KEMBALINYA SANG RATU
Di tengah gema perlawanan dan arus global yang terus bergejolak, Lintang tahu bahwa setiap perjuangan adalah benih yang ditanam untuk masa depan yang lebih baik.
Di bagian selatan Buton, para pemuda dan pemudi mulai berkumpul, membentuk aliansi lintas adat dan komunitas, yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Pulang ke Akar. Mereka mengangkat tema “Pendidikan, Kebudayaan, dan Keberlanjutan” sebagai landasan perjuangan, menekankan bahwa setiap produk lokal—dari minyak atsiri, rempah-rempah, hingga hasil kerajinan—adalah manifestasi dari kearifan yang tak ternilai.
Dalam rapat tersebut, Lintang berbicara dengan lembut namun penuh semangat: