BENALU
Mau segila apapun Ibu, dia tetap perempuan yang bertaruh nyawa melahirkanku.
“Jeng Sella, saya laper, cuma makanannya kok makanan kemarin semua, ya?” ucap Ibu. Haduh Ibu. Kenapa harus ngomong begitu dengan Mami. Kalau Mami sakit hati gimana? Aku memandang Mami. Mami juga memandangku. Ya, kami lagi beradu pandang. Mami tersenyum sekilas kepadaku.
“Jeng Intan, makanannya kan sudah di angetin sama Bibi. Jadi nggak mungkin basi,” jawab Mami masih dengan gaya sosialitanya.