Masukหนึ่งชีวิต หนึ่งหัวใจที่สูญเสียไปให้กับคนที่ไร้หัวใจ ชาตินี้ข้าไม่ขอร่วมทางเดินกับเขาอีก... แต่ทำไมมันไม่ง่ายเช่นนั้น เหตุใดเรื่องราวจึงได้แตกต่างไปจากเดิมเช่นนี้ แล้วข้าจะหนีหัวใจตัวเองพ้นได้เช่นไร
Lihat lebih banyakKAKEK TUA itu SUAMIKU
Bab 1Aku mematut diriku di depan cermin, memperbaiki letak kerudung putihku yang sedikit tidak rapi, tak lupa juga aku rapikan kembali gamis putih yang aku gunakan. Kugunakan bedak bayi untuk wajahku dan kupoles bibirku dengan lipstik berwarna pink hadiah dari sahabatku satu tahun lalu."Nak, kalau kamu mau membatalkan nggak apa-apa, jangan berkorban demi kami," ucap Bapak. Bapak kemudian duduk di ranjang sempit milikku. Kemudian aku mendekati Bapak dan duduk disampingnya."Nggak Pak, Seva ikhlas. Seva mau, kita tetap lanjutkan pernikahan ini," jawabku. Jikapun dibatalkan akan banyak sekali resiko yang aku tanggung. Keputusanku sudah bulat tak ada yang perlu dirubah."Pak, itu penghulu dan lainnya sudah siap. Seva ... apa kamu siap, Nak?" tanya Ibu.Ibu mengenakan kebaya coklat sederhana, dengan jilbab yang dibelinya di pasar lebaran tahun kemarin."Bissmillah, Seva siap, Bu," jawabku pelan."Ya udah Bapak sama Ibu keluar dulu, nanti kamu ditemenin Bi Sani ya.""Iya, Bu."Sebelum ke luar kamar, bapak memelukku dan mengusap punggungku. Sungguh Pak, Seva ikhlas. Seva ikhlas meninggalkan semua dunia remaja Seva. Demi kalian, iya kalian keluargaku. Bapak, ibu, adikku Seno. Batinku.***"Saya terima nikah dan kawinnya Seva Lidya Dewi binti Suparjo dengan mas kawin seperangakat alat sholat, mas seberat 100gram dan uang tunai sebesar dua belas juta seratus dua puluh dua ribu dua puluh satu rupiah dibayar tunai.""Bagaimana para saksi? Sah?""Sah""Alhamdulilah"Acara pernikahan yang aku impikan tapi benar-benar hanya mimpi. Hanya ada segelintir orang yang datang dan mereka hanya saudara dekat saja. Bahkan aku yakin mereka terus berbisik membicarakan pernikahan anehku ini. Aku Seva Lidya Dewi usia dua puluh satu tahun lebih enam bulan menikah dengan Bambang Hendromoyo usia enam puluh tahun.Tidak usah kaget, memang seperti itu keadaannya. Jika ada yang bilang aku matre, aku jawab jujur iya. Aku menikah dengannya karena harta. Tidak ada pernikahan mewah, tidak ada pelaminan apa lagi menu makanan internasional, yang ada hanya pernikahan di bawah tangan di gubuk reot ini.Akupun dituntun ke luar kamar menemui suamiku. Ah, rasanya masih aneh. Satu minggu yang lalu aku masih duduk di bangku kuliah, aku masih belajar sebagaimana biasanya. Aku masih belajar sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kotaku. Bukan hal yang mudah bagiku bisa kuliah, aku masuk dengan jalur bidik misi, dengan terseok aku mampu terus melanjutkan kuliahku.Jika kalian membayangkan seperti di cerita dengan CEO ganteng kalian salah! Postur tubuhnya tinggi, dengan pawakan sedikit berisi dan tidak ada bayangan seperti yang ada di cerita, yang mirip mungkin hanya hartanya. Rasanya aku jadi ingin tertawa, tertawa dengan nasibku.Tahan Seva, ayo senyum, bukankah kamu yang menyetujui pernikahan konyol ini. Aku bermonolog dengan diriku sendiri.Aku melihat Bapak mengusap sudut netranya dan Ibu yang berkaca-kaca, adikku hanya menatapku dengan tatapan yang entah seperti apa. Terlihat ada satu orang sahabatku, Riska. Riska tersenyum kepadaku, tapi air mata sudah turun ke pipinya. Aku yang menikah, kenapa mereka yang menangis? Dasar aneh!***"Ayo Nak, cium tangan suamimu," titah Ibu.Ada rasa enggan untuk melakukannya tapi jika aku menolaknya secara terang-terangan apa kata mereka. Ah, kuturuti saja toh hanya mencium tangannya. Aku meraih tangan yang terulur, lalu mencium tangan yang mulai keriput. Laki-laki itu kemudian mengusap kepalaku yang tertutup jilbab dan menciumnya. "Cie, yang sudah sah jadi suami istri, pipinya juga donk yang di cium."Sialan! Itu pasti suara dari mulut rombeng Bude Ratmi! Mereka yang hadir pun tertawa cekikikan mendengar ucapan Bude Ratmi.Awas aja, besok kalau minta cabe sama Ibu akan kulempar sekalian sama sambelnya!"Permisi, selamat siang," ucap seseorang yang memakai pakaian putih dan topi ala koki dari restoran. "Ini pesanan makanan di letakkan dimana ya?"Ibu dan Bapak sebagai tuan rumah saling berpandangan. Mereka merasa tidak memesan makanan apapun."Bawa masuk dan tata di dalam, sekalian layani mereka yang hadir!" Suara itu datang dari orang yang duduk di depanku. Jadi dia yang kini bergelar suami yang memesan makanan.Ternyata tidak hanya ada satu orang yang datang membawa makanan tapi ada lima orang dengan membawa menu yang berbeda-beda. Melihat pemandangan itu Bude Ratmi langsung senyum sumringah."Akhirnya, bisa makan enak juga, aku kira diundang ke nikahan cuma disuguhi mendoan doang." Bude Ratmi masih saja nyinyir tanpa pandang tempat."Kira-kira isinya apa ya, Rat?" Bu Jum tetangga sebelah rumah terus menatap kotak tertutup yang berisi makanan.Tak lama berselang makanan sudah siap, dari sate, prasmanan, siomay, bakso, soto, buah-buahan aneka kue bahkan es cendol juga ada.Terlihat mereka yang hadir, langsung berbaris antri bahkan Bu Jum dan Bude Ratmi sempat meminta kantong kresek pada ibu."Makanan segitu banyaknya daripada mubazir lebih baik Bude bawa pulang, iya 'kan?" Aku hanya mengangguk, terserah mereka saja daripada ribut."Va, kamu sudah ambilkan makanan buat suamimu belum?" tanya Ibu."Hah? Apa Bu? Iya nanti Seva ambilkan buat Bapak," jawabku sambil terus memperhatikan mereka yang terus memasukkan makanan ke dalam kantong plastik. Bugh!"Aduh! Ibu … kenapa aku di pukul?" Aku memegang lengan kananku yang dipukul Ibu."Bukan Bapak, tapi suamimu. SUAMI." Ibu memperjelas kalau aku sudah punya suami. "Males deh Bu, Ibu aja gimana?" Bukan jawaban yang aku dapatkan malah ibu melotot dan mengarahkan tangannya ke atas akan memukulku."Hisssshhh, Iya Bu, Iya" Kuhentakkan kakiku sambil melangkah.Aku menuju meja prasmanan. Kuambil nasi satu centong tapi kemudian kuambil lagi setengah takut nggak habis, kuambil sate lima tusuk, tapi nanti takut giginya nggak kuat kalau harus makan daging atau bisa-bisa gigi palsunya ikut kebawa sate saat menariknya. Aku kembalikan lagi sate ke tempatnya. Aku menuju tempat sayur, duh kok pedes semua nanti malah sakit perut, aki-aki kan perutnya mudah sakit. Nah itu dia, sayur sop! Aku siram saja nasi yang setengah centong dengan dua gayung sayur sop, eh salah maksudnya dua sendok sayur. Lalu atasnya aku taruh deh kerupuk udang, sengaja kerupuknya disuruh berenang dulu di kuah sop biar nggak keras. Kurang cerdas gimana lagi aku coba?Pelan aku membawanya ke tempat lelaki yang sedang duduk dengan bapak. Kira-kira nanti suamiku memanggil bapak apa ya? Secara, umurnya lebih tua dia daripada bapak. Apakah Dik Mertua? atau Dede Mertua? Lalu bapak panggil suamiku apa ya? Akang Mantu? Kaka Mantu? Abang Mantu? Hahahaha bisa gila aku memikirkannya."Kenapa jalan sambil senyum-senyum? Apalagi bawa piring, nanti kalau jatuh gimana?" tanya Bapak."Eh, nggak kok, Pak," jawabku. "Ini, makanlah!" Kusodorkan piring yang berisi makanan pada lelaki itu."Seva … yang sopan donk," ucap Bapak tak terima dengan caraku menyerahkan makanan itu."Nggak apa-apa, Dinda udah makan belum?" Dinda? What? Uhuk!Aku langsung batuk tersedak permen yang ada di mulutku begitu mendengar dia memanggilku 'Dinda'."Dinda … dimanakah kau berada ...." Riska justru menyanyi dengan suara sumbangnya. Langsung saja kutimpuk kepalanya. Bukannya sakit malah dia cengengesan. ***Akhirnya rangkaian acara sudah selesai.Aku masuk ke kamarku, lelaki tua itu sudah menungguku. Ah, kenapa aku jadi deg-degan gini? apa jangan-jangan akan seperti yang aku lihat di film-film? Lelaki itu menepuk kasur menyuruhku duduk. Akupun menuruti, duduk disampingnya."Tidurlah, ini sudah malam," ucapnya.Kuturuti permintaannya yang lebih mirip perintah ke cucunya. Memang aku lebih pantas jadi cucunya. Aku tidur dengan membelakanginya, pura-pura memejamkan mata, takut jika diam-diam dia berbuat sesuatu. Lalu kurasakkan ada yang membelai rambutku. Aku semakin memejamkan mata, dada ini rasanya sesak, jantungku berdetak lebih cepat. Aku merasakkan nafas hangat yang semakin mendekat. Oh Tuhan, bantu aku.CupDia mengecup keningku. Apa yang harus aku lakukan?Haruskah aku pasrah?***“แต่ไม่ใช่ต่อหน้าผู้คนเช่นนี้ แล้วยังเป็นในงานมงคลของท่านพี่ข้าด้วย”“ไม่เป็นไรหรอกหลันเอ๋อร์พวกเราชินแล้ว เจ้าไม่รู้อะไรพวกเราน่ะต้องประชุมเรื่องทารกในครรภ์ของเจ้าในราชสำนักมากี่วันแล้ว”“จื่อหลง แม้ว่าเจ้าจะเป็นพี่ชายพระชายาข้าก็สั่งลงอาญาเจ้าได้นะหากเจ้ายังพูดมากข้าจะเรียกค่าเสียหายให้เจ้าหมดตัวเลยล่ะ”“กระหม่อมไม่กล้าแล้วพ่ะย่ะค่ะ โปรดทรงอภัย ทรงอภัยด้วย”“มา ดื่มเหล้ามงคลกับเจ้าหน่อย ยินดีด้วยที่หาพี่สะใภ้ให้พวกข้าได้เหมาะสม จากนี้ไปขอให้พวกเจ้าอยู่ด้วยกันยืนยาวลูกหลานเต็มเมือง แต่อย่าให้เกินข้าเพราะข้าจะไม่ยอมแพ้พวกเจ้า”“ฮ่า ๆ ท่านอ๋องทรงกล่าวเกินไปแล้ว กระหม่อมมีหรือ….”“พี่ใหญ่ ท่านพี่!! พวกท่านช่วยไว้หน้าข้าบ้างเถิด”“เอ้า ดื่ม ๆ”สุรามงคลหลายจอกทยอยนำมาให้ดื่ม มู่หรงเฉิงช่วยรับแขกอยู่ด้านนอกส่วนเจ้าบ่าวตอนนี้ถูกส่งไปที่ห้องส่งตัวแล้ว ท่านอ๋องจึงพาพระชายาของตนเองกลับจวนเมื่อถึงเวลาที่เหมาะสม เสนาบดีเล่อและฮูหยินเดินมาส่งทั้งคู่“ท่านแม่เอาไว้ชุนหลันใกล้คลอดข้าจะส่งคนมารับท่านให้ไปอยู่เป็นเพื่อนนาง อาจจะต้องรบกวนท่านพ่อหลายวันหน่อยนะขอรับ”“ท่านอ๋องอย่าทรงเกรงพระทัยเพคะ ท้องแ
แม้จะบอกว่าจะอ่อนโยนแต่ความดุดันและความต้องการของทั้งคู่ก็มิอาจอัดอั้นความต้องการไปได้เพราะท่านอ๋องอ่อนโยนได้เพียงชั่วครู่ก็ต้องเร่งจังหวะกลับเป็นเช่นเดิมตามความต้องการของพระชายา“อื้อ…ท่านพี่เพคะ เร็วอีกนิด จะ…ไม่ไหวแล้ว อ๊าา”เรือนร่างที่เคยเรียบเนียนผุดผ่องบัดนี้เต็มไปด้วยรอยแดงจากพระสวามีที่ฝากเอาไว้ แรงกระแทกที่ไม่ลดละจนเกิดเสียงดังเพราะน้ำรักของทั้งคู่ที่เอ่อล้นออกมาหลังผ่านศึกรักกันมาเกินสามรอบจนเตียงแทบจะไม่สามารถนอนได้แล้ว“อื้อ…อี้เหริน อ๊าาา”“ชุนหลันเจ้าเบาหน่อย ท่านี้มันกระแทกแรงไปหรือไม่เจ้า...ขย่มเบา ๆ อาา...”แต่เขากลับละสายตาจากสองเต้าคู่งามตรงหน้าไม่ได้เมื่อพระชายาเริ่มขยับเอวอยู่บนร่างของเขา ลิ้นหนาฉกเข้าไปดูดดื่มราวทารกกระหายน้ำนมมารดา เสียงครางดังขึ้นอีกครั้งพร้อมกับแรงขย่มเอวจากพระชายาจนนางเริ่มเกร็งตัวขึ้นอีกครั้ง“ชุนหลันน…อาาา ที่เหลือให้ข้าจัดการเอง”เขาไม่ได้ให้นางขยับไปไหนเพียงแค่จับเอวบางของนางกระแทกซ้ำมาที่เดิมและเอนกานรับจนตามนางไปอีกครั้ง ผมเผ้ายุ่งเหยิง เตียงที่ไม่สามารถใช้การได้เพราะความยุ่งเหยิงและเปียกชื้นทำให้ทั้งคู่ต้องเปลี่ยนมานอนที่ห้องนอนเล็กขอ
“อะไรนะ ปัดความรับผิดชอบแต่เหตุใดพระสนมจึงได้…”“พระสนมในตอนนั้นทั้งโกรธและโมโหแต่ก็ไม่อยากเอาเรื่อง ขอเพียงออกจากวังหลวงต้าจินโจวไปได้ดังนั้นจึงทูลขอฝ่าบาทว่าหากยินยอมให้นางซึ่งเป็นสนมที่ถูกส่งมาเพื่อเชื่อมสัมพันธ์ได้มีอิสระนางก็จะยอมมอบยาถอนพิษให้ ฝ่าบาทจึงปล่อยนางออกมาจากเมืองหลวงและให้คนพานางมาอยู่ที่อารามแห่งนี้”“เช่นนั้นเสด็จพ่อต้องส่งคนมาปกป้องพระสนม”“ใช่แล้ว คนผู้นั้นคือขุนนางคู่พระวรกาย ผู้จงรักภักดีต่อฝ่าบาทและยังเป็นเสนาบดีข้างพระวรกายมาหลายปี “เล่ออันจ้าน” บิดาของพระชายา"เรื่องราวของพระสนมผู้นี้เขาไม่เคยทราบมาก่อนเพราะเสด็จพ่อของเขามีสนมถึงยี่สิบกว่าคนและบางคนเขาก็ไม่รู้จัก อีกอย่างเรื่องนี้หากวันนี้เขาไม่ได้มาที่นี่ก็คงไม่เคยทราบเรื่องเช่นนี้มาก่อนและไม่รู้เลยว่าลี่จางหย่งยังมีบุตรชายอีกคนหนึ่งอยู่“เช่นนั้น เสนาบดีเล่อก็ปิดเรื่องนี้เป็นความลับมาโดยตลอด มิน่าเล่าปีนั้นเขาถึงถูกส่งมาที่นี่ ที่แท้เรื่องราวเป็นเช่นนี้นี่เอง”“ใช่ ฮูหยินของเขาก็ทราบทั้งสองช่วยกันดูแลพระสนมและอาตมามาโดยตลอด ที่ดินตรงนี้แต่เดิมก็คือที่ดินของสกุลเล่อ เสนาบดีเล่อและฮูหยินดูแลพระสนมจนถึงวาระสุด
“ใต้ซือที่ท่านพูดหมายถึง….”ใต้ซืออู๋หยวนเพียงแค่ยิ้มให้พวกเขาเท่านั้น“จริงสิยินดีด้วยที่ได้พบกับคนที่เจ้าตามหา”“อาจารย์ทราบด้วยหรือเจ้าคะ”“หึหึ เจ้าพามาด้วยเช่นนี้ไม่ว่าผู้ใดก็คาดเดาได้”“ขอบคุณอาจารย์ที่ชี้แนะบอกให้ข้าลงจากเขาไปวันนั้นเพื่อบอกว่าให้ไปพบกับคนที่จะพาข้าไปหาพี่ชายและก็ได้พบจริง ๆ”"อะไรนะ เจียวเมิ่งนี่เจ้า… กำลังหมายถึงข้างั้นหรือ"“เจ้าค่ะพี่ชุนหลัน อาจารย์บอกให้ข้าลงเขาไปวันที่พบท่านในเมืองและบอกว่าจะได้พบกับผู้ช่วยเหลือ วันนั้นก็เป็นท่านและท่านอ๋องที่เข้ามาช่วยข้าจริง ๆ เจ้าค่ะ”ท่านอ๋องและเล่อชุนหลันหันมามองหน้ากัน พวกเขามั่นใจว่าไม่เคยพบใต้ซืออู๋หยวนมาก่อนในชาติก่อนแต่เหตุใดดูเหมือนว่าใต้ซือผู้นี้จะรู้ทุกเรื่องที่เกิดขึ้นในเมือง“จริงสิเจียวเมิ่งในเมื่อเจ้าพบกับพี่ชายแล้วเหตุใดจึงไม่พาเข้าไปสักการะและไหว้พระในวิหารสักหน่อยเล่า”“อ้อ เจ้าค่ะอาจารย์พี่ใหญ่ไปเถอะข้าจะพาท่านเดินชมทั่ว ๆ วัดหลังจากที่ไหว้พระ จื่อหลงท่านก็มาด้วยกันสิ”“อ้อ ได้สิ เสี่ยวเฉิงไปเถอะ”ทั้งหมดพากันเดินออกไปแล้วจึงเหลือเพียงท่านอ๋องและพระชายาเท่านั้นส่วนจินถิงและสององครักษ์ก็เดินออกมาเฝ้าด้
“มีเรื่องอะไรด่วนงั้นหรือพี่หลง”“ไม่มีอะไรหรอก เจ้าก็รู้ว่าตอนนี้ท่านอ๋องคงไม่มีอะไรด่วนไปมากกว่าเรื่องของพระชายาอีกแล้วรีบกลับกันเถอะ”วันถัดมา “เหตุใดวันนี้ถึงต้องให้พี่ใหญ่มาเฝ้าข้าด้วยเล่าเพคะ”“เพราะพวกเขามีข่าวดีมาบอกเจ้าน่ะสิ เจ้าไม่อยากยินดีกับหมอหวังสักหน่อยหรือที่นางหาพี่ชายพบแล้ว เอาล่ะข้าไ
“ทูลท่านอ๋อง เมื่อวานนี้ในงานเลี้ยงขุนนางใหม่เห็นว่าท่านอ๋องติดภารกิจและบาดเจ็บดังนั้นวันนี้กระหม่อมกับบุตรสาวลี่จินเซียนนำของบำรุงและยาสมานแผลอย่างดีจากเมืองเหลียงมาถวายพ่ะย่ะค่ะ”“ขอบใจพวกท่านมาก วางไว้เถอะ”ลี่จินเซียนได้โอกาสเดินมาที่หน้าพระพักตร์ ท่านอ๋องหันไปสั่งเสิ่นกงให้เดินออกมาเพื่อรับแทน
"นางค่อย ๆ พยุงเขามานั่ง มีดสั้นยังปักอยู่ที่หลังแขนด้านขวาอยู่ เขาหันไปและดึงออกมาทันทีและทิ้งมีดนั้นไป มือของเขาค่อย ๆ กุมแผลเอาไว้เลือดเริ่มไหลไม่หยุด ชุนหลันหันมาและใช้ผ้าเช็ดหน้าของนางเดินเข้ามาทันที“เลือดพระองค์ออกไม่หยุด ใช้ผ้านี้พันแผลเอาไว้ก่อนนะเพคะ”“เจ้าไม่บาดเจ็บใช่หรือไม่”“ไม่เพคะหม
ห้องโถงใหญ่ “ท่านแม่เสร็จแล้วหรือเจ้าคะ”“ใช่เจ้าไปไหนมาพวกเรากำลังจะกลับกันแล้ว คืนนี้จะมีงานเลี้ยง… เหตุใดเจ้าถึงได้หน้าซีดเช่นนั้นเป็นอะไรไป”“นั่นสิน้องรองเจ้าเป็นอะไรไปน่ะ ทำไมหน้าตาตื่นแบบนั้น”“ข้าไม่เป็นไรเจ้าค่ะ เรารีบกลับกันดีกว่า”เล่อชุนหลันใช้เหตุผลนี้ไม่ไปร่วมงานเลี้ยงในตอนเย็น นางรู


















Ulasan-ulasanLebih banyak