Nikahi Saja Sahabatmu, Mas!
suaraku pecah, air mata mulai menggenang di sudut mataku.
“Kenapa kamu harus bersikap seperti ini? Kamu tahu aku cuma ingin membantu seorang sahabat.”
Aku berdiri, mengelus perutku yang semakin besar. “Sahabat, ya? Sahabat yang sepertinya lebih penting dari istri dan anakmu?”
“Farah, cukup!” bentaknya, membuatku tersentak. Dia jarang sekali membentakku, tapi akhir-akhir ini, itu menjadi hal yang biasa. “Aku tidak ingin mendengar omongan ini lagi.”