Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!

MERTUA BAIK, IPAR NYELEKIT!

Aku tak tahan melihatnya menangis, jadi aku mendekat padanya. "Mak, kenapa Mamak nangis?" tanyaku. Ibu langsung mengusap air matanya, dan meletakkan kembali bingkai foto yang tadi digenggamnya. Ia menggeleng. Sepertinya ada hal yang ia sembunyikan. Pikiranku jadi ke mana-mana. Apa Ibu menangis karena tak tahan dengan tingkah Mayra dan Adel yang seperti itu?
1.8K viewsCompletedAdded to Library 39 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
JANGAN PISAHKAN KAMI, DADDY

JANGAN PISAHKAN KAMI, DADDY

Kini, kerinduan akan sosok bayi laki-laki yang tak pernah dilihatnya, hanya bisa dia lampiaskan pada kanvas dan cat warna. "Kakekmu akan pindah ke desa, Sayang. Apa kamu ingin ikut mengantar ke sana? Siapa tahu kamu bisa menenangkan diri di sana juga." Sarah datang menghampiri, lalu menatap hasil lukisan Louisa, yang lagi-lagi menggambar seorang ibu memeluk bayinya. "Kapan, Mom?" Louisa menghentikan coretannya, menoleh pada sang ibu yang tersenyum padanya.
101.7K viewsOngoingAdded to Library 60 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Kebangkitan Sang Putri Terbuang

Kebangkitan Sang Putri Terbuang

Tirai sutra bergoyang pelan ditiup angin malam, membawa harum manis yang seketika menghidupkan kembali memori pelukan sang ibu—hangat, menenangkan, dan penuh cinta. Langkahnya perlahan, seolah takut mengusik kenangan yang tertinggal. Jemarinya menyusuri dinding kayu, berhenti di sebuah lukisan besar di dekat meja rias. Sosok perempuan dalam lukisan itu menatapnya dengan mata teduh—anggun, lembut, tapi menyimpan kekuatan yang tak terbantahkan. Lin Yue menatapnya lama, senyum samar mengembang, namun di balik senyum itu, matanya menyimpan luka. Luka lama... yang kini menjadi bara kecil dalam hatinya.
1018.8K viewsCompletedAdded to Library 658 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam

Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam

Adriel menuntun Aira masuk, melewati lorong-lorong megah yang dihiasi lampu kristal, menuju sebuah pintu kayu jati berukir di ujung sayap kanan bangunan. Aroma kertas tua dan kayu cendana menyambut mereka saat pintu dibuka. Aira langsung melangkah menuju sebuah dinding yang didominasi oleh sebuah lukisan minyak berukuran besar. Lukisan seorang wanita cantik dengan mata jernih dan senyum yang sangat mirip dengan Aira. Aira terpaku di depan lukisan ibunya. Air mata perlahan mengalir di pipinya. "Mama... aku datang," isaknya.
9.9109.7K viewsOngoingAdded to Library 2.5K Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Cinta yang hilang

Cinta yang hilang

sapa Dimas dengan memohon maaf karena lama membukakan pintu. "Iya gak papa, mandi gih, lihat tanganmu penuh dengan cat," Jawab sonya yang selanjutnya menyuruh Dimas untuk mandi. Dimas pun sedikit merasa aneh. Ibunya kini menjadi sedikit lembut, kata-katanya halus, dan tidak ada tamparan saat ibunya melihat Dimas belum kunjung mandi. Ibunya malah tersenyum, sepertinya sang ibu bangga ketika melihat tangan Dimas dipenuhi dengan cat air. Sonya berpikir bahwa Dimas sedang berjuang keras untuk melukis hari ini. Dimas pun mandi dengan perasaan bahagia. Sekarang, selain terbayang oleh senyum manis Refita yang terlukis di canvasnya, ia juga terbayang oleh senyum bangga ibunya.
106.5K viewsOngoingAdded to Library 252 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Salah Balas Dendam

Salah Balas Dendam

Sepertinya Noah mendengar gumamannya yang pelan tadi dan dia harus segera menjelaskannya. “Wanita di lukisan itu sangat cantik. Tiba-tiba aku jadi teringat ibuku yang telah tiada.” Terlihat tubuh Noah yang menegang. Tentu saja, pria itu pasti menyesali pertanyaannya dan tidak akan bertanya lebih lanjut.
105.1K viewsCompletedAdded to Library 161 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
MEMBUNGKAM MULUT IBU TIRI

MEMBUNGKAM MULUT IBU TIRI

ejek Gea. Tak berkutik, aku hanya mendengkus kesal. Otak seketika tumpul saat pikiran dipenuhi emosi. Bahkan, sekedar menjawab cibiran Gea saja rasanya tak mampu. “Kenapa diam? Sudah sana pulang. Kamu sudah kalah!” ejek perempuan bergelar Ibu sambung, “Kamu memang sama seperti Mamamu, tak akan pernah menang melawanku!”
6.6K viewsCompletedAdded to Library 204 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Anak Yang Tidur Dengan Perut Lapar

Anak Yang Tidur Dengan Perut Lapar

“Pelankan suaramu, Fai!” titah Ibu, panik. Ia kemudian melepaskan tangannya dari mulutku saat aku sudah agak tenang. Ibu menahan isak tangis hingga ekspresi wajahnya sulit kugambarkan. Namun yang pasti, adaberjuta kepedihan tergurat di sana. Lantunan takbir masih menggema, begitu pun suara bedug bertalu-talu di malam takbir itu, harusnya kami menangis bahagia menyambut hari kemenangan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.
8.1K viewsCompletedAdded to Library 317 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
SUMPAH ISTRIKU

SUMPAH ISTRIKU

Dia berusaha mengangkat tangannya, Lisa yang melihat itu langsung menggenggam tangan milik sang Ibu. Lisa dapat melihat air mata ibunya yang mengalir membasahi pipi keriput itu. "Ibu, mengapa menangis? Ini tangis bahagia kan, Bu? Bukan tangis kasihan, Lisa nggak perlu dikasihani, Bu." Air mata Romlah malah semakin deras mengalir membasahi pipinya.
1030.6K viewsCompletedAdded to Library 1.0K Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap

“Ahkhhh, mama. Lius, tolong mamaku. Akh!” Lisa terus memohon, menarik baju Lius dengan tatapan penuh permohonan. Namun Lius yang tak berdaya hanya bisa terdiam, membiarkan istrinya melakukan apapun untuk melepas emosinya. “Mama, enggak! Tolong, tolongin mamaku.” Lisa menangis, bersujud di depan Lius dengan memohon. Lisa merangkah, menyeret kakinya untuk mendekat pada ibunya. Tangannya terus bergerak maju, meraih kotak kayu berisi ibunya itu.
107.9K viewsCompletedAdded to Library 221 Times as lukisan ibu menangis
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status