FAZER LOGINปานประดับไม่คิดไม่ฝันว่าราคาที่เธอต้องจ่ายนั้นแพงกว่ามูลค่าที่แท้จริงของนาฬิกาไปมากโข จิรัติกรเป็นนักธุรกิจหน้าเลือดที่ไม่ยอมเสียเปรียบขาดทุน แถมยังเจ้าเล่ห์มากแผนการ สุดท้ายแผนการนั้นกลับย้อนคืนสนองเจ้าตัวเสียเอง สวัสดีค่ะกลับมาพบกันอีกครั้งในงานเขียนชายหญิง [เซตเกี่ยวรัก] เซตนี้ประกอบด้วยนิยาย 2 เรื่อง 1.โตเกียว…เกี่ยวรัก (จบ) 2. จิรัติพันประดับ เป็นเซตสุดท้ายของเรื่องนี้ (กำลังออนแอร์) มาลุ้นไปด้วยกันว่าความรักของพวกเขาจะลงเอยอย่างไร และหวังว่าจะมีเพื่อนร่วมเดินทางไปจนกว่านิยายเรื่องจะจบลง นิยายเรื่องนี้ไม่เน้นเลิฟไลน์ เน้นการเติบโตของตัวละคร ความสัมพันธ์ระหว่างตัวละคร ดรามาสะท้อนสังคมเป็นส่วนใหญ่ ผู้อ่านควรมีวิจารณญาณในการอ่าน นิยายเรื่องนี้เป็นเพียงจินตนาการของผู้เขียนไม่ได้พาดพึงถึงสถานที่หรือบุคคลใดบุคคลหนึ่ง คำเตือน -มีการกล่าวถึงการข่มขืนที่ไม่ใช่ตัวละครหลัก -การใช้ยาเสพติดรวมไปถึงการค้าและการเสพ -มีการกล่าวถึงการฆาตรกรรมอำพราง ตัวละครมีความบิดเบี้ยวสภาพจิตใจไม่ปกติไม่ใช่ตัวละครหลัก 🍀 ขอบคุณทุกการสนับสนุนค่ะ หากอยากให้กำลังใจสามารถคอมเมนท์ กดใจให้กันได้นะคะ 🍀
Ver maisTahun 1995
Jerit tangis bayi membangunkan Joko dari tidur pulas ya, kesal merasa terganggu, pundak istrinya yang sedang mengorok ia guncang tidak sabar."Hei! bangunlah, tuh anak mu mau nyusu!" ucap Joko dengan kesal.Sang istri yang masih setengah sadar, dengan terpaksa melangkah menuju box bayi, untuk melihat keadaan si bayi yang sedang menangis. Sementara Joko yang akan tertidur kembali, mendadak teringat bahwa malam ini ia harus membuka pintu air untuk mengisi tambak-tambak yang sudah di kosongkan dua Minggu sebelumnya. Tambak-tambak tersebut, sudah di betulkah serta di cuci hamakan, dan saat ini lumpur nya sudah cukup kering untuk di isi air dan sorenya akan di tabur bibit ikan di dalamnya."Popoknya basah!" ucap Ani memberi tahu, jelas dengan maksud agar si suami mau membantu untuk mengambilkan popok pengganti.Joko dengan cepat turun dari atas kasur, tetapi tidak untuk memenuhi permintaan sang istri, melainkan langsung menuju pintu kamar dan pergi menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahnya. Selagi buang air kecil, ia mendengar suara Omelan sang istri. Joko menyeringai, sementara suara tangis bayi yang baru saja di lahirkan beberapa hari itu masih saja memecah kesunyian malam di sekitar rumah mereka.Tangis bayi itu sudah menghilang sewaktu Joko telah selesai menunaikan hajatnya, Joko kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil kain sarung dan berpamitan dengan sang istri, sewaktu di dalam kamar, joko melihat bayi merah itu sedang menghisap sumber kehidupan di tubuh ibunya, Ani yang setelah rebahan di tempat tidur tidak menyadari kain kembennya tersingkap lebar, sehingga apa yang tersembunyi di sebaliknya tampak begitu nyata.Joko tertegun, dengan sepasang mata yang menatap nanar.Ani yang menyadari hal itu dengan cepat merapatkan pahanya. "Begitu ya, bantu ngurus ogah, membuat nya saja yang mau!" cetus Ani.Joko yang mendengar sindiran itu lantas merasa malu, tanpa berkomentar apa-apa ia sambar kain sarung yang tergantung di dinding kamar, dan dengan segera ia lilitkan di pinggangnya."Eh akang mau kemana?" tanya Ani."Membuka pintu air," ucapnya dengan nada kesal, dengan berjalan ke arah pintu kamar Joko menambahkan. "Barangkali aja setelah itu, ada perempuan lain yang minta di bukakan celana nya!""Eh, akang!" Ani mendelik, namun setelahnya tertawa cekikikan. Sampai-sampai puting susunya terlepas dari mulut sang bayi merah, sehingga bayi itupun kembali menjerit menangis lebih ribut dari sebelumnya.Di iringi tawa Ani, dan jerit tangis bayi mereka, Joko pergi meninggalkan rumah dengan membawa cangkul di tangannya dan lampu senter di sebelah tangan satunya. Ia tidak mengambil jalan menanjak yang langsung ke pintu air, melainkan menempuh jalan perkampungan yang tampak tengelam di kegelapan malam."Kalau saja Ani tahu, dia tidak akan cekikikan menghina!" Joko menggerutu dengan dongkol, namun juga tampak sekilas gembira. Karena sebentar lagi ia akan memperoleh apa yang sudah setengah bulan lebih tidak ia dapatkan dari Ani. Setengah bulan? Hem, berarti masih menunggu dua puluh sekian hari lagi sebelum Ani boleh melakukan kewajibannya sebagai istri. Sungguh waktu menunggu yang sangat menjengkelkan dan bisa saja membuat kepala pecah."Untung masih ada julaiha," pikirnya.Untung! ternyata tidak juga. karena lampu minyak tanah yang berada di luar rumah tampak sangat terang. itu pertanda bahwa Galih sudah pulang dari kota."Pasti si kuli bangunan itu kebetulan dapat rezeki nomplok, sehingga suami Eha yang sialan itu menyalahi jadwal pulangnya." ucap Joko dalam hati dan meneruskan langkahnya hingga tiba di jendela salah satu kamar tidur rumah Galih. Joko mendengar suara dipan yang berderit dengan ribut, dan jelas ia mendengar suara manja julaiha dengan sedikit desahan."Aduhh kang Galih, jangan dulu berhenti dong. aku kan masih belum..."Ingin sekali rasanya Joko berteriak marah. "Si Eha haram jadah!" umpatnya dalam hati, namun selain itu sebuah tindakan yang konyol, Joko juga harus menyadari bahwa julaiha tidak bermaksud melanggar janji yang telah mereka sepakati waktu sore tadi yang kebetulan bertemu lantas ngobrol sambil memakan bakso di dekat kantor pos kecamatan, Galih yang pulang tak bilang-bilang membuat Joko harus dua kali mengigit jari, sudah istri sendiri perboden, dengan julaiha pun ke dahuluan pula!"Tak apa lah, nanti jika galih kehabisan uang, dan julaiha kembali mengomel seperti biasa, si kuli bangunan itu pasti buru-buru ngacir ke kota. Giliran ku akan tiba pada akhirnya." ucapnya sambil tersenyum tipis walaupun tampak jelas ia sangat kecewa, "Ah sudahlah, lebih baik aku segera melanjutkan perjalananku".Benar-benar sialan memang, tapi yang lebih sial Joko harus menempuh jalan memutar yang lumayan jauh agar tiba di tempat tujuan semula, alhasil Joko harus bermandi keringat dan untuk beberapa saat lamanya terpaksa ia harus duduk beristirahat.Lolongan panjang seekor anjing dari kejauhan yang di sambut oleh anjing lainnya dari berbagai arah, membuat Joko terkejut dan segera berdiri dari duduknya. Dengan perlahan ia mengambil dan menggenggam erat gagang cangkul sambil melihat awas di sekitar pintu air tempat nya sekarang berada.Suara lolongan anjing tersebut menandakan adanya roh gaib yang bergentayangan turun ke bumi, entah di mana dan untuk tujuan apa, yang pasti adalah Joko seorang diri berdiri di tempatnya sekarang, jauh dari perkampungan, meski cukup dekat dengan dari rumah tinggalnya dan rumah besar milik majikannya."Sebaiknya aku kerjakan cepat dan ..." ucapnya dengan sambil melangkah menuju pintu air.Lolongan anjing yang tadinya sahut-sahutan, kini semakin melemah dan berhenti. Aneh! ah barangkali sang roh gaib membatalkan niatnya, atau Joko yang terlalu berfikir yang tidak-tidak. Meski masih bimbang Joko kembali merasa tenang, dan ia memutuskan untuk segera bekerja lalu pulang secepatnya ke rumah."Semoga saja Ani belum tidur dan mau menyambut ku dengan sebuah ciuman hangat!" iya bergumam sekedar menghibur diri.Lampu senter yang ada di tangan nya segera ia nyalakan dan Joko mulai melangkah menuju ke pintu air di samping tiga saluran besar yang berhulu di lereng gunung. Joko yang baru saja akan membuka pintu simpang saluran yang menuju tambak-tambak ikan yang baru saja di perbaiki itu, segera merasakan pundaknya bergetar ganjil, secara naluriah Joko membalikkan tubuh dan mengawasi ke satu arah. Dengan gemetar lampu senternya di angkat dan menerangi ke satu arah.Tanpa menimbulkan suara, dari jalan setapak menurun yang sejajar dengan saluran air ke tambak perlahan-lahan muncullah sosok bayangan putih yang bergerak langsung ke arah tempat Joko berdiri.Bayangan sosok tubuh wanita, yang berjalan bagai mengambang di bawah siraman cahaya bulan. Kemudian ...."Ah ... juragan putri kiranya!" ucap Joko dengan menghembuskan nafas lega, lalu segera ia turunkan sorot lampu senternya. "Tadinya saya sangka ...."“แล้วเราขอพี่หรือยัง” จินส่ายหน้า“แต่จินเป็นน้อง” จิรภีมม์แฝดน้องว่าพลางชี้นิ้วชี้เข้าหาตัว สามขวบแต่ช่างเจรจาและไม่ยอมเสียเปรียบใครหน้าไหนทั้งนั้น นายท่านจริญนั่งยอง ๆ พลางจ้องเข้าไปในดวงตาเด็กน้อยพูดด้วยน้ำเสียงปกติ“จินเราเป็นน้องก็จริง แต่พี่เขาไม่ได้มีหน้าที่ที่จะต้องยอมเราตลอดเวลาเพราะว่าเราเป็นน้องหรอกนะ” นายท่านจริญว่าพลางชี้นิ้วไปยังจินตะ“ถ้าอยากเล่นก็ต้องขอพี่เขาก่อน ถ้าพี่เขาไม่อนุญาตเราต้องรอ เข้าใจไหมครับเด็กดีของปู่” จิรภีมม์กอดอกพลางหันหลังให้ นายท่านจริญถอนหายใจพลางจับตัวเด็กน้อยให้หันหน้ามาประจันกันเหมือนเดิม“ขอโทษพี่เขา”“ไม่ จินไม่ผิด”“ไม่ผิดก็ไม่ต้องเล่น จนกว่าเราจะสำนึกค่อยไปเล่นกับพี่เขา” นายท่านจริญหันไปสั่งบรรพต “พาเด็กทั้งสองคนไปเล่นฝั่งโน้นก่อนไป”“ครับ” บรรพตรับคำ ก่อนจะพาเด็กทั้งสองไปเล่นอีกทาง“ถ้าจินว่าจินไม่ผิดก็ยืนอยู่กับปู่ที่นี่แหละ ปู่มีเวลาให้จินสำนึกผิดอีกนาน” นายท่านจริญว่าพลางยืนถือไม้เท้ายืนขึ้น รอให้หลานน้อยมีท่าทีสงบ พอได้ยินเสียงพี่ ๆ เล่นกันอย่างสนุกสนานก็อยากจะไปเล่นด้วยบ้าง จิรภีมม์ยืนอยู่อย่างนั้นสักครู่ก่อนจะจับขากางเกงคุณปู่เขย่ายิก
“ขอบคุณนะครับคุณปู่”“ขอบคุณมาก ๆ ค่ะ”“แล้วแกจะมีข้ออ้างอะไรอีก อายุอานามเท่าไหร่แล้วเพิ่งจะมีลูกคนเดียว”“มีน้อยแต่โตมาอย่างมีคุณภาพ” เจอคำตอบนี้ไปจริญถึงกับจุกไปไม่ถูก ก่อนจะเปลี่ยนเรื่องเฉไฉ“ระบบกงสียังอยู่ ใครมีลูกเล็กเด็กแดงฉันจะส่งเสียจนกว่าจะเรียนจนพอใจ” ก่อนจะเชิดหน้า“ข้าวของเครื่องใช้ก็เบิกกับบริษัท รวมทั้งค่าใช้จ่ายรายเดือน รวมถึงพี่เลี้ยงพอใจหรือยัง?”“อ่า…ผมขอคิดดูก่อนละกันครับ” นายท่านจริญกัดฟันกรอด จิรัติกรเคาะหน้าปัดนาฬิกาบอกความนัย“อาทิตย์ละวัน ตามนี้นะครับ”“แก!”“ก็ต้องดูพฤติกรรมคุณปู่ประกอบว่าพูดจริงทำจริงหรือเปล่า อาจจะเพิ่มเป็นสองถึงสามวัน พาไปกินข้าวที่ห้างได้บ้างอะไรบ้าง”“บรรพต! จัดการให้เรียบร้อยและเร็วที่สุด”“ได้ครับ!”คล้อยหลังปานประดับที่เดินกอดแขนสามีเอ่ยถามพลางทำสีหน้าเห็นใจ“ฉันรู้ว่าเธอจะพูดอะไร ไม้อ่อนดัดง่าย ไม้แก่ดัดยาก ตาแก่นั่นต้องโดนซะบ้าง เธอก็เห็นผลลัพธ์ในการเลี้ยงลูกของเขาแล้วนี่”“จะว่าไปก็น่าเศร้านะคะ ท่านเลยตั้งความหวังไว้กับจินตะเอาไว้มากเลยทีเดียว” ปานประดับลูบหัวลูกน้อยด้วยความเห็นใจ“แล้วใครใช้ให้เลี้ยงลูกหลานแบบนั้นล่ะ” จิรัติกรตอบ
“คุณจะไม่ลงไปเจอหน่อยเหรอคะ”“ไม่ล่ะ…ชั่วโมงเดียว”“เอาอย่างนั้นก็ได้ค่ะ” ปานประดับอุ้มลูกน้อยแนบอกโดยมีบอดีการ์ดเดินตามเป็นพรวน ลงไปหาคุณปู่ด้านล่าง นายท่านจริญที่ดูแก่ชราแต่ยังคงเหลือมาดท่านเจ้าสัว ยังคงความน่าเกรงขามแม้จะนั่งรอที่ห้องรับแขกด้านล่าง แต่สีหน้าเก็บซ่อนความกระวนกระวายไม่มิดชะเง้อมองหาหลานน้อยไม่วางตา“เดี๋ยวก็มาครับ” บรรพตที่ตามมารับใช้เอ่ยเตือน “นั่นไงครับ มาแล้ว”“ไหน ๆ”“สวัสดีค่ะ” ปานประดับยกมือไหว้พร้อมกับอุ้มจินตะที่หันหน้าออก“ขอฉันอุ้มหน่อย” ปานประดับให้อุ้มแต่โดยดีเพราะสงสารคนแก่ตรงหน้า ว่ากันว่าปู่ย่าสมัยที่เป็นพ่อแม่มักจะเข้มงวดกับลูก แต่กับหลานจะสปอยนั้นเป็นความจริง นายท่านจริญอุ้มจินตะโยกไปมาอย่างมีความสุขก่อนจะโบกมือน้อย ๆ บรรพตที่ถือหูกระเป๋าพลาสติกสีดำดูมีน้ำหนักเลื่อนมาทางปานประดับ“อะไรคะ”“ของรับขวัญหลาน” นายท่านจริญพูดโดยไม่เงยหน้ามามองปานประดับ พูดอ้อมแอ้มในคอ“ฉันเตรียมไว้นานแล้ว”“ขอบคุณค่ะ”“ของหลานไม่ใช่ของเธอ”“ดิฉันทราบค่ะ ไหน ๆ ก็มาแล้วไปเล่นกันที่สวนด้านหลังดีไหมคะ อากาศเย็นกำลังดี”“เธอนำไปสิ”“ได้ค่ะ”สักพักก็มีเสียงโวยวายเมื่อนายท่านจริญ
“ไอ้จิเมื่อไหร่แกจะเอาหลานมาให้ฉันอุ้ม” จิรัติกรยกโทรศัพท์ออกห่างจากหู ก่อนจะวางไว้บนโต๊ะทำงานไม่สนใจเสียงก่นด่าของนายท่านจริญที่ดังลอดออกมาตามสาย แม้ว่าการให้กำเนิดทายาทของผู้บริหารยักษ์ใหญ่ JK1 GROUP ไม่ได้เป็นความลับแต่ก็ไม่เคยปรากฏบนสื่อที่ไหนมาก่อน อีกทั้งปานประดับเองก็อยากจะให้ลูกชายเติบโตมาอย่างอิสระ ไม่มีพันธะกับ JK1 GROUP ที่ต้องแบกภาระเอาไว้บนบ่าตั้งแต่ลืมตาดูโลกเพราะคำว่าทายาท เธอยากให้โอกาสลูกชายได้เลือกทางเดินเอง และเด็กชายจินตะเองก็ไม่เคยพบเจอญาติฝั่งเอกาฤกษ์ยกเว้นฝั่งแม่อย่างอารยาที่มาหา ช่วยเลี้ยงหลานอาทิตย์ละสามสี่วัน“นายท่านจริญมีหลานตั้งแต่เมื่อไหร่”“แก แกอยากเห็นฉันอกแตกตายใช่ไหม”“ก็แล้วแต่จะคิดครับ”“ฉันเป็นพ่อแก”“แล้ว?”“เมื่อไหร่แกจะยกโทษให้ฉัน”“แล้วต้องยกโทษให้ด้วยเหรอครับ”“ฉันสูญเสียลูกเต้าไปตั้งหลายคน ฉัน…ไม่อยากเสียแกไปอีกคน มีทางไหนที่พอจะให้ฉันแก้ไข แกบอกมาฉันจะทำ”“ขอคิดดูก่อนละกันนะครับ” จิรัติกรกดวางสายพร้อมกับเมินสายเรียกเข้าที่สั่นครืดคราดต่อเนื่องไม่มีทีท่าว่าจะหยุดจนต้องกดปิดสั่นแล้ววางไว้ในลิ้นชัก ปานประดับที่อุ้มลูกน้อยวัยหกเดือนที่กำลังฝึกน
“ฉันไม่รับการขอบคุณเป็นคำพูดไม่กี่คำหรอกนะ” พอได้ยินคำพูดที่แสนจะอวดดีของเขาเธอก็อดที่จะหยิกต้นแขนนั้นด้วยความหมั่นไส้ไม่ได้“เธอนี่มันมาโซคิสต์จริง ๆ แต่เธออย่าลืมใครทำฉันเจ็บมันต้องเจ็บกว่า” เป็นไปตามที่เขาขู่ คืนนั้นทั้งคืนปานประดับร้องจนเสียงแหบแห้ง อ้อนวอนขอความปรานีจากคนใจร้ายเท่าไหร่ก็ไม่เป็
ไม่ว่าเขาจะเลือกใครเธอยินดีทั้งนั้น เธอสูญเสียลูกชายไปคนหนึ่ง เธอไม่อยากสูญเสียลูกชายคนนี้อีก ก่อนหน้าเธอไม่สามารถแสดงความรักต่อเขาได้อย่างเต็มที่ และการเลี้ยงดูของเธอในอดีตอย่างเข้มงวดก็ส่งผลถึงปัจจุบัน และเธอก็ยอมรับหากลูกชายจะหมางเมินและมีท่าทีปั้นปึ่งเหมือนอย่างในตอนนี้ แค่ลูกชายมาหาเธอที่นี่ก็
เชาวน์ชลิตยังคงส่งเงินและจ่ายเงินซื้อข้าวของเครื่องใช้ที่จำเป็นทุกเดือนให้แก่ชิดชอบ ฝากฝังให้ทนายเลิศสินดูแลต่อ ส่วนเขาก็อำลาเบื้องหลังอันโหดร้ายมุ่งหน้าสู่เมืองใหม่เป็นเชาวน์ชลิตคนใหม่ที่เปลี่ยนมาใช้นามสกุลของมารดา ต่อให้รู้ทั้งรู้ว่าจะเปลี่ยนชื่อ เปลี่ยนนามสกุลอย่างไรก็ไม่สามารถลบล้างเรื่องราวในอ
“ตอนนี้ฉันมีเรื่องที่อยากทำเต็มไปหมด เลี้ยงเด็กกินพลังงานเยอะจะตาย หากดื้อเหมือนคุณฉันคงปวดหัว”“เหอ ๆ” จิรัติกรไม่ต่อล้อต่อเถียงอีก ปล่อยให้เป็นเรื่องของอนาคต ชีวิตคู่ของเขาและเธอเพิ่งเริ่มต้นได้ไม่นานนี้เอง ยังมีอีกหลายเรื่องที่ต้องปรับตัวและค่อย ๆ เรียนรู้ที่จะใช้ชีวิตร่วมกัน เขาที่ไม่เคยแบ่งพื้





