ANMELDENหลังจากที่รับกระบี่แทนสามี ข้าได้กลับมาเกิดใหม่อีกครั้งในสิบปีให้หลัง จากปากของนางกำนัล ข้าได้รู้มาว่าสามีของข้าได้กลายเป็นฮ่องเต้องค์ปัจจุบันไปแล้ว ข้าดีใจจนเนื้อเต้น รีบถามถึงเฉาหวงแก้วตาดวงใจของข้าในทันที แต่นางกำนัลกลับมองข้าด้วยสายตาแปลกๆ แล้วพูดว่า: "องค์หญิงเฉาหวง? ทั่วทั้งใต้หล้าต่างรู้กันว่านางไม่ใช่ลูกของอดีตฮองเฮา!" "สงสารก็แต่องค์หญิงรุ่ยเฟิ่งที่ไปตกระกำลำบากอยู่ข้างนอก หงส์แท้ถูกหงส์ปลอมแทนที่ตั้งหลายปี!" ข้าแค่นหัวเราะในใจ ลูกที่ข้าอุ้มท้องคลอดมาเอง มีหรือที่ข้าจะจำผิด? ข้าแอบไปดูเฉาหวง พบว่านางถูกรังแกจนแทบจะไม่ใช่คนแล้ว ได้ยินมาว่า พระสนมกุ้ยเฟยที่เพราะมีหน้าตาคล้ายข้าอยู่เล็กน้อยจึงได้เป็นที่โปรดปราน ให้ลูกสาวของข้ากินแค่น้ำซาวข้าวทุกวัน คืนนั้น ข้าลอบเข้าไปในตำหนักพิธี ตรงเข้าไปบิดหูฮ่องเต้ที่กำลังเซ่นไหว้ดวงวิญญาณภรรยาผู้ล่วงลับ พร้อมเอ่ยปากด่าออกไปว่า: "หลี่โก่วเซิ่ง! พอได้เป็นฮ่องเต้แล้ว แม้แต่ลูกตัวเองก็จำไม่ได้แล้วใช่ไหมหะ?"
Mehr anzeigenKasur king-size itu terasa seluas padang pasir di tengah malam.
Raisa terbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit kamar yang gelap. Pola retak halus di plafon yang selama ini tidak pernah ia perhatikan kini terlihat jelas—seperti peta sungai kering, seperti garis-garis kehidupan yang tidak lagi mengalir.
Di sebelahnya, tubuh Dimas berbaring membelakangi—bahu yang dulu sering dipeluknya kini hanya berupa gundukan tak bergerak di balik selimut. Dengkurannya ritmis, stabil, dan sama sekali tak menyentuh jiwa. Napasnya teratur seperti metronom. Tik. Tok. Tik. Tok. Mekanis.
Seperti mesin, pikir Raisa. Suamiku tidur seperti mesin yang sedang dicharge untuk bekerja esok hari.
Ia memalingkan wajah ke jendela. Cahaya bulan menyelinap lewat celah gorden biru tua—gorden yang mereka pilih bersama tiga tahun lalu, saat masih ada "mereka" dalam setiap keputusan. Cahaya itu melukai garis wajahnya yang tak lagi mengenal senyum spontan. Tiga tahun pernikahan. Lima tahun pacaran sebelum itu. Delapan tahun total—cukup untuk membuat sebuah hubungan menjadi seperti sofa lama: nyaman secara teknis, tapi kehilangan segala daya pikat.
Tangannya meraba permukaan kasur di antara mereka. Dingin. Sprei sutra yang lembut terasa seperti es di ujung jarinya, meski AC kamar sudah dimatikan sejak tadi. Dingin dari ketiadaan. Dingin dari jarak.
Ia mengukur dengan jari: tiga puluh sentimeter. Tepat. Selalu selebar itu. Jarak yang tak pernah dilewati oleh salah satu dari mereka sejak enam bulan terakhir. Atau lebih lama? Raisa kehilangan hitungan. Waktu menjadi kabur ketika setiap hari terasa sama.
Enam bulan yang terasa seperti enam tahun.
Awal-awal pernikahan, mereka tidur berpelukan—kakinya menyelip di antara kaki Dimas, wajahnya terkubur di lehernya yang berbau sabun mandi dan aftershave kayu cedar. Bau itu dulu membuatnya tenang, membuat napasnya melambat, membuat tidurnya nyenyak. Tubuhnya melengkung sempurna mengikuti lekuk punggung Dimas. Hangat. Pas. Seperti dua keeping puzzle yang dirancang untuk saling melengkapi.
Kini? Mereka tidur seperti dua negara yang berdamai setelah perang—menghormati batas wilayah, tak ada invasi. Gencatan senjata permanen. Damai yang mati.
Raisa menghela napas. Suaranya sendiri terdengar keras di telinganya di keheningan kamar. Udara malam masuk lewat ventilasi, membawa bau samar bunga kamboja dari taman tetangga. Bau yang terlalu manis. Bau yang membuatnya sedikit mual.
Atau mungkin ia yang mual dengan kehidupannya sendiri.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka bercinta. Bukan sekadar hubungan seksual—ia bisa menghitungnya: tujuh puluh tiga hari lalu. Tujuh puluh tiga hari sejak tubuh Dimas masuk ke tubuhnya dengan gerakan cepat, mekanis, seperti menyelesaikan tugas. Lima menit. Mungkin tujuh. Lalu selesai. Selesai begitu saja.
Tapi kapan terakhir kali mereka bercinta? Kapan terakhir kali Dimas menatap matanya saat masuk ke tubuhnya? Kapan terakhir kali ia merasa diinginkan, bukan sekadar digunakan? Kapan terakhir kali ada ciuman yang lebih dari sekadar formalitas? Kapan terakhir kali ada sentuhan yang membuat kulitnya bergetar?
Tujuh puluh tiga hari. Cukup untuk membuat seorang wanita lupa bagaimana rasanya disentuh dengan cinta. Cukup untuk membuat tubuhnya merasa asing, seolah milik orang lain.
* * *
"Kamu lelah ya?" tanyanya suatu malam, setelah Dimas berguling dan langsung tertidur setelah bercinta singkat mereka.
"Lumayan. Deadline proyek gila-gilaan." Suaranya sudah setengah terlelap, tercekat di antara sadar dan tidur.
Raisa ingin berteriak: Aku juga lelah! Lelah dengan sunyi ini! Lelah dengan tubuhku yang tak pernah kau sentuh seperti dulu! Lelah dengan jarak tiga puluh sentimeter yang tidak pernah menyempit!
Tapi ia diam. Selalu diam. Seperti malam-malam lainnya. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, membuat dadanya sesak.
* * *
Ia bangkit dari tempat tidur, kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Kayu jati yang mereka pilih karena "hangat dan natural," kata Dimas dulu. Tapi sekarang terasa seperti es. Atau mungkin kulitnya yang sudah mati rasa.
Berjalan menuju dapur, setiap langkah berbunyi pelan di keheningan rumah. Mengambil segelas air dari dispenser. Air dingin mengalir di tenggorokan, tapi tidak menghilangkan kekeringan di dadanya.
Di ruang keluarga, foto pernikahan mereka tergantung—Raisa dengan gaun pengantin putih yang membuatnya terlihat seperti puteri dongeng, mahkota kristal di rambut, senyum lebar yang tulus. Dimas dengan setelan hitam, dasi kupu-kupu, senyum yang kini lebih sering ia lihat di rapat Zoom daripada di rumah. Di foto itu, tangan mereka bertautan. Jari-jari saling menggenggam erat. Seperti tidak akan pernah terlepas.
Bohong.
Kita dulu tertawa, kenangnya, jari menelusuri pinggir frame foto yang mulai berdebu. Kapan terakhir kali ia membersihkan frame ini? Kapan terakhir kali ia benar-benar melihatnya?
Kita dulu saling mengejar di pantai saat bulan madu, air laut membasahi ujung gaunku, pasir menempel di kakimu. Kita tertawa sampai perutku sakit. Mencuri ciuman di lift hotel, tidak peduli ada orang lain yang melihat. Bercinta di dapur saat hujan deras, mejamu mengganjal punggungku tapi aku tidak peduli karena bibirmu ada di leherku dan tanganmu ada di pinggangku dan aku merasa hidup—
Kapan semua itu hilang?
Mungkin perlahan-lahan. Seperti es yang mencair di musim semi—tak terasa sampai semuanya sudah menjadi air yang menggenang, menjadi genangan kotor yang tidak bisa dikembalikan menjadi es lagi.
Raisa meletakkan gelas di wastafel. Airnya setengah diminum. Setengah lagi dibiarkan begitu saja—seperti banyak hal dalam hidupnya belakangan ini. Setengah-setengah. Tidak selesai. Menggantung.
Ia kembali ke kamar. Dimas masih dalam posisi yang sama. Bahkan tidak bergerak sedikit pun. Raisa merangkak ke tempat tidur, kasur berderit halus—bunyi yang biasanya tidak terdengar, tapi di keheningan malam ini terdengar seperti teriakan.
Matanya menatap punggung suaminya. Punggung yang dulu terasa seperti tempat paling aman di dunia. Sekarang terasa seperti tembok. Ada dorongan untuk menyentuhnya, memeluknya dari belakang, mencium bahunya, mencoba membangunkan sesuatu yang mungkin masih tersisa.
Tapi ia takut.
Bukan takut ditolak—takut diabaikan. Ditepuk seperti anak kecil. "Nanti, Sayang. Aku capek." Atau lebih buruk: diabaikan sepenuhnya. Tangannya disampingkan tanpa kata-kata. Seperti lalat yang hinggap. Seperti gangguan kecil yang bisa diabaikan.
Jadi ia membalikkan badan, menghadap jendela lagi. Matanya berkaca-kaca. Satu tetes air mata mengalir ke pelipis, hilang di rambut.
Aku istri yang baik, bisik hatinya. Aku memasak tiga kali sehari. Aku merapikan rumah sampai tidak ada debu. Aku tidak pernah menuntut. Aku tidak pernah marah. Aku tidak pernah mengeluh.
Tapi kenapa aku merasa seperti hantu di rumah sendiri?
Di luar, seekor kucing mengeong. Panjang. Sedih. Seperti menangis. Suara kehidupan yang terus berjalan sementara ia terbaring beku di kasurnya. Dunia berputar. Orang-orang mencintai. Orang-orang bercinta. Orang-orang hidup.
Sementara ia di sini. Tiga puluh sentimeter dari suaminya. Tapi terasa seperti tiga puluh ribu kilometer.
Raisa menutup mata, mencoba tidur. Tapi kelopak matanya tidak bisa menutup sepenuhnya. Cahaya bulan masih menyelinap masuk.
Tapi yang ia rasakan hanyalah sunyi yang semakin dalam, semakin menggigit. Sunyi yang punya gigi. Sunyi yang perlahan memakan jiwanya dari dalam.
Dan dalam sunyi itulah, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya:
Apa yang salah dengan diriku?
Apakah aku tidak cukup cantik? Tidak cukup menarik? Tidak cukup pintar? Tidak cukup… apa?
Atau… apa yang salah dengan kita?
Apakah pernikahan memang seperti ini? Apakah semua orang yang sudah menikah tiga tahun tidur dengan jarak tiga puluh sentimeter? Apakah ini normal? Apakah ini yang namanya "dewasa"?
Atau apakah kita yang salah?
Pertanyaan yang tidak punya jawaban. Atau mungkin punya, tapi ia terlalu takut untuk mengakuinya. Terlalu takut untuk menyebutnya dengan namanya.
Mati. Pernikahan mereka sudah mati.
Dan Raisa tidak tahu apakah masih bisa dihidupkan lagi.
“หากเจ้าอายุเพียงพันปี แต่ข้าอายุหมื่นปี ช่วงชีวิตที่เหลืออันยาวนานนี้ มิกลายเป็นบทลงโทษอันแสนทรมานสำหรับข้าเพียงลำพังหรอกหรือ?”ไม่นานหลังจากนั้น หลี่จื่อเกอก็ฝ่ากระแสคัดค้านจากทุกฝ่าย ยืนกรานที่จะแต่งตั้งเฉาหวงขึ้นเป็นรัชทายาทหญิงทว่าครั้งนี้กลับไม่ได้ราบรื่นนัก ทั่วทั้งราชสำนักต่างเกิดเสียงวิพากษ์วิจารณ์ดังระงม เหล่าขุนนางเก่าแก่ที่นำโดยอัครมหาเสนาบดีต่างก้าวออกมาคัดค้าน โดยอ้างว่าตั้งแต่โบราณกาลมา การตั้งรัชทายาทล้วนต้องเป็นบุตรชายสายตรงและมีลำดับอาวุโส ไม่เคยมีธรรมเนียมการตั้งสตรีขึ้นเป็นรัชทายาทมาก่อนหลังจากเลิกประชุมขุนนาง หลี่จื่อเกอก็ตรงมาที่ตำหนักฟ่งอี๋ทันที หว่างคิ้วของเขายังคงมีร่องรอยแห่งโทสะที่ยังไม่จางหาย “พวกตาแก่หัวรั้นพวกนั้นทำเอาข้าแทบกระอักเลือด โดยเฉพาะหานจ้านหมิงกับกงซุนซิ่น หลายปีมานี้คอยขัดใจข้าในทุกๆ เรื่อง”เขาดูเหมือนจะนึกอะไรบางอย่างออก จึงชะงักไปครู่หนึ่งก่อนจะกล่าวว่า: “เมื่อก่อนพวกเขาเคยเป็นที่ปรึกษาของตระกูลซูของเจ้าไม่ใช่หรือ? แถมยังเคยเป็นรองแม่ทัพของเจ้าด้วย” “เอาอย่างนี้ดีไหม พรุ่งนี้เจ้าตามข้าเข้าประชุมขุนนาง นั่งหลังม่านบริหารราชการด้
ตระกูลจ้าววางแผนการลับชั่วข้ามคืน วางแผนการสลับตัวองค์หญิงสิ่งที่พวกเขาต้องการคือองค์หญิงที่สามารถควบคุมได้อย่างสมบูรณ์ ตอนที่นางขึ้นครองราชย์ แผ่นดินนี้จะได้ตกเป็นของตระกูลจ้าวอย่างชอบธรรม พวกเขาตามรอยเส้นทางหลบหนีภัยสงครามของข้าในตอนนั้น จนพบกับหมอชาวแม้วที่เคยช่วยชีวิตข้าไว้ คนผู้นี้เชี่ยวชาญวิชาแปลงโฉมอย่างหาตัวจับยาก และเขาก็มีบุตรสาวคนหนึ่งที่มีอายุไล่เลี่ยกับเฉาหวง ซึ่งก็คือรุ่ยเฟิ่งในตอนนี้ ในอดีต เพราะข้าสงสารที่บุตรสาวเพิ่งเกิด ไม่อยากให้นางต้องเจ็บตัวจากการสักแบบดั้งเดิม จึงใช้สีย้อมจากพืชชนิดพิเศษวาดรูปหงส์ทองลงไป ความรักและความเมตตาของผู้เป็นแม่นี้เอง กลับกลายเป็นช่องโหว่ให้พวกมันนำไปใช้ประโยชน์ ซินแสพยากรณ์ผู้นั้นใช้น้ำยาชนิดพิเศษ ลบรอยปานบนแขนของเฉาหวงออกได้อย่างง่ายดายแผนการร้ายที่วางไว้เนิ่นนานถึงสิบปี ก้าวเดินอย่างแยบยลในทุกฝีก้าว หากไม่ใช่เพราะข้าฟื้นคืนจากความตาย เฉาหวงก็คงต้องแบกรับชื่อเสียว่าเป็นตัวปลอม และใช้ชีวิตที่เหลืออยู่อย่างอัปยศอดสูไปตลอดกาลหลี่จื่อเกอลงมือรวดเร็วกว่าที่ข้าคิดไว้มาก สามวันต่อมา กรมอาญา ศาลยุติธรรมสูงสุด และกรมตรวจการ ร่
“ฝ่าบาทไม่ทรงเห็นแก่ความผูกพันเก่าก่อนเลยแม้แต่น้อยหรือเพคะ?!”หลี่จื่อเกอยกมุมปากขึ้นเป็นรอยยิ้มที่เย็นยะเยือกที่สุด เผยความรังเกียจออกมาอย่างไม่ปิดบัง: “ระหว่างข้ากับเจ้า เคยมีความผูกพันกันตั้งแต่เมื่อไหร่? หากไม่ใช่เพราะเห็นว่าองค์หญิงยังเยาว์วัย จำต้องมีคนดูแล ข้าหรือจะรับเจ้าเข้าวัง? จนถึงป่านนี้ เจ้ายังมองฐานะตัวเองไม่ออกอีกหรือ?”ใบหน้าของจ้าวเยียนเยว่ซีดเผือดไร้สีเลือดในพริบตา แต่ยังคงฝืนข่มขู่ต่อ: “วันนี้พระองค์ทรงกล้าทำเช่นนี้กับหม่อมฉัน ทำกับสตรีตระกูลจ้าว ไม่ทรงกลัวเหล่าตระกูลขุนนางทั่วทั้งราชสำนักจะหมดศรัทธาหรือเพคะ?” “ตระกูลจ้าวแห่งลู่จวิ้น รวมถึงตระกูลใหญ่ทุกตระกูลที่จับตาดูอยู่ จะต้องมีความเห็นต่อการกระทำของฝ่าบาท...”หลี่จื่อเกอแค่นหัวเราะพลางขัดจังหวะคำขู่ของนาง: “ประจวบเหมาะพอดีเลย ข้าอยากจะสะสางพวกตระกูลขุนนางที่หยั่งรากลึกฟอนเฟะพวกนี้มานานแล้ว โดยเฉพาะตระกูลจ้าวแห่งลู่จวิ้นของเจ้า!”เขาไม่ชายตามองใบหน้าอันไร้สีเลือดของนางอีก และไม่เปิดโอกาสให้นางได้ดิ้นรนใดๆ เขาส่งเสียงเรียกทหารองครักษ์เข้ามาทันที “ฝ่าบาท! ฝ่าบาท...!”เสียงกรีดร้องโหยหวนของจ้าวเยียนเ
“แต่ท่านล่ะ? ท่านกลับไปเชื่อคำลวงพวกนั้น ปล่อยให้คนอื่นดูหมิ่นและทารุณนาง! หลายปีมานี้ ท่านเคยถามไถ่ห่วงใยนางสักคำบ้างหรือไม่?” “ท่านยังจำได้ไหมว่าตอนที่ตั้งชื่อนางว่าเฉาหวง ท่านเคยพูดไว้อย่างไร? ตอนนี้ ท่านทำได้ตามที่พูดไว้สักเสี้ยวหนึ่งแล้วหรือไม่?!”หลี่จื่อเกออึ้งไปกับคำถามของข้า เขาพยายามอธิบายอย่างร้อนรน: “ตวนหัว เจ้าเข้าใจผิดแล้ว! ตอนนั้นตอนที่เจ้าบาดเจ็บสาหัส เด็กถูกสลับตัวไปแล้ว” “เป็นความผิดของข้าเอง เมื่อวานข้ากลัวว่าเจ้าจะเสียใจ จึงไม่กล้าบอกความจริงกับเจ้าทั้งหมด” เขาชี้ไปยังปานรูปหงส์ทองคำบนแขนของรุ่ยเฟิ่ง: “เจ้าดูสิ นี่คือรอยสักที่เจ้าสักให้ลูกสาวกับมือ มีเพียงรุ่ยเฟิ่งที่มีมัน ข้าไม่มีทางจำหงส์ทองตัวนี้ผิดแน่นอน!”ข้าจ้องมองเขาด้วยความเจ็บปวดร้าวรานถึงขั้วหัวใจ ก่อนจะถามออกไปทีละคำ: “ใครๆ ต่างก็บอกว่าข้าไม่ใช่ซูตวนหัว เรื่องประหลาดลี้ลับอย่างการฟื้นคืนจากความตายเช่นนี้ ท่านไม่กลัวหรือ... ว่าข้าจะเป็นคนของคนอื่นที่ส่งมาหลอกลวงท่าน?”ปลายนิ้วของหลี่จื่อเกอไล้ไปตามหัวคิ้วและดวงตาของข้าเบาๆ แล้วพึมพำว่า: “ซูเอ้อหยา ต่อให้เจ้ากลายเป็นเถ้าถ่าน ข้าก็จำเจ้าได้”