Selir Yang Terlupakan
"Kau tak memamerkan kecantikanmu seperti yang lain lakukan. Kau hanya duduk tenang dengan buku-bukumu, puisi musim dinginmu, dan kau menunggu. Kau tak menyerah... kau hanya bersabar. Dan kesabaran... adalah bentuk kekuasaan yang paling ampuh dari segalanya."
Ia kembali melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya di atas meja hingga kembali menjulang tinggi di hadapanku.
"Jika ada orang yang mendengar Yang Mulia bicara begitu, saya pasti akan menjadi sasaran kebencian dan kecemburuan semua orang," ucapku datar. "Mereka akan mengira saya telah meramu sihir atau memakai cara kotor untuk menguasai hati Kaisar."