ANAK TUKANG CUCI PIRING
Refleks aku mengernyitkan dahi, perkataan Pak Abi terasa sukar kumengerti.
“Imas, tidak semua orang memandang manusia melalui materi. Tidak semua orang di dunia ini toxic seperti keluarga nenekmu. Masih banyak orang-orang tulus, aku yakin teman-temanmu tidak pernah menganggapmu berbeda. Hanya saja kamu telanjur rendah diri, sehingga mereka jadi enggan mendekatimu lalu kamu pun tidak memiliki teman.” Aku terdiam, mencoba menelaah segala perkataan lelaki berhidung bangir di hadapan.
“Coba kamu ingat-ingat, apa teman-temanmu pernah mencibirmu? Menghinamu? Atau melakukan bullying padamu?” tanyanya, aku bergeming lagi sambil memutar memori masa lalu.