Pernikahan Penuh Luka
Malam begitu sunyi, tapi suara pikiranku terasa seperti gemuruh besar yang tak berhenti.
Sore tadi, ketika Bara menamparku, dunia seakan berhenti. Bukan karena sakitnya. Sakit fisik bisa hilang. Tapi rasa kecewanya… rasa takut, rasa tidak dihargai, rasa tak dianggap… itu yang membuatku merasa hancur.
Aku memejamkan mata, mencoba menghapus bayangan itu, tapi gagal. Bekasnya seperti tertempel di dinding ingatanku dan terus memantul setiap kali aku mencoba mengabaikannya.