Luka Seorang Istri
Kupercepat laju mobil, agar Ibu bisa segera diperiksa kondisinya, sebagian kaki dan tangan Ibu banyak terdapat luka memar dan sayatan seperti terhantam bebatuan juga tersayat ranting pohon di sepanjang aliran sungai.
Ibu tak banyak bicara, mungkin masih shock juga. Hingga dokter sudah keluar dari ruangan Ibu, Ibu juga masih diam saja, hanya sesekali mencuri pandang padaku lalu setelahnya memilih memalingkan wajah dariku. Kami hanya berdua sejarang Mia dan Saga sedang mencari sarapan, sedang Dilra tengah mengurus ke bagian administrasi.
“Maafin Galang Bu, maaf karena sudah kasar sama Ibu,” kucium lengannya yang masih bergetar, karena Ibu masih terus terisak.