로그인“เจ้ากล้าท้าทายความอดทนของข้าก็ลองดู หากเจ้ายังมองเขาอยู่ ข้าจะสั่งให้คนไปจับเจ้าหน้าจืดนั่นแล้วแขวนมันห้อยหัวลงมาจากประตูเมือง” “ท่านอ๋อง บาดเจ็บได้เช่นไรกันพ่ะย่ะค่ะ ตอนออกไปยังดีๆ อยู่เลย นี่มัน รอยฟัน” “แมวกัดน่ะ” “แมว!! รอยเขี้ยวแมวเป็นแบบนี้หรือพ่ะย่ะค่ะ เหตุใดกัดจนแผลขนาดนี้” “แมวพยศน่ะ คิดว่าขู่ได้อย่างเดียว ที่ไหนได้กัดเจ็บด้วย เจ้ารีบทำแผล อย่าถามมาก พรุ่งนี้เตรียมการหรือยัง” “เรียบร้อยแล้วพ่ะย่ะค่ะ ว่าแต่ ท่านอ๋อง คุณหนูหงจะมาแน่หรือพ่ะย่ะค่ะ” “นางมาแน่นอน”
더 보기AKU DI ANTARA KALIAN
- Aku Tidak Pulang Author's POV "Aku nggak pulang malam ini?" ucap Manggala tanpa menoleh pada perempuan yang sedang sibuk mencuci botol susu di kitchen sink. "Kiara ...." "Iya. Aku sudah dengar," jawab Kiara seraya meniriskan botol di wadah dekat rak piring. Ia pun tanpa menoleh pada sang suami. "Nanti kalau ibu datang bertanya, bilang aku ke Surabaya." Kiara mengangguk. Kemudian sibuk mengambil piring di rak lantas menatanya di atas meja makan. Sedangkan Manggala yang baru saja duduk, merogoh ponselnya di saku celana. Pria itu lantas bangkit menerima telepon di teras samping. Setiap menerima telepon dari wanita itu, Manggala selalu menjauh darinya. Entah demi menjaga perasaannya atau memang tidak ingin perbincangan dengan istrinya di sana, didengar Kiara. Istrinya? Ya. Manggala menikahi kekasih hatinya tiga bulan yang lalu. Kiara ini Perempuan yang ditinggalkan sang kakak dalam keadaan hamil dua bulan. Dan kedua orang tua Manggala memaksa sang putra untuk menikahi gadis malang yang telah ternoda. Kiara menarik napas dalam-dalam. Menghalau sesak yang meremas dada. Kemudian tergesa masuk kamar saat bayi lelakinya terbangun dan menangis. Digendongnya bocah umur enam belas bulan itu, lalu kembali ke belakang membuat susu. "Aku pergi kali ini agak lama." Manggala masuk dan kembali bicara. Kiara hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Kalau ayah atau ibu datang bertanya, bilang aku sedang ngurusi pekerjaan di Surabaya." Kembali Kiara hanya mengangguk. Ingin rasanya dia bilang, cerai saja. Pernikahan ini menyakiti Manggala. Dia harus bertanggungjawab terhadap perbuatan kakaknya yang sekarang menghilang tanpa kabar berita. Tidak hanya Manggala, dirinya juga sakit. Berharap mendapatkan obat setelah ditinggal, nyatanya dia harus merasakan luka yang berbeda. Manggala sudah rela menutupi aibnya, sampai siapapun tidak ada yang tahu kalau anak yang dilahirkan Kiara sebenarnya anak Narendra. Sebagai balasan, Kiara menutupi pernikahan kedua Manggala dari keluarga mereka. Tiga bulan, ia selalu berbohong pada sang mertua yang menanyakan Manggala pergi ke mana. Kenapa sampai berhari-hari. Padahal pekerjaan pria itu ada di kota kecil mereka. Setelah kakaknya minggat, Manggala yang mengambil alih usaha keluarganya. Padahal sebenarnya dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang menjanjikan dan beasiswa untuk melanjutkan S3 di luar negeri. Mimpi pria itu pupus. Manggala makan dengan cepat. Sedangkan Kiara masih sibuk memberikan susu pada Arsha sambil melayani perasaan yang amat menyesakkan. "Aku pergi dulu." Manggala berdiri sambil meraih ponselnya di atas meja. Mendengar suara ayahnya, Arsha langsung menoleh dan minta duduk. Bayi itu memandang Manggala. Kemudian merengek minta gendong sambil mengulurkan tangan. "Ayah buru-buru. Arsha, sama ibu saja." Kiara langsung menggendong anaknya ke belakang. Menghentikan langkah Manggala yang hendak mendekat. "Pergilah, Mas. Kalau ibu tanya, aku tahu harus menjawab apa," teriak Kiara dari belakang, disela tangisan Arsha yang merengek ingin ikut ayahnya. Yang Arsha tahu, Manggala adalah ayahnya. Tak terasa air mata merambat di pipi Kiara. Ia menyeka air mata anaknya, juga menyeka air matanya sendiri. Setelah mobil Manggala terdengar meninggalkan rumah, Kiara kembali ke dalam. Melepaskan gendongan, menaruh Arsha si lantai dan memberinya mainan. "Arsha nggak usah cengeng ya. Nggak boleh nakal juga. Nggak usah rewel. Ingat, Arsha hanya punya ibu. Dan ibu hanya punya Arsha." Kiara bicara seraya mengambil nasi untuk menyuapi anaknya. Mata wanita itu masih memerah. Sedangkan Arsha terus bermain, karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibunya. "Kapan ya kita punya uang yang banyak, Ar? Kita bisa pergi jauh." Sambil menyuapi anaknya, Kiara kembali bicara. Tangis yang terhenti tadi, kini tumpah kembali. Isaknya membuat Arsha kebingungan dan ikut menangis lagi. Bocah itu berdiri dan memeluk ibunya. Dia tidak paham ibunya bicara apa, tapi dia takut melihat Kiara yang terisak. Buru-buru Kiara mengusap air mata dan menenangkan sang anak. "Jangan nangis. Bukankah kita harus kuat. Kamu yang membuat ibu kuat, Arsha. Yuk, sarapan lagi. Setelah itu mandi dan kita jalan-jalan." Disela sesaknya dada, Kiara tersenyum memandang sang anak yang sudah terdiam. Namun pikirannya berlari pada kenangan tiga bulan yang lalu, ketika Manggala mengajaknya bicara serius tentang rencananya menikahi Nada. "Kita bisa bercerai secara baik-baik. Ayah dan ibu pasti mengerti." Kiara memberikan pilihan meski sebenarnya sangat berat. Bercerai sungguh tak mudah baginya. "Kalau cerai, siapa yang akan nanggung hidup kamu dan Arsha? Kamu akan pulang ke mana?" Hening. Ya, dia akan pulang ke mana. Kedua orang tuanya meninggal ketika pandemi melanda. Kakak perempuannya juga. Yang selamat hanya dirinya dan kakak ipar yang kini entah tinggal di mana. Mungkin sudah menikah lagi. Ayah Kiara seorang pegawai puskesmas, ibunya bidan, sang kakak juga perawat. Mereka sebenarnya keluarga yang cukup mampu. Namun setelah ketiga keluarganya tiada, Kiara bukan siapa-siapa. Dia melanjutkan kuliah dengan perjuangan sendiri. Lulus dengan pencapaian terbaik. Tapi sepintar dan secerdas apapun, kalau tidak bisa menjaga diri, hancurlah semuanya. Ijazah sudah tak bermakna. Tidak punya pilihan terpaksa ia menerima hidup dimadu. Namun belum pernah sekali saja Kiara bertemu wanita bernama Nada itu. Wajahnya seperti apa, ia pun belum pernah melihat fotonya. Ah, pasti cantik. Dia gadis kota. Kiara bangkit dari duduknya ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan. Digendongnya sang anak untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Ibu mertuanya yang di antar sopir. Dibukanya pintu dan mencium tangan wanita itu. "Gala mana? Kenapa di telepon nggak bisa?" "Barusan keluar, Bu. Ke Surabaya untuk beberapa hari." "Kenapa nggak pamit ke rumah. Padahal besok Pak Syarifuddin mau datang untuk membicarakan kontrak kerjasama. Kamu telepon dia, Ki. Kasih tahu suruh pulang dulu." Kiara mengangguk. "Untuk apa sih dia ke Surabaya?" "Urusan pekerjaan, Bu." Kiara menjawab tanpa berani memandang sang mertua. Dahi wanita itu mengernyit tajam. Pekerjaan apa? Apa Manggala ada bisnis baru. Tapi kenapa tidak memberitahu. Bu Puri meraih Arsha dan menggendongnya. Bercanda sebentar dengan sang cucu, lalu pamit. "Ibu mau belanja. Nanti jangan lupa telepon Gala." "Iya, Bu." Setelah ibu mertuanya pergi, Kiara mengunci pintu. Apa dia harus menyampaikan amanah mertuanya? Sedangkan Manggala sudah mewanti-wanti, agar tidak menghubunginya selagi sang suami pergi ke tempat Nada. Padahal dirinya bisa saja memberitahu lewat media sosialnya sang suami. Ia tahu sepenting apa kerjasama ini. Kiara diam dalam dilema. Manggala sudah berjasa, sudah menutupi aib, dan memberikan kehidupan untuk dirinya dan Arsha. Apa dia tega kalau sampai kerjasama ini gagal? Tapi .... Next .... Selamat membaca 🫶🏻จวนสกุลหง“เจ้าสาวจวนเสร็จหรือยัง ขบวนเจ้าบ่าวอีกสองเลี้ยวถนนก็จะมาถึงแล้วนะ”“ใกล้แล้วเจ้าค่ะ”“ลี่อิน ตื่นเต้นหรือไม่”“เจียอี ขอบใจเจ้ามากนะที่เป็นธุระให้ทุกเรื่องเลย หากไม่ได้เจ้าข้าก็คงจัดการอะไรไม่ถูก”“อย่าได้ห่วง งานนี้ข้าเองก็จัดการท่านอ๋องให้ทุ่มสุดตัว พระองค์ยอมเทหมดหน้าตักเพื่อเจ้าเลยนะ ชุดแต่งงานนี่สั่งทำพิเศษใช้ช่างเย็บดิ้นปักทองฝีมือดีเกือบสิบคนรุมกันปักเลยถึงได้เสร็จทัน”“ขบวนเจ้าบ่าวมาแล้วเจ้าค่ะ คุณหนูหงเรียบร้อยหรือไม่เจ้าคะ”“พี่อี้เหวินมาช่วยข้าที”“เจ้าค่ะคุณหนูอิน”“พี่อี้เหวิน ข้าบอกท่านแล้วว่าอย่าเรียกพวกเราว่าคุณหนู ท่านเป็นฮูหยินใต้เท้าโอหยาง เหตุใดท่านจึงลืมตัวอยู่เรื่อยเลย หากท่านเรียกอีกทีข้าจะโกรธแล้วนะ”“ข้าขอโทษๆลี่อิน ข้าจะไม่ลืมอีกแล้วเจ้าอย่าโกรธข้าเลยนะ”“ต้องแบบนี้สิ แล้วข้าเล่า”“จ้าๆเจียอี ไปกันเถิด ท่านอ๋องมาถึงหน้าประตูแล้ว”อี้เหวินและเจียอีพยุงเจ้าสาวที่สวมผ้าคลุมหน้าเรียบร้อยแล้วออกไปรอเจ้าบ่าวมารับที่หน้าจวน เมื่อพิธีการเริ่มขึ้นนำความปราบปลื้มใจให้กับผู้มาร่วมงานเมื่อส่งตัวเจ้าสาวให้เจ้าบ่าวที่อยู่บนหลังม้าเพื่อพานางกลับไปยังจวนอ๋องเพื่อ
จวนท่านอ๋อง“กล้าเอาชีวิตและบ้านเมืองเป็นเดิมพัน หมากกระดานนี้ ข้าจะเป็นผู้ล้มมันเอง หวังเจา ตามพวกนางมา” “พ่ะย่ะค่ะ”“พวกเจ้าสามคนต้องทำให้เงียบและแนบเนียนที่สุด คอยสังเกตนางเอาไว้”“เพคะท่านอ๋อง พวกหม่อมฉันทราบแล้ว”“หากแม่นมนั่นไว้ใจพวกเจ้าแล้วก็ทำตามแผนได้เลย หลอกนางเอาของไปซ่อน ปล่อยข่าวลือเท็จเพื่อให้นางไปกระตุ้นหยงฮวาให้หายโดยเร็ว”""รับบัญชาเพคะท่านอ๋อง""ห้องของเฟยซี“พรุ่งนี้เราไปจวนท่านตากันดีหรือไม่”“ดีเจ้าค่ะท่านแม่”“ถ้าเช่นนั้นเจ้ารีบนอนนะ”“แล้วท่านพ่อจะไปกับเราด้วยหรือไม่เจ้าคะ”“ท่านพ่อมีงาน คงจะไม่ได้ไปกับเรา”“แล้วท่านพ่อจะไปหาข้าที่จวนท่านตาหรือไม่เจ้าคะ ข้าอยากให้ท่านพ่อสอนเขียนอักษรกับวาดภาพอีกเจ้าค่ะ”“คืนนี้เจ้านอนก่อนนะ”“ก็ได้เจ้าค่ะ”เฟยซีหลับสนิทไปแล้ว ลี่อินที่นอนข้างๆนางในห้องที่ท่านอ๋องจัดเอาไว้เพื่อเป็นห้องส่วนตัวของเฟยซี เพื่อจะได้ให้นางเก็บของได้สะดวกเพราะตอนนี้ทั้งอุปกรณ์การศึกษาและของเช่นล้วนมากขึ้นลี่อินเผลอหลับไปโดยไม่ได้ห่มผ้าให้ตัวเอง จนเมื่อตกดึก เมื่อท่านอ๋องประชุมกับหวังเจา ท่านหมอเฉินและสั่งงานองครักษ์เรียบร้อยแล้วไม่เห็นนางอยู่ในห้องจึง
สิบวันก่อนงานพิธีมงคลสมรสพระราชทานพิเศษจากฝ่าบาท ได้มีราชโองการส่งมาที่จวนท่านอ๋องถึงสองฉบับ“ด้วยองค์การแห่งฟ้า ฮ่องเต้มีรับสั่งประทานรางวัลให้กับท่านอ๋องเวยห่าวหรานที่ทำความดีความชอบปราบกบฏและสร้างความสัมพันธ์สองแคว้นต้าหมิงและเสิ่นตู ประทานทองคำยี่สิบหีบ ผ้าไหมทอมือชั้นดีเมือยเจียง หยางยี่สิบพับ เงินหนึ่งหมื่นตำลึง และเพื่อเป็นของขวัญวันสมรส ประทานเรือนพระราชทานหนึ่งหลังพร้อมโฉนดที่ดิน ม้าศึกสามสิบตัว พลเรือนบ่าวไพร่อีกหนึ่งร้อยคนพร้อมเบี้ยหวัดตลอดสองปี จบราชโองการ ”“เวยห่าวหรานรับราชโองการ”“ท่านอ๋อง พระชายายินดีด้วยกับงานสมรส”“ขอบคุณกงกง”ถุงเงินเล็กๆแต่หนักถูกส่งให้เฉินกงกงโดยหวังเจาที่ยื่นให้พวกเขาเมื่อทั้งคู่รับราชโองการมา บรรดาของพระราชทานทยอยขนเข้ามาที่ลานหน้าห้องโถงจวนท่านอ๋อง“เรื่อนพระราชทานตั้งอยู่ใกล้วังหลวง ฝ่าบาทคงไม่ยอมปล่อยให้พระองค์อยู่ไกลจากฝ่าบาทเลยนะเพคะ”“แต่เดิมข้ากับฝ่าบาทสนิทกันอยู่แล้ว แม้ว่าเหล่าขุนนางหลายคนจะพยายามยุยงส่งเสริมให้พระองค์กับข้าผิดใจกันก็ไม่เป็นผล เจ้ารู้เหตุผลหรือไม่”“เพราะท่านพี่ไม่เคยคิดหวังในราชบัลลังก์ ฝ่าบาทจึงได้ครองราชย์แทนใช่หรื
“ไม่จริง!! เพราะเจ้าโผล่มาทำให้ท่านอ๋องหวั่นไหวต่างหาก เดิมทีเขาก็ต้องเป็นคู่หมายของข้าอยู่แล้ว ไม่เช่นนั้นฝ่าบาทจะส่งเขาไปรับข้าถึงเสิ่นตูหรือ”“หึ ดูท่าเจ้าจะเข้าใจผิดตั้งแต่ตอนนั้นเลยสินะองค์หญิง ข้าจะบอกความจริงอีกอย่างให้เจ้ารู้เอาไว้นะ ข้ากับลี่อินได้หมั้นหมายกันก่อนที่ข้าจะไปรับเจ้าที่เสิ่นตูแล้ว”หยงฮวานั้นเรียกได้ว่าเกิดอาการตกใจสุดขีดจนหน้านางเริ่มไร้ความรู้สึกไปเลยก็ว่าได้เมื่อนางค่อยๆหันไปมองผู้ที่กำลังพูดเรื่องนี้กับนางด้วยเสียงที่เรียบ“ท่าน…ท่านอ๋อง ตรัสว่าอย่างไรนะ พระองค์กับนาง….”“ข้ากับลี่อินได้ตกลงหมั้นหมายกันก่อนที่ข้าจะเดินทางไปรับเจ้าที่เสิ่นตู เดิมทีหน้าที่นี้มิใช่ของข้า แต่เพราแผนการชั่วขององค์ชายสี่ที่ต้องการล่อข้าออกจากเมืองหลวงเพื่อนำเจ้ามาสร้างปัญหาในราชสำนัก เขาจึงกราบทูลฝ่าบาทให้ข้าเป็นผู้ไปรับเจ้ามา แทนที่จะเป็นองค์ชายสามอย่างไรเล่า”“ที่แท้ท่านอ๋องกับบุตรของเสนาบดีหมั้นหมายกันมาก่อนแล้ว พวกเขามีบุตรด้วยกันก็ไม่แปลกแต่นางนี่สิ”“เหตุใดจึงยังไม่ยอมรับอีก ข้าอับอายแทนนางเหลือเกิน”“หึ ฮ่าๆ ที่แท้ทั้งหมดนั่น ตลอดเวลาที่ข้ามาที่นี่ข้าล้วนแต่คิดไปเองข้าหลงนึ
แม่นมนั้นนั่งหน้าซีดจนแทบหมดแรงเมื่อหยงฮวาส่งสายตาดุมาถามนาง ซึ่งนางเองก็ไม่รู้ว่าจะหาคำตอบได้จากที่ใด“กระหม่อมหงเล่งจินถวายบังคมฝ่าบาท”“หม่อมฉันหงลี่อินถวายบังคมฝ่าบาทเพคะ”“พวกท่านลุกขึ้นเถอะ เชิญตามสบายนะ ลี่อิน เป็นอย่างไรบ้างแล้วเหตุใดเฟยซีไม่มากับเจ้าด้วยเล่า ข้าคิดถึงนางจะแย่แล้ว”“นั่นสิเ
“พระสนมอย่าพึ่งทรงกริ้วเพคะ อาจจะเป็นเพราะท่านอ๋องเตรียมงานฉลองนี้เพื่อพระสนมด้วยพระองค์เอง เพราะเกรงว่าพระสนมจะไม่ถูกพระทัยเพคะ”หยงฮวายิ้มออกมาเล็กน้อยเมื่อได้ยินคำกล่าวนี้ แม้ว่าจะไม่พอใจที่ไม่ได้ออกไปพร้อมกับท่านอ๋อง แต่เมื่อฟังแล้ว ดูท่าท่านอ๋องคงพิถีพิถันในการจัดงานครั้งนี้เพื่อนางจริงๆ“เอาล
ท่านอ๋องมองหน้าหยงฮวาที่ต้องการคำตอบจากเขา เขาเพียงตอบด้วยเสียงเรียบๆ“หากว่าเจ้าไม่เริ่มใช้แผนสกปรกก่อน ข้าก็คงไม่ตลบหลังเช่นนี้ หยงฮวา”“ท่านมันโหดเหี้ยมเลือดเย็นเกินกว่าที่ข้าคิดเอาไว้ หลอกใช้ความรักของข้าที่มีต่อพระองค์ทำเรื่องเลวร้ายนี่ขึ้นมา”“เลวร้ายงั้นหรือ ความรักงั้นหรือหยงฮวา เจ้าควรจะรู
หยงฮวาตกใจกับคำที่หลุดออกจากปากนางไป ท่านอ๋องทำเพียงหยักยิ้มที่มุมปากขึ้นเหมือนเยาะเย้ยนาง ใบหน้าเย็นชาเลือดเย็นที่คุ้นเคยนั่นส่งมาให้นาง แล้วตลอดเวลาที่เขาอยู่ที่ตำหนักของนางนั่นคืออะไรกัน“ได้ยินหรือไม่ นางหลุดปากออกมาเอง”“นี่มันเรื่องอะไรกัน”“พระสนม เจ้ามีอะไรจะพูดหรือไม่”“ไม่เพคะฝ่าบาท หม่อม











