Cahaya Biru
ucapku sambil menoleh ke belakang, memberikan senyuman sinis kepada Anggia yang langsung membuang muka.
Mobil kembali melaju, meninggalkan suara deru mesin yang seolah mengejek keheningan yang tercipta. Anggia memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari itu, sementara aku dan Biru terus berbicara riang di depan, seakan-akan tidak ada badai yang tengah berkecamuk di hati Anggia.
"Nggak akan dong sayang. Nilaiku pasti bagus, rugi dong punya mentor secantik kamu," ucap Biru dengan mencolek hidungku.
Hot Chapters