Legenda Dewa Pedang
Cukup untuk menampakkan sebagian wajahnya—kulit pucat, mata tajam, dan garis rahang keras yang seolah mengukir tekad.
“Orang mati tidak perlu tahu namaku,” suaranya merendah, namun bergetar seperti petir yang menyambar dengan senyap.
“Kau cuma perlu tahu… kau sedang berhadapan dengan Dewa Pedang.”
Ia mengayunkan pedangnya ke depan, cahaya biru memanjang seperti ekor komet.
“Aku peringatkan...”
“Semenjak hari ini, siapa pun yang mencoba menyentuh Ang Tok Mo Kui… adalah musuhku.”