Selir Yang Terlupakan
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara yang sunyi.
"Tunjukkan apa yang kau miliki."
"Baik, Yang Mulia," jawabku tenang.
Aku duduk bersila di atas alas yang telah disiapkan, menempatkan jari-jariku di atas senar guqin yang dingin. Saat sentuhan pertama menyentuh senar, nada rendah yang dalam dan bergetar seketika memenuhi ruangan—bukan bunyi yang riang gembira seperti yang biasa didengar di jamuan istana, melainkan nada yang membawa kesan dingin, sepi, namun penuh kekuatan yang tak terlihat.