Laut
Pada malam kota jatuh, ajudan ayah berlari menerobos masuk ke kediaman panglima daerah dengan tubuh berlumuran darah.
"Pasukan musuh mengumumkan kalau mereka bakal mengampuni semua perempuan di kota ini asalkan kita menyerahkan salah satu putri dari kediaman panglima daerah buat memuaskan seluruh pasukan mereka."
Adikku baru saja bertunangan. Mendengar itu, dia langsung ketakutan hingga menangis dan pingsan di tempat.
Ibu memeluknya erat-erat, tetapi kemudian berbalik dan berlutut di hadapanku.
"Hanna, adikmu bakal menikah bulan depan."
"Kalau sampai kehormatannya direnggut, hidupnya bakal hancur."
Kakak sulungku juga ikut membujukku dengan suara pelan.
"Kamu dan Arkan sudah menjalin hubungan selama tujuh tahun."
"Dia begitu mencintaimu. Sekalipun sesuatu benar-benar terjadi padamu, dia nggak bakal meninggalkanmu."
Pada akhirnya, aku mengalihkan pandangan kepada Arkan Wiryawan.
Pria yang dulu rela menerima tiga tembakan demi melindungiku itu ternyata benar-benar membantuku mengenakan mantel.
"Pergilah."
"Apa pun yang terjadi, aku tetap bakal menikahimu."
Saat itu, aku tiba-tiba mengerti.
Adikku tidak boleh dinodai karena hidupnya akan hancur jika itu terjadi, sedangkan aku boleh saja mengalaminya.
Aku tersenyum dan melangkah keluar. Sebelum naik ke mobil, aku menelan pil pengorbanan yang ditinggalkan ayah.
Namun, baru dua blok dari kediaman, lampu-lampu di sekeliling kami tiba-tiba menyala.
Orang-orang yang menyamar sebagai pasukan musuh itu serentak melepas topeng mereka.
Adikku berlari keluar dari balik tubuh sang ajudan. Dia tertawa terbahak-bahak hingga sulit berdiri tegak.
"Kak, kamu benar-benar pergi!"
"Aku cuma mau menguji apakah keluarga kita memang paling menyayangiku."
Ibu mengembuskan napas lega.
Arkan juga mengangkatku turun dari mobil.
"Sudahlah, ini cuma bercanda. Jangan memasang wajah seperti itu."
Aku bersandar dalam pelukannya, lalu perlahan memejamkan mata.
Ternyata, jatuhnya kota itu palsu, begitu pula penghinaan yang seharusnya kuterima.
Hanya pil pengorbanan yang kutelan itu yang benar-benar nyata.