Ben
Ibuku adalah doktor AI terkemuka.
Tidak lama setelah aku lahir, ibuku secara khusus menciptakan seorang adik perempuan AI untukku.
Ibuku mengatakan, adik AI itu dibekali sistem pendeteksi kebohongan paling akurat di dunia.
Kalau aku berbohong, dia pasti bisa tahu.
Sejak saat itu, adik AI menjadi hakim yang menentukan nasibku.
Setiap kali dia mengeluarkan peringatan, sekalipun aku tidak berbohong, ibuku tetap menampar dan mengurungku di ruangan sempit dan gelap.
Aku pernah membela diri, juga pernah melawan.
Namun, ibuku tetap yakin bahwa AI ciptaannya tidak mungkin melakukan kesalahan. Sejak itu, ibuku makin yakin bahwa aku memang pembohong.
Pada Hari Anak Nasional, untuk pertama kalinya ibu mengajakku dan adik pergi ke taman hiburan.
Saat melihat tempat bungee jumping yang setinggi puluhan meter, aku menekan dadaku yang nyeri luar biasa sambil menggelengkan kepala.
Adik AI menampilkan laporan data dengan ekspresi dingin, "Detak jantung Kakak yang nggak normal disebabkan karena dia sedang berbohong. Hasil pemindaian seluruh tubuh menunjukkan kondisinya sehat."
Wajah ibuku langsung muram, lalu menarik telingaku sambil menyeretku sampai di area bungee jumping.
"Masih berani bohong! Kamu harus lompat hari ini!"
Ketika tubuhku mulai melayang, jantungku terasa seperti diremas, rasa sakitnya membuatku sulit bernapas.
Penglihatanku makin kabur, tetapi ibu masih terus memarahiku karena sifat suka berbohongku tidak berubah.
Air mata bercampur darah mengalir dari sudut mataku.
'Ibu, kali ini aku benaran nggak bohong.'
'Aku sudah mati, kelak nggak akan bisa bohong lagi.'