ใต้เท้าเจ้าขออย่ากลั่นแกล้งข้านักเลย

ใต้เท้าเจ้าขออย่ากลั่นแกล้งข้านักเลย

last update最終更新日 : 2024-11-28
作家:  Luffy.g完了
言語: Thai
goodnovel4goodnovel
評価が足りません
68チャプター
6.2Kビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

แอบรัก

รักข้ามสถานะ

คุณหนู

สวย

บุคคลที่สาม

จางหมินเย่ว บุตรสาวเสนาบดีกรมคลัง แต่กลับตกหลุมรักซ่งฟู่หลง ขุนนางขั้นเจ็ด แต่เพราะความคลั่งรักที่มี ทำให้นางยอมทำทุกวิถีทางเพื่อให้ได้แต่งงานกับเขา แต่ใครจะคิดว่าซ่งฟู่หลงกลับไม่แม้แต่จะแยแสตนเลยแม้แต่น้อย ครั้นพอคิดจะตัดใจหนีห่าง เขากลับเอาแต่คอยวนเวียนอยู่ข้างกาย แล้วเป็นเช่นนี้นางจะตัดใจลงได้อย่างไรกันเล่า "ใต้เท้า...ข้ารักท่าน แต่มิใช่เหตุให้ท่านเอาแต่กลั่นแกล้งข้าเช่นนี้"

もっと見る

第1話

บทที่ 1 ข้าต้องการแต่งงาน

Aku melirik setumpuk file di meja lelaki yang baru berhasil menarik perhatianku. Setiap kali memasuki ruangannya, jantungku berdetak lebih cepat di luar dugaan. Sial! Sudah dua puluh menit lamanya kakiku menapak di hadapan Pak Beni—direktur kantor. Untung saja wajahnya tampan dan hidungnya juga mancung. Yang lebih membuatku mati kutu lagi ketika rambutnya yang tak pernah lupa untuk dibelah ke samping. Ah, sungguh sangat membuat diri ini bertekuk lutut dihapannya.

“Adinda, tolong kamu kamu cek lagi file yang bertanda tangan saya,” ucap Pak Beni yang sempat membuatku kaget.

“I-iya, Pak.” Aku bahkan menjawabnya dengan nada bicara yang membuatku gugup.

Aku berharap Pak Beni tidak menyadari kalau pikiran gugup selalu melanda setiap kali masuk ke ruangannya. Entah, beberapa hari ini bayangan rambut belah sampingnya selalu saja terlintas dalam benakku. 

Benar saja, wanita berumur dua puluh delapan tahun sepertiku ini sudah bukan hal yang aneh jika mengalami perasaan menyukai seseorang.

 Aku juga tidak mengerti setiap ada pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh sekretarisnya malah aku yang selalu jadi sasaran lelaki tampan itu.

Meski terlihat seperti tidak peduli tetapi, sesekali aku ikut mencuri pandang kala ia sedang menatap ke arahku walau akhirnya ia menoleh ke arah lain. Sebenarnya, aku mulai menyadari kalau selama ini diam-diam Pak Beni memerhatikan setiap gerak gerikku. Ah, biar saja. Aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin dan keluar dari ruangan yang tiba-tiba suasananya jadi panas persis sepanas hatiku.

“Sudah selesai, Dinda?” Astaga sekarang malah Pak Beni berdiri di hadapanku. Oh, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan, mendadak tanganku menjadi dingin dan aku terpaksa menggigit bibirku lagi.

“Ma-maaf … belum, Pak,” jawabku gugup.

“Ya, sudah. Sini, saya bantu,” lanjut Pak Beni yang nyaris membuat mulutku seakan terbungkam seketika.

Aku bisa melihat betapa berwibawanya sosok yang ada di hadapanku saat ini. Bahkan posisiku saat ini begitu berdekatan dengan Pak Beni sehingga wewangian dari parfum yang ia pakai begitu menusuk ke indra penciumanku. Dan saat ini mata kami saling bersitatap, aku merasa tersipu lalu aku menunduk dan menatap lembaran putih di atas meja.

“Oke, selesai semuanya.” Lagi-lagi gerakan bola matanya menuju ke arahku.

“Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu,” balasku yang langsung beranjak dari tempat dudukku.

Sesaat aku berjalan menuju pintu, tiba-tiba suara Pak Beni menghentikan langkahku, “Pulang kantor, saya antar, ya, Adinda.”

Apa aku tidak salah mendengar kalau Pak Beni mau mengantar aku pulang? Tapi, syukurlah setidaknya saat mendekati magrib nanti keadaan jadi aman artinya aku tidak perlu diganggu sama mahluk-mduduk tak kasat mata itu. 

Karena ia akan terasa hadir bila aku seorang diri tanpa teman yang menemani. Kalau tidak, aku akan terus berurusan dengan mereka.

 Rasanya sudah tidak sabar menunggu waktu pulang kantor.

Akhirnya semua pekerjaan telah kuselesaikan dan jam pulang pun sudah tiba. Aku meraih tas dan juga ponsel dan segera berjalan ke depan. Terlihat satu persatu karyawan sudah meninggalkan kantor sedang aku masih berdiri di sofa ruang tunggu. 

Saat jemariku menari lincah di atas layar saking bosannya menunggu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sepatu hitam mengkilap yang sudah berdiri di depan. Ternyata Pak Beni sudah berdiri beberapa detik menungguku.

“Yuk!” Pak beni mengajakku dengan memegang erat tanganku dan berjalan beriringan dengannya. Kali ini jantungku normal tidak seperti biasanya bahkan, aku nyaman berada di dekatnya.

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada dalam mobil mewah yang suasanya sejuk dan nyaman. 

Sejak tiga bulan aku bekerja dan bertemu lelaki dengan rambut belah samping, hari-hariku di kantor semakin menyenangkan terlebih saat beberapa kali Pak Beni kepergok  sedang mencuri pandang padaku. Entah, mungkin aku mulai jatuh cinta padanya dan percaya bahwa ia lelaki yang baik. 

Aku melirih rambut belah tengahnya, menyusuri lekuk garis di wajahnya. Ah, ia cukup membuat diri ini terpesona.

“Adinda, sebenarnya saya ingin mengajak kamu makan malam dengan saya. Apa kamu keberatan?” ucap Pak Beni membuat diriku tidak dapat menolak ajakannya.

“Boleh juga, Pak,” jawabku singkat dan tidak berani menatap wajahnya.

“Mulai sekarang kamu nggak usah panggil saya dengan sebutan ‘Pak Beni’ lagi. Panggil saja Beni, Oke.” 

Astaga, kenapa ia menatapku lagi! Sumpah, aku malu.

“Iya, Pak, eh … Beni,” jawabku  masih dengan nada kaku.

Tanpa terasa kenyamanan menghentikan kendaraan beroda empat itu di sebuah restoran mewah di tengah kota. 

Aku kaget ketika Beni membukakan pintu untukku dan memperlakukan diriku seperti putri dari kerajaan.

Dari jauh beberapa meter  kami berjalan, tampak ruangan sedang dengan temaram cahaya lampu yang dihiasi bunga mawar di atas meja. 

Pemandangan yang sungguh indah. Aku baru sadar ternyata Beni membawaku ke tempat makan malam yang romantis. Lagi, tatapannya tidak berkedip sedikitpun ke arahku. 

Kami duduk berhadapan dengan dipenuhi menu makan malam yang istimewa pastinya.

 

“Kamu suka, Adinda?” tanya Beni tersenyum kecil padaku.

“Suka banget, Beni,” jawabku ikut membalas senyumnya juga.

Tanpa menunggu lama, kami akhirnya menikmati makan malam di suasana hangat ini bersama dan saling mencuri pandang.

 Keheningan seolah menjadi saksi pertemuan indah ini. Setelah selesai aku meraih tisu bermaksud mengelap sisa makanan yang menempel di mulut hingga dengan gerakan cepat tangan Beni menghilangkan noda di sana dengan sentuhannya yang lembut.

“Sejak pertama  melihatmu, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, Adinda.” Beni meraih jemariku dan menatapku lekat-lekat. 

Oh, Tuhan. Jadi, Beni punya perasaan yang sama denganku?

“Kamu, mau kan jadi istri saya, Adinda?” Beni menaruh satu tangannya lagi di atas punggung tanganku.

Tanpa bersuara, aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada lelaki dengan rambut belah samping yang baru saja melamarku. 

“Saya janji akan menjadi suami yang baik buat kamu.” Beni menarik tanganku hingga saat ini berdiri di hadapannya. Terasa hangat saat bibirnya menyentuh tepat di keningku. Lantas tubuhnya mendekapku seolah tak terlepas lagi.

Dan malam itu menjadi malam terindah dalam hidupku. Satu minggu kami mempersiapkan pernikahan kami hingga akhirnya kami sah menjadi suami istri. 

Kutatap Beni—suamiku dengan menggoda hingga langkahnya seketika berhambur ke pelukanku dan bibirnya berpautan dengan bibirku. Hangat. 

Malam pertama kami lalui dengan penuh cinta dan sentuhan mesra. Memiliki Beni adalah hal terindah di setiap episode kehidupanku esok dan seterusnya.

“Sayang, kita ambil cuti dulu berapa hari, Oke? Kan kita lagi bulan madu,” ucapku selagi mengolesi selai coklat di roti untuk kami sarapan pagi.

“Iya, Sayang,” jawab suamiku seraya melingkari tangannya ke pinggangku. Iya, Beni semakin agresif setelah kami menikah.

Selesai sarapan, kami berangkat ke kantor bersama. Terkadang saking mesranya sampai-sampai sebutan panggilan ‘pengantin baru’ selalu terdengar saat kami di kantor dan bertemu dengan siapa saja karyawan di sana.

Sekarang, Beni tidak memperkerjakan sekretarisnya lagi melainkan aku memintanya untuk menggantikan seluruh pekerjaanya. Itu semua kulakukan agar bisa selalu dekat dengan suami tersayangku. 

Rasanya sehari saja tak bertemu dengan lelaki rambut belah samping itu hidupku sepertinya ada yang kurang.

“Sayang, kamu jangan terlalu banyak bekerja dong, kan, kamu sekarang sudah jadi isrti seorang direktur perusahaan. Jadi, santai sajalah, ya? Aku nggak mau nanti kamu sakit dan kecapean,” ucap Beni penuh perhatian dengan ikut membereskan dan membantu pekerjaanku.

“Iya, Sayang. Makasih banget, jadi makin sayang, deh,” lanjutku menggodanya dengan satu kedipan mata.

Tanpa terasa satu bulan telah berlalu, aku masih setia membantu suamiku menyelesaikan pekerjaannya. 

Aku merasa hari ini sangat melelahkan dan kepalaku mendadak ikut pusing sepertinya. Perlahan aku mencari kursi untuk menopang tubuhku yang lemah ini. 

Aku tidak ingin memberitahu Beni takut nantinya malah mengganggu pekerjannya. Aku pulang lebih awal sore tadi  sedang suamiku ada rapat penting yang harus ia hadiri. 

Entah kenapa bulu kudukku terasa meremang sepertinya hawa juga mulai dingin dan angin perlahan mengibas rambutku. 

Astaga! Kenapa harus malam ini aku merasakan kehadiran mereka? Benar saja, malam ini suamiku tidak ada di rumah.

Tiba-tiba isi dalam perutku seperti diaduk-aduk dan lama –lama semakin menjadi. Dan membuat langkah ini meluncur hingga ke kamar mandi dan saat itu juga aku menumpahkan segala isinya ke dalam kloset.

 Akhirnya aku merasa lega dan tenang, lantas aku melangkah menuju ke kamar dan beristirahat. 

Benar saja, aku lagi- lagi merasakan aura kahadiran mahluk tak kasat mata itu. Namun, seperti biasa aku tak ingin menghiraukannya apa lagi mengganggunya. Kuputuskan untuk menarik selimut dan terlelap sejenak.

Aku terbangun saat mendengar deru mesin dari arah luar. Sepertinya suamiku pulang dan kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11.00 malam. 

Perlahan kuturuni anak tangga satu per satu untuk membukakan pintu kepulangan suamiku.

“Sayang, kamu belum tidur?” tanya Beni usai memberikan jas dan ponselnya padaku.

“Udah sih, tadi sebentar, Sayang.”

Akhirnya aku lega karena hawa yang menyengat itu menghilang dalam sekejap sesaat suamiku tidur di sebelahku. 

Esok paginya, kembali aku merasakan nyeri di lambungku. Iya, aku mual-mual hingga aku sadar bahwa sebulan sudah aku terlambat haid. 

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む
コメントはありません
68 チャプター
บทที่ 1 ข้าต้องการแต่งงาน
บทที่ 1 ข้าต้องการแต่งงาน“ท่านพ่อ ข้าพบคนที่ข้าพึงใจแล้ว ข้าต้องการแต่งงาน” เสียงออดอ้อนดังขึ้นในจวนสกุลจาง จางหมินเย่วคุกเข่าลงตรงหน้าบิดาของตน จางเหวิ่นชิงเสนาบดีกรมคลัง สองมือบางกอบกุมฝ่ามือใหญ่ที่เริ่มเหี่ยวย่นไปตามกาลเวลาของเขา สายตาจ้องมองหน้าบิดาด้วยความเว้าวอนบัดนี้จางหมินเย่วผ่านพ้นพิธีปักปิ่นมาร่วมหนึ่งปีแล้ว ภาพของซ่งฟู่หลงฉายชัดเข้ามาในหัวของนาง ภาพในช่วงเทศกาลโคมลอยที่จัดขึ้นอย่างคึกคักยิ่งใหญ่ ช่วงเวลานั้นชายหนุ่มและหญิงสาวในเมืองต่างพากันนั่งเรือลำใหญ่สองลำซึ่งแยกบุรุษและสตรีออกจากกัน เรือทั้งสองลอยขนาบด้านข้างกันไปเพื่อชมโคมลอยที่ถูกปล่อยจนเต็มไปทั่วท้องฟ้า แต่วัตถุประสงค์ที่แท้จริงก็ไม่ต่างจากการนัดพบของบรรดาเหล่าคุณชายและคุณหนูของจวนต่างๆ เพื่อผูกสมัครรักใคร่กันในอนาคต จางหมินเย่วก็เป็นหนึ่งในบรรดาคุณหนูเหล่านั้น นับเป็นครั้งแรกที่จางหมินเย่วได้มีโอกาสออกมาเที่ยวชมเทศกาลโคมลอยพร้อมกับพี่สาวของนาง จางหมินเย่วทั้งตื่นเต้นและตื่นตากับบรรยากาศอันน่าครึกครื้นเช่นนี้จางหมินเย่วเป็นบุตรสาวคนรองของเสนาบดีจางเหวิ่นชิง พี่สาวของนางคือจางเซี่ยโยว คุณหนูให
続きを読む
บทที่ 2 เกลี้ยกล่อม
จางเหวิ่นชิงที่โกรธจัดจนเนื้อตาสั่นเทิ้ม ดวงตาแดงก่ำบ่งบอกถึงความอดทนที่ถึงขีดสุด เขาเงื้อมมือขึ้นอีกหนอย่างไม่อาจระงับอารมณ์ได้อีก“ท่านพี่...มีเรื่องอันใดก็ค่อยๆ คุยกันก่อนเถิด เหตุใดต้องลงโทษลูกเช่นนี้กัน” เซี่ยเหมยที่เพิ่งก้าวเข้ามาภายในห้อง นางเร่งฝีเท้าเข้ามารั้งแขนจางเหวิ่นชิงไว้ ก่อนจะรีบปรี่เข้าไปประคองร่างของจางหมินเย่วในทันที“เย่วเอ๋อร์เจ้าเจ็บหรือไม่ เจ้าอย่าถือสาพ่อของเจ้าเลยนะ พ่อของเจ้าเพียงเป็นห่วงเจ้ามากเกินไปเท่านั้น” เซี่ยเหมยพูดพลางลูบหลังจางหมินเย่วไปมา พร้อมหันไปหาจางเหวิ่นชิงสามีของตน “ท่านพี่ก็ใจเย็นก่อนเถิด เย่วเอ๋อร์ยังเด็กนักจึงได้คิดทำตามอำเภอใจมากไปหน่อย ไว้ข้าจะพูดกับนางเอง” เซี่ยเหมยรีบหว่านล้อมจางเหวิ่นชิงในทันที ก่อนจะหันไปส่งสายตาปลอบใจจางหมินเย่วและพยักหน้าส่งสัญญาณให้จางหมินเย่วกลับห้องตนเองไปก่อน“ข้าไม่กลับ วันนี้ข้าต้องคุยกับท่านพ่อให้รู้เรื่อง” จางหมินเย่วยังคงยืนกรานด้วยท่าทางที่หนักแน่นจริงจัง“เจ้าดู...เจ้าดูลูกบังเกิดเกล้าของเจ้าสิ” จางเหวิ่นชิงถึงกับกระทืบเท้า นิ้วมือชี้ไปตรงหน้าจางหมินเย่ว พร้อมหันไปตะคอกใส่เซี่ยเหมย “เป็นเพราะฮูหยิน...เพ
続きを読む
บทที่ 3 ท่านแม่ดีกับข้าที่สุด
จางหมินเย่วเดินกระแทกเท้ากลับมายังเรือนของตนด้วยความรู้สึกขัดเคืองใจ ความร้อนรนทำให้นางเอาแต่เดินไปเดินมาอยู่ภายในห้องอย่างวิตกกังวล “คุณหนูรอง ท่านสงบใจลงก่อนเถิดเจ้าค่ะ” เล่อจิ้นสาวใช้คนสนิทพูดปลอบประโลมจางหมินเย่ว หลังเห็นนางท่าทางหงุดหงิดและอารมณ์เสีย “เล่อจิ้น...เจ้าไปคอยดูท่านแม่ที่หน้าเรือน หากเห็นท่านแม่รีบมาแจ้งข้าเร็ว” “เจ้าค่ะ” เล่อจิ้นรีบรับคำ ผ่านไปร่วมชั่วยามร่างบางระหงของเซี่ยเหมยก็ปรากฏตัวที่หน้าเรือน หญิงวัยกลางคนที่ยังดูงดงาม ยามเดินย่างกรายกลับดูสุขุมและอ่อนโยน “คุณหนูรอง ฮูหยินมาแล้วเจ้าค่ะ” จางหมินเย่วได้ยินเช่นนั้นก็รีบวิ่งออกไปด้านนอกในทันที “ท่านแม่...ท่านพ่อว่าอันใดบ้าง ท่านแม่พูดให้ข้าแล้วใช่หรือไม่” จางหมินเย่วถามคำถามรัวออกไปอย่างร้อนใจ “เย่วเอ๋อร์ เจ้าใจเย็นก่อน ให้แม่ได้พักหายใจสักหน่อย” เซี่ยเหมยหยอกเย้าใส่นางเมื่อเห็นท่าทางตื่นเต้นอย่างออกนอกหน้า “ท่านแม่...ก็ข้าร้อนใจนี่เจ้าคะ” จางหมินเย่วก้มหน้างุดลงไป ก่อนจะประคองเซี่ยเหมยเข้ามาภายในเรือน จางหมินเย่วรีบพานางนั่ง
続きを読む
บทที่ 4 ขอพบ
จางหมินเย่วตื่นแต่เช้าตรู่จนเล่อจิ้นอดประหลาดใจไม่ได้แต่เมื่อได้เห็นนายหญิงของตนรีบตรงเข้าเข้าครัวเพื่อทำเซาปิ่ง นางก็อดนึกขบขันในความคลั่งรักของจางหมินเย่วเสียมิได้จางหมินเย่วใช้เวลาในการทำเซาปิ่งกว่าสี่ชั่วยามกว่าที่ขนมจะสำเร็จเป็นรูปเป็นร่าง เมื่อจางหมินเย่วตระเตรียมทุกอย่างจนเสร็จสิ้นด้วยมือของตนเอง นางยกยิ้มขึ้นมาด้วยความภาคภูมิใจใบหน้าของซ่งฟู่หลงปรากฏเด่นชัดขึ้นในความคิดของจางหมินเย่ว สายตาละเมอเพ้อพก นัยน์ตาชวนฝันดั่งคนที่ตกอยู่ในภวังค์ความรัก ทำเอาเล่อจิ้นอดที่จะหยอกเย้านางอย่างเสียมิได้ “คุณหนู ใต้เท้าซ่งต้องปลาบปลื้มเป็นแน่เจ้าค่ะ”จางหมินเย่วยิ้มกริ่มรับโดยทันที “ขนมเสร็จแล้ว พวกเรารีบกลับไปแต่งตัวกันเถิด”จางหมินเย่วอาบน้ำแต่งตัวอย่างพิถีพิถัน โดยมีเล่อจิ้นคอยดูแลอยู่ไม่ห่าง “คุณหนูช่างงดงามยิ่งนัก หากใต้เท้าซ่งได้พบคุณหนูจะต้องตกหลุมรักคุณหนูเป็นแน่” เล่อจิ้นกล่าวออกมาตามที่นางเห็น จางหมินเย่วนับวันยิ่งงดงามขึ้นอย่างมาก ใบหน้าที่จิ้มลิ้มรับกับดวงตากลมโตอันหวานซึ้งชวนให้หลงใหล ผิวขาวเนียนราวกับหยวกกล้วย ทั้งหน้าอกกลมมนที่ใหญ่โตกว่าหญิงสาวรุ่นราวคราวเดียวกันจางหมินเย่วค
続きを読む
บทที่ 5 ดักพบ
หลังจากซ่งฟู่หลงฝึกกระบี่เรียบร้อย เขาหย่อนกายนั่งพักตรงโต๊ะด้านข้างลานภายในสวน เขาหยิบผ้าขาวขึ้นซับเหงื่อที่ไหลชโลมกายไปทั่ว พ่อบ้านเดินนำขนมที่จัดใส่จานมาวางตรงหน้าซ่งฟู่หลงซ่งฟู่หลงหยิบขนมเข้าปากในทันทีด้วยความหิว เขาเลิกคิ้วขึ้นอย่างรู้สึกชอบใจในรสชาติดังกล่าว“เรียนนายท่าน นี่เป็นขนมเซาปิ่งที่คุณหนูรองสกุลจางนำมามอบให้ท่านขอรับ” ซ่งฟู่หลงชะงักมือค้างไปชั่วขณะ คิ้วหนาเลิกขึ้นก่อนจะขมวดกันจนเป็นปม สีหน้าของเขาเคร่งขรึมลงไปในทันที ขนมครึ่งชิ้นที่ยังจดจ่ออยู่ตรงปากถูกเขาวางลงบนจานอย่างหมดความสนใจ“นางมีธุระอันใด”“คุณหนูรองเพียงนำขนมมาฝากให้นายท่านขอรับ”“ต่อไปเจ้าอย่าได้รับของจากคนแปลกหน้าอีก” ซ่งฟู่หลงกล่าวตำหนิออกมา “แล้วก็..อย่าได้รายงานเรื่องนี้กับผู้ใดด้วย” ซ่งฟู่หลงพูดทิ้งท้ายพร้อมปรายตามองอย่างรู้ทัน เขารีบดักคอพ่อบ้านก่อนจะลุกขึ้นเดินกลับเรือนอย่างไม่พอใจนักพ่อบ้านหน้าเสียลงไปในทันที เขาได้แต่ถอนหายใจออกมาอย่างหนักใจในวันต่อมาจางหมินเย่วยังคงมุ่งมั่นออกไปพบซ่งฟู่หลงอีกครั้ง นางยังคงลุกขึ้นแต่เช้าเพื่อลงมือทำขนมเซาปิ่งให้กับชายหนุ่มอีกหนเมื่อจางหมินเย่วเดินทางไปถึงที่ห
続きを読む
บทที่ 6 ตบหน้าฉาดใหญ่
หลังจากวันนั้นจางหมินเย่วก็ยังคงไม่ลดละความพยายาม ในเมื่อนางได้ปักใจกับซ่งฟู่หลงแล้ว นางย่อมไม่มีวันเปลี่ยนใจง่ายๆ เป็นแน่ ความมุ่งมั่นที่มีกับความรู้สึกที่ลึกซึ้งเบ่งบานในใจทำให้นางสลัดความเศร้าที่มีในหนก่อน และเดินหน้าเพื่อความรักของนางต่อไปอย่างไม่ยอมแพ้จางหมินเย่วจัดเตรียมตะกร้าอีกครั้งโดยนางเปลี่ยนจากขนมหวานเป็นอาหารคาวแบบง่ายๆ ด้วยตนเองแต่เมื่อไปถึงหน้าจวน พ่อบ้านคนเดิมได้แต่ทำสีหน้าเหน็ดเหนื่อยใจ เขาปฏิเสธจางหมินเย่วออกไปอย่างไม่ไว้หน้า“คุณหนู โปรดอย่าทำให้ข้าน้อยลำบากใจเลย นายท่านไม่ประสงค์ให้คุณหนูเข้าพบ หวังว่าคุณหนูจะตัดใจโดยเร็ว”จางหมินเย่วยิ้มหน้าเจื่อนไม่เสียทุกรอบ แต่นางก็ยังคงหวังว่าสักวันซ่งฟู่หลงจะใจอ่อนให้นางอยู่บ้าง ผิดกับเล่อจิ้นที่เอาแต่หงุดหงิดฉุนเฉียวไปเสียทุกครั้งไป ใต้เท้าซ่งผู้นั้นมีตาหามีแววไม่ นายหญิงลดตัวลงมาหาเขาเช่นนี้ แต่เขากลับแสดงความหยาบคายอย่างไม่ไว้หน้าทีเดียวหลังจากจางหมินเย่วถูกปฏิเสธอยู่หลายหน นางก็ได้แต่ทอดถอนหายใจ ท่าทางร่าเริงแปรเปลี่ยนเป็นเซื่องซึมและดูเหม่อลอย แม้เล่อจิ้นจะพยายามปลอบขวัญนางเช่นใดก็มิอาจทำให้จางหมินเย่วกลับมาสดใสได้อีก
続きを読む
บทที่ 7 ข้าจะจัดการให้เอง
จางเหวิ่นชิงกลับจวนด้วยโทสะที่อัดแน่น เสนาบดีเช่นเขากลับถูกขุนนางขั้นเจ็ดหักหน้าจนไม่เหลือชิ้นดี จางเหวิ่นชิงกระแทกเท้าเดินเข้ามาภายในห้องโถงพร้อมตะโกนเสียงดังลั่น “เย่วเอ๋อร์...ไปตามเย่วเอ๋อร์มาเดี๋ยวนี้”สาวใช้ต่างพากันลนลาน พ่อบ้านถึงกับเหงื่อตก เขารีบเดินกึ่งวิ่งออกไปตามคำสั่งอย่างรวดเร็วเล่อจิ้นวิ่งหน้าตื่นเข้ามาหาจางหมินเย่วที่กำลังนั่งเหม่อลอยอยู่ภายในศาลากลางน้ำ กลิ่นหอมของดอกบัวที่บานสะพรั่งที่ทั่วผืนน้ำมิอาจข่มความว้าวุ่นภายในใจที่มีลงไปได้ ภาพซ่งฟู่หลงที่แลดูเฉยชาและไม่แยแสนางแม้แต่น้อย ยิ่งทำให้ใบหน้าหวานแลดูเศร้าสร้อยไปถนัดตา“คุณหนู...แย่แล้วเจ้าค่ะ...คุณหนู”เสียงร้องเรียกของเล่อจิ้นทำให้จางหมินเย่วหลุดออกจากภวังค์ นางหันกลับไปมองสาวใช้ที่หน้าตาที่ตระหนกราวกับเห็นผี“เล่อจิ้น...มีเรื่องอันใดกันหรือ”“นายท่านเจ้าค่ะ...” เล่อจิ้นพูดไปพลางหอบเหนื่อยไปในที “นายท่านเรียกหาคุณหนูเจ้าค่ะ พ่อบ้านบอกว่านายท่านมีท่าทางโกรธมาก”จางหมินเย่วเลิกคิ้วขึ้นก่อนจะพยักหน้ารับ ช่วงนี้เรื่องที่ท่านพ่อโกรธนางก็คงมีแต่เรื่องของซ่งฟู่หลงเป็นแน่ หรือท่านพ่อของนางรู้เรื่องที่นางตามตอแยใต้เท้าซ่
続きを読む
บทที่ 8 ขอประทานสมรส
ตกหัวค่ำจางเหวิ่นชิงยังคงเดินวนไปวนมาอยู่ภายในห้องนอนด้วยท่าทางที่กลัดกลุ้มอย่างหนัก เขาได้แต่นึกเสียใจและอยากกัดลิ้นตัวเองให้ตายไปเสีย เมื่อเขาเผลอรับปากจางหมินเย่วออกไปในช่วงกลางวันที่ผ่านมาโดยไม่ได้ตั้งใจ แต่เมื่อนึกถึงแววตาที่เปล่งประกายอย่างมีความหวังกับท่าทางตื่นเต้นดีใจขึ้นมาอย่างกะทันหันของบุตรสาวก็ทำให้จางเหวิ่นชิงไม่อาจถอนคำพูดที่ตนเองลั่นออกมาได้ “ท่านพี่ยังไม่นอนอีกหรือ” เซี่ยเหมยเอ่ยทักพร้อมยกมือขึ้นลูบลำแขนหนาของเขาอย่างห่วงใย จางเหวิ่นชิงถอนหายใจหนักออกมาอีกครั้ง “ข้ายังมิอาจทำใจยอมรับเจ้าคนหยิ่งผยองผู้นั้นได้” จางเหวิ่นชิงตัดพ้อออกมาให้ฮูหยินของตนรับฟัง สีหน้าฉายความขุ่นเคืองออกมาอย่างเห็นได้ชัด “ท่านพี่...เรื่องความรักมิอาจบีบบังคับได้...ท่านก็ทำใจยอมรับเสียเถอะ” “แต่ว่า...เย่วเอ๋อร์ควรได้คู่ครองที่ดีกว่าเจ้าคนผู้นั้น ไม่ว่าข้าจะคิดเช่นใดคนผู้นั้นก็หาใช่คนที่เหมาะสมกับนาง” จางเหวิ่นชิงคำรามออกมา เซี่ยเหมยสะบัดแขนออกจากการเกาะกุมอย่างแง่งอน “เช่นนั้นท่านพี่ก็ไปบอกเย่วเอ๋อร์เสียเองเลยว่าท่านจะมิช่วยนางแล้ว...แต่ว่า...ห
続きを読む
บทที่ 9 ตำแหน่งเดียวที่มีให้
“ฟู่หลง...เจ้าแต่งงานแล้วอย่างนั้นหรือ...” หนิงเว่ยเจี้ยนอุทานออกมาด้วยน้ำเสียงอันดัง ท่าทางทั้งตกใจและแปลกใจในคราวเดียวกัน สายตาจ้องมองไปยังซ่งฟู่หลงอย่างเอาผิด หากแต่ซ่งฟู่หลงกลับยืนนิ่งเฉยอย่างไม่หวั่นเกรงหนิงเว่ยเจี้ยนหันไปหาขันทีข้างกายในทันที สายตาตำหนิส่งไปยังขันทีอย่างต้องการเอาเรื่อง ขันทีได้แต่หน้าเจื่อนพลางส่ายหน้าให้เป็นสัญญาณว่าอย่าได้ทรงกังวลใจไปนัก หนิงเว่ยเจี้ยนเห็นเช่นนั้นจึงได้ผ่อนอารมณ์ลง ความคิดแปรเปลี่ยนไปอีกครั้งพร้อมมองภาพเบื้องหน้าของคนทั้งสองอย่างนึกสนุกขึ้นมาจางเหวิ่นชิงเองก็ตกตะลึงกับคำกล่าวของซ่งฟู่หลงไม่ต่างกันมากนัก แต่เขาก็อดนึกแปลกใจในปฏิกิริยาของหนิงเว่ยเจี้ยนที่ดูจะร้อนรนใจมากกว่าเขาเสียด้วยซ้ำอย่างช่วยไม่ได้ แต่เพราะตอนนี้จิตใจของจางเหวิ่นชิงเอาแต่จดจ่ออยู่เพียงกับบุตรสาวเท่านั้น ทำให้จางเหวิ่นชิงละความสนใจในท่าทีดังกล่าวไปเสียสิ้น “ใต้เท้าซ่ง...เหตุใดข้าไม่เคยรู้ว่าท่านแต่งงานแล้ว” จางเหวิ่นชิงหันความสนใจกลับมายังซ่งฟู่หลง ตอนนี้ในใจเขาได้แต่กังวลใจเกี่ยวกับจางหมินเย่ว จางเหวิ่นชิงไม่อยากจะจินตนาการว่าหากบุตรสาวของตนรู้เรื่องนี้ นางจะเป็
続きを読む
บทที่ 10 ข้ายอมทั้งนั้น
จางเหวิ่นชิงเดินทางกลับจวนสกุลจางด้วยความโมโหและหงุดหงิด ในขณะที่เซี่ยเหมยและจางหมินเย่วกำลังนั่งรอเขาด้วยความตื่นเต้นและกระวนกระวายใจ จางหมินเย่วยืนชะเง้อมองไปที่ประตูอยู่ไม่เว้นว่าง สองมือจิกเกร็งไปมาด้วยความกระสับกระส่าย ทันทีที่จางเหวิ่นชิงก้าวเข้ามาภายในห้องโถง จางหมินเย่วก็ปรี่เข้าไปหาบิดาของตนในทันที “ท่านพ่อ...” จางเหวิ่นชิงที่ยังคงอารมณ์ขุ่นมัว เมื่อเขาได้เห็นบุตรสาวตรงหน้าก็พาลมีอารมณ์โมโหมากขึ้นไปอีก “เย่วเอ๋อร์...ข้าขอสั่งเจ้าเลิกยุ่งกับซ่งฟู่หลงอีกเป็นอันขาด” คำสั่งเฉียบขาดที่ดังขึ้นมา พร้อมใบหน้าถมึงทึง ทำเอาจางหมินเย่วถึงกับเบิกตากว้างด้วยความตระหนก “ท่านพ่อเกิดเรื่องอันใดขึ้น เหตุใดท่านจึงพูดเช่นนั้น” “เจ้านี่ช่างไม่รู้ความเสียจริง เจ้ารู้หรือไม่ซ่งฟู่หลงแต่งงานแล้ว” จางเหวิ่นชิงตวาดใส่จางหมินเย่วด้วยน้ำเสียงอันดัง จางหมินเย่วถึงกับอ้าปากค้าง “ใต้เท้าซ่งแต่งงานแล้วหรือเจ้าคะ” “เจ้าหนุ่มผู้นั้นเอ่ยปากต่อหน้าพระพักตร์ ทั้งท่าทางจองหองนั่น ข้าคิดแล้วก็แค้นยิ่งนัก” จางเหวิ่นชิงกล่าวออกมาพร้อมตวัดสายตาตำห
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status