Malam Pertama Sang Istri Kontrak
, burung-burung enggan berkicau, hanya suara angin yang sesekali menerobos celah, membuat tirai berkibar-kibar seperti tangan-tangan tak kasat mata yang ingin mengingatkan bahwa badai belum benar-benar pergi.
Di ruang makan bawah, Arga duduk sendirian, secangkir kopi hitam di tangannya sudah dingin karena terlalu lama ia diamkan, wajahnya pucat, matanya merah tanda semalaman ia tak memejamkan mata, bukan karena pekerjaan, tapi karena hatinya kacau, ia menatap kosong ke arah meja panjang, membiarkan pikirannya terombang-ambing di antara rasa lega karena akhirnya mengakui Aisyah di depan Rania, dan rasa takut karena tahu Rania bukan tipe perempuan yang menyerah begitu saja; ia tahu benar, di b
Hot Chapters