KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Ish … si Naira ya, kebiasaan ngelamun terus!“
Suara Meera membuat kesadaranku tertarik. Aku tersenyum dan menopang dagu.
“Mikirin apa lagi sih lo?“
“Meer, keknya aku harus cari kerjaan lain deh. Nggak mungkin kan kalau aku ngandelin ngejahit dari rumah?“ tuturku.
Meera tampak terdiam. Lalu mengangguk pelan.
“Bener, Nai. Biaya kehidupan lo dan anak-anak lo nggak sedikit,“ sahutnya.
“Tapi kira-kira ada nggak ya kerjaan yang gajinya gede? Aku can cuma lulusan SMA,“ ujarku. Meera kembali terdiam. Lalu tersenyum tampak aneh.
“Ada,“ katanya.
“Apa?“
“Jadi ani-aninya Aric.“
Hot Chapters