Lira
Sebelum permainan escape room dimulai, aku memergoki pacarku, Darren Hartama, dan sahabatku, Vivi Brahmin, sedang merencanakan sebuah lelucon bersama.
Mereka berencana meninggalkanku terkunci sendirian di ruangan yang gelap gulita pada tahap terakhir.
Jadi, ketika aktor berkostum mengatakan bahwa salah satu wanita harus tetap tinggal, pacarku, adik laki-lakiku, dan sahabatku langsung menunjukku tanpa ragu sedikit pun.
Adikku mendorongku dengan tidak sabar. "Kamu dari dulu paling berani. Memangnya kenapa kalau kamu keluar paling terakhir?"
Vivi bersembunyi di belakang Darren, memasang wajah seolah tersakiti sambil menarik jaketnya. "Fiona, kalau kamu takut, biar aku saja yang tinggal ...."
Darren langsung merengkuhnya ke dalam pelukan sambil mengernyit. "Vivi takut gelap. Jangan mempersulit keadaan."
Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, adikku sudah mendorongku melewati pintu.
Darren pasti sudah lupa kalau aku juga takut gelap.
Dulu saat kami masih tinggal bersama, kalau listrik di apartemen kami tiba-tiba mati, dia akan bergegas keluar dari kamar mandi dengan sampo yang masih menempel di rambutnya hanya untuk memelukku yang sedang gemetar.
"Jangan takut, Fiona," bisiknya saat itu.
Sekarang demi orang lain, dia malah mendorongku ke dalam kegelapan dengan tanpa ragu.
Di tengah kegelapan, salah satu aktor berkostum menghampiriku dari sudut ruangan sambil membawa cahaya redup.
Alih-alih menakutiku seperti seharusnya, dia menghela napas dan menyodorkan selembar tisu kepadaku. "Putusin dia. Aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun, dan nggak ada yang lebih membuatku muak daripada pria yang menjadikan pacarnya sendiri sebagai tameng."
Aku tertegun sesaat, lalu menerima tisu itu. Ujung jariku tidak berhenti gemetar.
Ternyata memang sejelas itu perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai.
Hidungku terasa perih. Aku menggenggam tisu itu semakin erat, lalu tertawa getir dalam kegelapan.
"Ya. Sudah waktunya mengakhiri semuanya."