Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama

Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama

Elang menunjuk gambar. "Oh...." Alfi mengangguk-angguk. "Nah, semakin dekat, semakin banyak bagian kapal yang terlihat." Alfi mengangguk-angguk walau belum benar-benar paham. "Jadi bumi kita... bulat?" Alfi memastikan. "Betul." Elang mengangguk. Alfi berpikir keras beberapa detik. "Bumi kayak... bakso?"
1016.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 362 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
O, Yang Mulia!

O, Yang Mulia!

KRAK! Langit dapat mendengar dan merasakan tulang-tulangnya patah. Ya, tubuh Langit telah menghantam dasar jurang. Langit telah membumi--literally… *** [Selamat datang di Valandria] Tulisan itu masih berkedip-kedip dalam bidang pandangnya. Langit pikir ia sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma dan mati rasa, tapi ternyata ia bisa menggerakkan tubuhnya setelah berusaha lebih keras. Hanya saja, memang rasanya agak berbeda. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras di hadapannya, namun ia tidak bisa merasakan tekstur maupun suhu dari benda itu. Benda itu seperti sebuah tembok, tapi sepertinya lebih ringan. Kemudian ia mendorong benda itu ke atas.
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
Giok Langit

Giok Langit

Diam-diam Liang Kun membandingkan dengan hidupnya sendiri yang tak berbeda jauh. “Ayah ... ibu ... kalian sudah membuangku, tapi aku tak akan mengecewakan kalian,” gumam Liang Kun sembari menatap langit senja yang kemerahan. Tanpa sadar tangannya bergerak mengusap kepala Cang Er, lalu ia menyibak anak rambut yang menutup dahi gadis itu. Liang Kun bergerak sesenyap dan selembut mungkin berusaha agar gadis itu tidak bangun.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
Gelang Langit

Gelang Langit

Senyum itu hadir, tapi juga terasa rapuh. Bayangan mendekat, jaraknya kini hanya sejengkal. “Mengapa kau masih mencoba? Kau tahu pada akhirnya langit tidak akan menerimamu kembali. Dan bumi... bumi hanya akan menelanmu seperti semua yang lain.”
1.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
Mandat Langit

Mandat Langit

Pemuda itu menatap kami dengan tajam, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri karena tetua ada di depan. Tetua lalu berkata satu kalimat terakhir yang membuat semua orang diam. “Karena pesan ini menyangkut Mandat Langit.” Dan saat kata itu keluar, aku merasakan bahwa hidupku baru saja naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tingkat di mana salah satu langkah saja tidak lagi hanya membunuh diriku, tetapi juga bisa membakar seluruh sekte.
341 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
Luka Yang Menembus Langit

Luka Yang Menembus Langit

“Untuk Ayah, Ibu, Mei'er... untuk semua yang hilang.” Ia menatap ke langit gua yang kini mulai cerah cahaya bulan purnama menyelinap masuk. “Kita pulang.”
103.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai bagaikan langit dan bumi lirik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status