begitu saja. Mereka berdua nampak mengambil beberapa foto berdua di taman bunga itu. "Mas nemu tempat kayak gini dari mana? Tapi kok sepi sih, Mas?" Tanya Kinan. "Sepi lah, Dek. Ini kan belum di buka untuk umum. Kebetulan Mas kenal dengan pengelola taman ini dan pernah lihat postingan dia." Jawab Aksa. "Jadi bakal di buka untuk umum?" Tanya Kinan. "Njih, Sayang. Makanya Mas buru - buru ajak kamu ke sini, sebelum rame pengunjung nantinya. Walaupun harus via orang dalam." Kekeh Aksa. "Whooaa, makasih ya, Mas. Effort banget sih, P
"Mau kemana, Mas?" Tanya Kinan pada pria di sebelahnya yang sedang mengemudikan mobil. "Kencan, Sayang. Kita kan gak pernah kencan." Jawab Aksa. "Ya maksudnya kemana gitu perginya?" Tanya Kinan. "Ke lokasi yang bagus. Kamu pasti suka nanti." Jawab Aksa. "Mas ini aku gak kebanting kan kalo jalan sama Mas?" Tanya Kinan yang sedikit insecure. "Enggak lah, Dek. Kebanting gimana? Kamu cantik gini, tanpa make up juga memang dasarnya cantik." Jawab Aksa. Memang benar apa yang di katakan Aksa kalau Kinan itu cantik walaupun tanpa make up atau riasan apapun di wajahnya. Wajahnya memang tak membosankan saat di pandang. "Ini jauh tempatnya, Mas?" Tanya Kinan yang nampak tak sabar. "Lima belas menit lagi, Dek." Jawab Aksa. "Mas..." "Dalem, Sayang." "Aku mau nanya sesuatu, boleh?" Tanya Kinan. "Boleh lah, Dek. Mau tanya apa memangnya?" Kata Aksa. "Bangunan yang lagi di bangun di sebelah Bengkel itu, punya Mas?" Tanya Kinan penasaran. "Njih, Sayang. In Syaa Allah itu nan
Udara pagi di desa benar - benar terasa segar. Kinan menghirup udara dalam - dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Waaah, emang mahal sih udara bersih kayak gini." Kata Kinan. "Seger ya, Bu Dokter?" Terdengar suara seorang pria yang menegurnya. Kinan celingukan mencari keberadaan sumber sua
Hari sudah sore ketika zoom meeting yang di ikuti Dokter Kinan selesai. Wanita cantik itu melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh sore. Awan mendung yang tebal, membuat suasana sore itu makin terasa sunyi. "Astaghfirullah, gelep banget mendungnya." Lirih Kinan sambil buru
Setelah selesai dengan penyuluhan, di hari pertama itu Kinan di sibukkan dengan memeriksa daftar peralatan yang ada di Puskesmas. Ia memeriksa semua peralatan yang masih bisa di gunakan juga yang sudah tak bisa di gunakan lagi. Kinan juga mencatat peralatan penting yang belum ada di Puskesmas. "Bu
Para staf Kelurahan memperhatikan Kinanti ketika Dokter cantik itu sampai. Kinan sendiri hanya bisa tersenyum canggung saat netranya saling bertemu dengan staf Kelurahan. Wajah cantik Dokter Kinanti lah yang tentu saja menjadi daya tariknya. "Aduh, aku malu jadi pusat perhatian gini." Lirih Kinant


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.