LOGINเรียกข้าว่าพระสวามีสิ อย่าเรียกเสด็จอา มิเช่นนั้นข้าไม่หยุดเพียงรอบเดียวแน่เยว่ซิน!! มาอีกแล้วค่าๆๆๆ เรื่องใหม่อุ่นๆ (พร้อมอุ่นเตียง อั๊ยย...) ท่านอ๋องคนที่ 3 ออกแนวเสด็จอาที่อายุน้อย เรื่องนี้พระเอกเป็นเสด็จอาของนางเอก แต่อายุต่างกันแค่ 8 ปี ส่วนที่มาที่ไป...ก็ต้องติดตามกันนะคะ ท่านอ๋องของเราขี้หวงหลานสาว(ปลอมๆ)ของตัวเองม๊ากกกก หวงแหละ แต่ปากแข็ง เรื่องความรักที่ดูเหมือนจะง่าย แต่.... .....เรื่องมันไม่ได้ง่ายๆแบบนั้นน่ะสิ มีทั้งมือที่ 3 4 5 ไหนจะเรื่องสาเหตุการตายของพ่ออีก ติดตามต่อได้ในเรื่องเลยจ้า...... บอกไว้ก่อนว่าทั้งเรื่องมีแต่เรื่องรักๆใคร่ๆ ไม่ดราม่านะคะ
View MoreMalam itu, Naina menghadiri pesta ulang tahun teman kuliahnya. Sebenarnya ia malas datang, karena ia sendiri dalam kondisi badmood, habis bertengkar dengan kakak angkatnya.
Brillian, kakak angkatnya menyatakan cintanya secara tiba-tiba. Ia langsung menolaknya. Menganggap Brillian sudah gila, karena ingin menjalin hubungan dengannya.
"Sial! Dia benar-benar sudah gila. Apa yang sudah terpikir di otaknya. Bisa-bisanya dia menyatakan cintanya padaku. Apa di dunia ini tidak ada perempuan lain. Yang benar saja!" Naina mengambil minuman di atas meja. Ia tidak peduli minuman itu milik siapa. Dalam keadaan kesal, ia langsung menenggaknya hingga tandas.
Pikirannya kacau dan tidak tenang. Ia memutuskan untuk pulang. Karena percuma saja, berkumpul dengan teman-temannya, namun hatinya tidak tenang.
"Kamu mau ke mana, Na?" tanya teman-temannya yang masih bercanda ria di pesta.
"Aku mau pulang," jawab Naina singkat.
"Loh! Kok buru-buru. Apa perlu kuantar?" Doni, teman kampusnya menawarkan diri untuk mengantarkannya.
"Tidak perlu! Terimakasih."
Naina langsung melenggang pergi pulang ke rumahnya, dengan menggunakan jasa taksi online.
Tidak lama ia tiba dirumahnya. Ia merasakan panas yang menyerang tubuhnya. Padahal malam itu, udara cukup dingin.
"Hey! Ada apa denganku. Kok, jadi pusing gini. Kenapa tubuhku jadi panas gini, ya?" Naina mengusap dahinya yang dipenuhi oleh keringat. Ia sampai melepaskan pakaiannya di ruang tamu.
Kepalanya pening, ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa kepalaku pusing banget sih. Perasaan tadi baik-baik saja. Apa aku tadi salah makan? Bahkan tadi aku tidak makan apapun di pesta. Aku hanya minum air mineral saja. Apa mungkin, minum air saja membuatku pusing. Aneh."
Naina bergumam sendiri dengan memijit pelipisnya. Ia memutuskan untuk istirahat di sofa. Karena jika ia berjalan ke kamarnya sendiri, takut terjatuh.
***
Di tempat lain, tepatnya di bar. Brillian frustasi karena cintanya ditolak oleh Naina. Ia melampiaskan emosinya dengan meminum Vodka. Tidak mungkin ia melampiaskan kekesalannya itu pada Naina.
Sedari kecil ia sudah jatuh cinta pada Naina. Namun ia memendam perasaannya sendirian. Naina adalah anak panti asuhan yang diadopsi oleh orang tuanya. Merasa dia bukan adik kandungnya sendiri, ia tidak mempermasalahkan jika ia menjalin hubungannya. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Naina menolaknya mentah-mentah.
"Sial! Cewek sombong itu benar-benar sial! Bisa-bisanya dia menolakku. Apa sih, kurangnya aku ini. Bahkan apapun yang dia minta, aku selalu menurutinya."
Ia memijit kepalanya yang berdenyut nyeri. Dua botol Vodka telah tandas ditenggaknya. Cukup lama menghabiskan waktunya di bar, ia langsung beranjak dan membayarnya pada bartender. Ia memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.
Setibanya di rumah, ia melihat Naina yang tengah duduk di sofa. Melihat Naina yang hanya menggunakan tank top, ia meneguk ludahnya.
'Naina ...? Apa yang dia lakukan. Kenapa dia belum tidur.' Dengan sedikit kesadarannya, ia bergegas menghampiri Naina di sofa. Walaupun ia sudah sakit hati atas penolakan Naina, tapi ia juga tidak menaruh kebencian padanya.
"Na ...! Ngapain tidur di sofa. Pindah ke kamarmu, sana!"
Mendengar suara Brillian, ia langsung membuka matanya. Ditatapnya wajah Brillian yang tampan, membuatnya terpesona.
Ia pun menarik tangan Brillian, hingga membuatnya terjatuh mengungkungnya di sofa.
Detak jantung Brillian seakan mau lepas. Melihat tubuh Naina yang terekspos putih, membuat jiwa laki-lakinya tidak terkendalikan. Apalagi ia sangat terobsesi pada gadis itu.
"Kak Lian ...! Peluk aku. Naina mengeratkan pelukannya di pinggang Brillian. Ia nampak buas. Menginginkan lebih dari sekedar pelukan.
Brillian tercengang, Naina terlihat nampak Liar. Walaupun ia dalam setengah sadar, ia bisa merasakan, Naina butuh belaian kasihsayang.
"Apa kau menginginkan lebih dari sekedar pelukan, sayang? tanya Brillian berbisik ditelinganya.
Naina mengangguk. Tidak berucap, namun Brillian mengerti. Naina telah menginginkannya.
Brillian tersenyum. Ia mengusap pipinya dengan berbisik lirih. "Baiklah. Malam ini ... Aku akan memuaskanmu!"
Kesempatan emas yang dinanti-nanti, akhirnya datang. Walaupun keadaannya tidak sadar, tapi ia bisa merasakan kebahagiaan bersama gadis yang sangat dicintainya.
Brillian langsung membopongnya menuju kamar dengan berjalan sempoyongan. Setibanya di dalam kamar, ia merebahkannya di ranjang. Meninggalkan semua pakaiannya yang dikenakannya, dan langsung menindihnya.
"Malam ini ... Aku akan membawamu menikmati surga dunia, sayang."
***
Suasana menjelang pagi, udara semakin dingin. Naina mulai terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sangat pening, tubuhnya terasa berat dan kaku.
Ia masih belum sadar dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Perlahan ia menyibakkan selimutnya, dan begitu terkejutnya ia ketika mendapati tubuhnya polos tanpa memakai pakaian.
Seketika itu, ia menjerit sekeras-kerasnya. "Argh ...! Tidak. Apa yang sudah terjadi padaku."
Naina benar-benar syok melihat keadaannya yang sudah acak-acakan. Terlihat jelas bercak darah segar yang menempel di spreinya.
Menoleh ke sampingnya, ia mendapati kakak angkatnya yang tertidur pulas dalam keadaan sama-sama polos tanpa memakai sehelai benang pun.
Ia langsung mengumpati kakaknya dengan kasar. "Brillian berengsek! Apa yang sudah dia lakukan padaku!" Dadanya bergemuruh panas. Sangat menyesal, Brillian tega mengambil kesuciannya.
Hampir tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi padanya. Ia menatap darah segar, yang pastinya, ia tidak tengah datang bulan. Mendapati Brillian yang sama-sama polos, membuatnya yakin, Brillian sudah menodainya.
'Tidak ... Ini tidak mungkin.' Naina menjambak rambutnya frustasi. Tubuhnya gemetar, masih syok melihat keadaannya saat itu.
Ia bahkan tidak bisa mengingat apapun, tentang kejadian yang sudah dialaminya.
Sekelebat, ia mengingat, malam itu datang ke pesta ulang tahun teman kuliahnya. Tapi setelah itu ia memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, ia tidak bisa mengingat apapun.
"Apa dia balas dendam padaku, karena aku sudah menolak cintanya? Tapi kan memang tidak salah, jika aku menolaknya. Walaupun kita terlahir bukan sebagai saudara kandung, tapi kan, aku sudah diadopsi oleh keluarganya. Bagaimana mungkin aku menjalin hubungan dengannya. Apakah aku pantas, menjalin hubungan dengan orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri."
Naina sangat sedih menyesali sikap Brilian yang sudah melakukan perbuatan tidak senonoh padanya. Ia memang sengaja menolak cinta Brilian, karena tidak ingin menyakiti orang tua angkatnya yang sudah mengasuhnya dan memberikan kasihsayangnya sejak masih kecil. Bahkan ia belum pernah mendapatkan kasihsayang, atau bertemu dengan orang tua kandungnya sendiri.
Tatapannya beralih kembali pada Brilian yang masih pulas tertidur. Ia benar-benar tidak menyangka, kalau Brillian tega menghancurkan masa depannya.
"Kau sudah menghancurkan masa depanku, berengsek! Kau bukan manusia. Kau itu jelmaan binatang! Beginikah caramu membalas dendam padaku! Hanya karena aku menolakmu ... Kau tega menghancurkan hidupku. Aku benar-benar membencimu!"
Naina beranjak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan tubuhnya gemetar menahan ngilu di area sensitifnya, ia bergegas menuju kamar mandi.
Ia benar-benar dibuat sakit hati oleh sikap kakak angkatnya. Sejauh ini, ia mengenali Brillian sangat baik. Tapi ternyata, dibalik kebaikannya, tersimpan keburukan.
"Bagaimana kalau sampai Mama sama Papa tahu. Aku bisa mati dihajarnya." Naina menggelengkan kepalanya dengan menangis. "Tidak ... Mereka tidak boleh tahu."
Ia harus menyimpan rasa sakitnya sendirian. Tidak ingin kejadian itu didengar oleh orang tuanya. Ia tidak ingin mencemarkan aib dikeluarganya.
"Sekarang ... Apa yang harus aku lakukan. Hidupku sudah hancur! Tidak mungkin juga aku menikah dengannya. Aku yakin, Mama sama Papa tidak akan merestuinya. Lalu jalan apa yang harus kuambil?"
เมี่ยวเข่ออ้ายนิ่งไป นางรู้สึกตกใจราวกับว่าไม่ใช่เรื่องจริง ลี่หยางจินผู้นั้น คนที่เอาแต่พูดหลักการมากมาย บัณฑิตที่พูดแต่สิ่งที่นางไม่เข้าใจ บอกรักนางงั้นหรือ นางตกใจอีกครั้งเมื่อเขากระชับกอดเข้ามาพร้อมกับใบหน้าที่วางที่ไหล่ของนาง“เข่ออ้าย ข้ารักท่านจริงๆ เรื่องนี้มิได้โกหก แม้ว่าสิ่งที่ข้าพูดกับท่านก่อนหน้านี้จะร้ายกาจ แต่ที่พูดเรื่องเจ้ากับหย่งเล่อ เพราะว่าข้า…หึงเจ้า ไม่อยากให้เจ้าอยู่ใกล้กับบุรุษอื่น”เข่ออ้ายทำตัวไม่ถูก ลี่หยางจินผู้นั้น บัณฑิตน่ารำคาญนั่นบอกว่ากำลังหึงนางงั้นหรือ นี่เขาป่วยจนเพี้ยนไปแล้วใช่หรือไม่“นี่ท่าน เพ้อเพราะพิษไข้งั้นหรือ”“เรื่องที่ข้าป่วยเป็นเรื่องโกหก แต่เรื่องความรู้สึกของข้าเป็นความจริง เจ้าอย่าผลักใสข้าอีกเลยนะเข่ออ้าย”“นี่พวกท่าน…รวมหัวกันหลอกข้างั้นหรือ”“มันจำเป็น หากว่าครั้งนี้ไม่อาจคุยกับเจ้า ข้าก็ไม่มีโอกาสแล้ว ดังนั้น…”“ดังนั้นพวกท่านจึงใช้เรื่องนี้มาล้อเล่นกับความรู้สึกข้า มาหลอกข้า ท่านมัน…อุ๊บ…อื้มมม”ลี่หยางจินผลักนางลงที่เตียงและจูบนางทันทีเพื่อให้นางหยุดโมโห หากว่าเขาปล่อยนางไป ให้พบนางอีกครั้งคงยากแล้ว แผนแรกพูดไปแล้ว เหลือแค่แผนที
วังหลวงแคว้นฮั่วซู“องค์หญิง เอ่อ…กระหม่อม…”ลี่หยางจินเดินตามเมี่ยวเข่ออ้ายเมื่อเขาเดินออกมาจากห้องทรงงานของฝ่าบาทและจะเดินกลับไปยังตำหนัก ตั้งแต่ที่ทุ่งหญ้าเมื่อวานนี้พอกลับมาที่วังหลวง พวกเขาก็ไม่พบนางอีกเลย….“ท่านทูตเจ้าคะ องค์หญิงให้ข้าน้อยเรียนว่าวันนี้นางไม่ค่อยสบาย จึงไม่อยากรับแขกเจ้าค่ะ ขอเชิญท่านทูตกลับไปก่อนเถิดเจ้าค่ะ”“แต่ว่า…”“พี่ใหญ่ ท่านไปหาเข่ออ้ายมาอีกแล้วงั้นหรือ เหตุใดจึงไม่รอทำตามแผนการของข้าก่อนเล่าเจ้าคะ”“แต่เวลาอีกแค่สองวัน ข้าเกรงว่านางจะไม่ให้โอกาสข้าอีกแล้ว”“เฮ้อ….เช่นนี้แผนของพวกข้าก็ล่มหมดสิเจ้าคะ”“แผน แผนอันใดกัน”“เช่นนี้นะเพคะ…..”ตำหนักองค์หญิง“พี่เยว่ซิน พี่หลานเฟิน พวกท่านมาแล้ว”“เข่ออ้าย เหตุใดเจ้าดูซูบเช่นนี้เล่า เจ้า…อดอาหารงั้นหรือ”“เปล่าเจ้าค่ะพี่เยว่ซิน ข้าเพียงแต่….”“อดนอน…นี่เข่ออ้าย เจ้าจะป่วยอีกคนไม่ได้นะ ให้พี่จอมอ่อนแอของข้าป่วยแค่คนเดียวก็พอ อุ่ย…”“หลานเฟิน ไหนเจ้ารับปากพี่ลี่แล้วอย่างไรว่าจะไม่…”เข่ออ้ายตกใจเมื่อได้ยินว่าลี่หยางจินล้มป่วย“เกิดสิ่งใดขึ้น พี่หยางจินป่วยงั้นหรือ เหตุใดไม่เห็นมีผู้ใดมาแจ้งข้าเลย”"เข่ออ้ายเจ้าใ
ลี่หยางจินยืนเฝ้ามองที่ทุ่งหญ้าว่างเปล่านั้นเป็นเวลาเกือบสองเค่อ เมื่อมองออกไปอีกทีก็เห็นว่าองค์หญิงขี่ม้ากลับมาพร้อมกับม้าอีกตัว น่าจะเป็นม้าของฟู่หย่งเล่อ แต่ไม่เห็นอีกสองคน “องค์หญิง แล้ว…”“ไม่พบ แต่ไม่ต้องห่วง พี่ฟู่ไม่หลงทางหรอก”“แต่ว่าหย่งเล่อไม่เคยมาที่นี่”“ข้าพาเขามาขี่ม้าสำรวจเมื่อวันก่อน เขาบอกว่าจะมาหาที่ให้พี่หลานเฟินหัดขี่ม้า”“องค์หญิงเสด็จมากับเขาตามลำพังงั้นหรือ!!”เข่ออ้ายหันไปมองเขาอย่างนึกตกใจ เมื่อนางลงจากม้าและดื่มน้ำพักเหนื่อย เขาเดินตรงมาถามนางอย่างใคร่รู้จนนางเริ่มตกใจ“ท่านเป็นอะไรไป ข้าก็แค่พาเขามาสำรวจทุ่งหญ้าเท่านั้น”“แต่ชายหญิงห้ามอยู่ด้วยกันตามลำพัง เหตุใดท่าน…อย่าว่าแต่อยู่ด้วยกันเลย นี่ท่านกล้าพาเขาออกมาสองต่อสองในที่เช่นนี้ เหตุใดท่านจึงไม่ทำตัวเหมือนสตรี….”“พอที!!”“เลิกเอาข้าไปเปรียบเทียบกับสตรีในดวงใจของท่าน ข้าก็เป็นคนเช่นนี้อยู่แล้ว และเรื่องที่ข้าจะไปไหนกับผู้ใดก็มิใช่กงการอะไรของท่าน ขอตัวก่อน”“เดี๋ยว องค์หญิง เหตุใดท่านออกมากับคุณชายฟู่ กระหม่อมจึงไม่ทราบเรื่องนี้”เขาเอื้อมมือไปจับนางไว้พร้อมกับดึงเข้ามาถาม เมี่ยวเข่ออ้ายตกใจเมื่อเขาดึง
ฟู่หย่งเล่อและหลานเฟินกลับมายังที่พักม้า เข่ออ้ายและหยางจินรอพวกเขาอยู่ที่นั่น องค์หญิงนั้นนั่งอยู่ห่างจากหยางจินคนละทางเมื่อสาวใช้ตะโกนบอกว่าพวกเขามาถึงแล้ว“องค์หญิงเพคะ แม่นางกับท่านรองแม่ทัพมาถึงแล้วเพคะ”เข่ออ้ายรีบวิ่งไปที่ม้าของหย่งเล่อเพื่อรอพวกเขา หยางจินที่ยืนมองนางอยู่กำลังจะพูด แต่เข่ออ้ายหันมามองเขาและเดินเลี่ยงไปอีกฝั่งของม้าเมื่อหลานเฟินถูกอุ้มลงมาจากหลังม้าแต่นางเหมือนกับเดินไม่ไหวจนหย่งเล่อตัดสินใจอุ้มนางเดินมาหาพวกเขา“พี่หลานเฟิน เหตุใดเป็นเช่นนี้เกิดอะไรขึ้น!!”“เข่ออ้าย คือว่าข้า…”หลานเฟินนั้นไม่กล้าตอบ ใครจะกล้าพูดว่าฟู่หย่งเล่อรังแกนางจนนางเดินไม่ไหวจนเขาต้องอุ้มนางนั่งม้ามาด้วยกันเช่นนี้ แต่ฟู่หย่งเล่อนั้นเก็บอาการได้ดีกว่านางมากนัก เขาเป็นผู้เอ่ยขึ้นมา“นางตกม้าน่ะ ข้าไปช่วยเอาไว้ทันแต่ขานางยังเจ็บอยู่ ช้าไปมากเพราะมัวแต่เรียกและตามหาม้าอยู่” (ม้าบอกโบ้ยความผิดมาที่ตรูเฉยเลย พวกเอ็งนั่นแหละ)“เช่นนั้น ท่านไปนั่งรถม้าดีหรือไม่”“ดีเหมือนกัน”“ไม่เป็นไรพ่ะย่ะค่ะองค์หญิง หลานเฟินอยากจะขี่ม้า ให้กระหม่อมนั่งไปกับนางจะได้ช่วยสอนไปด้วย ไม่ต้องห่วงนะพี่ลี่”“เอ่อ น้
หญิงสาวได้แต่เดินไปโดยไม่ได้ตอบเขา เมื่อเห็นว่านางไม่ตอบ ผู้เป็นเสด็จอาจึงได้รั้งแขนนั้นเอาไว้ บัดนี้ดูเหมือนนางจะไม่ใช่เด็กสาวในวัยเยาว์ที่เขารับมาจากเมืองเหลียงอีกต่อไป หากแต่ตอนนี้นางเติบโตเป็นสตรีเต็มวัยที่สามารถออกเรือนได้แล้ว ความเปลี่ยนแปลงนี้ทำให้เขารู้สึกไม่สบายใจแปลกๆ“เจ้ายังไม่ตอบข้าเล
เสียงฮือฮาดังขึ้นเมื่อหลันเยว่ซินพูดจบ มีเสียงหัวเราะเกิดขึ้นโดยรอบแม้แต่ท่านอ๋องและจงลี่เองก็อดขำไม่ได้ คำนี้ดูจะเหมาะกับชายคนนี้เสียจริงหวังเสิ่นอี้ไม่พอใจและรู้สึกเสียหน้าอย่างมาก เขาเงื้อมือขึ้นมาจะตบนาง เยว่ซินเองก็เตรียมอาวุธลับในมือแล้วเช่นกัน แต่พอเขายกมือขึ้นมา ท่านอ๋องดึงปลอกดาบของจงลี่พ
พิธีจบการศึกษาผ่านไปอย่างเต็มรูปแบบแต่ก็ไม่ได้มีความคึกคักเนื่องจากอยู่ในภาวะช่วงสงคราม แต่ละคนร่ำลาอาจารย์และทยอยลงเขาส่วนทางเยว่ซินนั้น ตำหนักอ๋องส่งจดหมายมาให้อาจารย์ที่สำนักและกำหนดวันที่จะมารับนางเอาไว้ก่อนหน้านี้แล้ว “เยว่ซิน น่าเสียดายที่เจ้าต้องกลับไปกับรถม้าของตำหนัก ข้าอยากลงเขาไปกับเจ้
ท่านอ๋องมองหน้านางที่ยังเรียบสงบ แต่บรรยากาศรอบตัวเขากลับเย็นยะเยือกขึ้นอย่างน่าอึดอัดแปลกๆ เหมือนครั้งแรกที่เขาพบนางที่เมืองเหลียง นางมักจะทำให้เขาอึดอัดขึ้นมาจนน่าขนลุกได้เสมอโดยที่ตัวเขาก็ไม่ทราบสาเหตุ “เยว่ซิน เจ้าคิดดีแล้วแน่หรือเอาเก็บไปคิดอีกหน่อยดีหรือไม่ การไปที่สำนักศึกษานั่นต้องไปถึงสี่