Pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib adalah salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah Islam. Fatimah, putri tercinta Nabi Muhammad, dikenal karena kesederhanaannya dan ketulusannya. Ali, sahabat setia Nabi, adalah sosok yang penuh keberanian dan kebijaksanaan. Cerita dimulai ketika beberapa sahabat Nabi melamar Fatimah, tetapi Nabi menunggu petunjuk dari Allah. Ali, yang merasa malu karena kemiskinannya, akhirnya memberanikan diri untuk melamar. Nabi dengan lembut bertanya tentang persiapan Ali, dan Ali menjawab dengan jujur bahwa yang dimilikinya hanya pedang, baju besi, dan unta. Nabi pun menyetujui lamaran itu, menunjukkan bahwa kesederhanaan dan ketakwaan lebih berharga daripada kekayaan.
Pernikahan mereka dirayakan dengan sederhana, namun penuh makna. Fatimah membawa serta beberapa barang sederhana sebagai mahar, termasuk pakaian dan tempat tidur dari kulit domba. Kisah ini sering diceritakan sebagai teladan tentang cinta yang tulus dan kesederhanaan dalam hidup. Hubungan mereka dipenuhi dengan saling menghormati dan kerja sama, meskipun hidup dalam kesulitan. Fatimah dan Ali bersama-sama membangun keluarga yang penuh kasih sayang, melahirkan Hasan dan Husein, yang kelak menjadi tokoh penting dalam Islam.