Rayuan Maut Para Tetanggaku
Sebelum aku sempat menjawab, Ardi buru-buru nyamber, “Belum, Mbak! Bima memang doyan bakso, apalagi yang besar, pedes, sama kasih cuka biar kecut!”
Nadira tertawa, matanya berbinar. “Oh, gitu? Mas-nya mau bakso juga?”
Aku buru-buru menggeleng, malu setengah mati. “Eh, jangan repot-repot, Nad.”
Tapi Ardi, dengan santainya, malah menimpali, “Ah, lu, Bim. Kalau rezeki jangan ditolak! Boleh, Mbak, sama aja kayak punya Bima. Gede, pedes, agak kecut.”