Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda
“Merasa dirinya paling benar. Paling tahu segalanya.”
Aresh langsung tersenyum miring, jelas menikmati arah pembicaraan itu. Ia menyilangkan tangannya di dada, lalu menimpali dengan nada santai yang penuh sindiran, seolah ini adalah kesempatan yang sudah lama ia tunggu.
“Dan selalu datang di saat tidak dibutuhkan,” tambahnya. “Seolah kita ini tidak bisa berpikir sendiri.”
Arsion tidak ikut tertawa, namun ia juga tidak membela. Ia hanya diam, membiarkan kata-kata itu mengalir begitu saja, dan sikap diamnya itu sudah cukup menjadi bentuk persetujuan yang tidak perlu diucapkan.