Legenda Pukulan Halilintar
Suatu hari, kamu akan meneruskan perjuangan para senior dalam membela kebenaran,” pejuang Jiro nampak tersenyum.
Aji menatap mata lelaki berumur 30an lebih itu. Dia merasakan bahwa lelaki di depannya itu adalah gambaran dari Pemukul Halilintar di masa lalu. Hanya saja pria di depannya itu adalah sosok yang rendah hati, dan pengertian kepada semua pendekar. Berbeda dengan sosok Pemukul Halilintar yang egois, dan lebih menyendiri dan bahkan tak memiliki seorang murid selama hidupnya.
Aji memberi salam hormat, ”Apakah aku boleh meminta sesuatu jika aku bisa mengalahkanmu tuan Jiro?”