Aku Istri yang Tidak Dianggap
Aku sangat suka udara pagi seperti ini, masih fresh dan jauh dari polusi.
“Nih buat kamu, teh manis hangat sangat bagus buat menghangatkan perut, yang habis dipakai begadang,” suara yang teramat ku kenal, yang belakangan ini kembali sering terdengar di telingaku.
“Terima kasih,” sahutku seraya mengambil cup berisi teh manis hangat.
“Kembali kasih, Zah!”
“Mas, panggil Saf aja! Jangan Zah! Di sini enggak ada yang tau panggilan itu,” kataku mengoreksi saat Mas Essa masih memanggilku dengan panggilan Zahra.