DIPTA
Karena kata-kata itu tidak bisa ia bantah dengan mudah dan yang lebih mengganggu ia tahu itu benar.
Ruangan itu terasa semakin berat. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang menyela, apa yang dikatakan Arjito Rajendra semuanya benar. Dipta tahu itu, hari kelulusan itu. Suara tawa, obrolan santai yang seharusnya tidak berarti apa-apa, bahasan taruhan, permainan dan pengakuannya sendiri. Ia tidak menyangkal bahkan saat Aira berdiri di sana menatapnya bertanya dengan suara yang nyaris pecah, “Aku cuma… objek taruhan?”, yang lain berusaha menutupinya tapi dia justru mengatakan "Iya"
Bab Populer