BABY BLUES
Bersamaan dengan semburan air dari mataku, jeritan dari bibirku tak bisa ditahan.
Kuremas daster yang kini dipakai. Aku harus bagaimana? Sementara, rasa sakit di bagian sensitifku tak mereda juga. Semakin lama, semakin perih rasanya. Seperti ada belati yang mengiris luka yang masih basah. Aku menangis sekencang-kencangnya.
Aku memukul dinding tembok berulang. Kali saja, dengan sakitnya jemariku yang beradu dengan tembok, sakit di tubuhku berkurang. Namun, tetap saja. Perihnya tak berubah.