Tawa anak tengah malam
“Ah, si Mbah yang suka duduk di warung kopi sambil nyeruput jamu pahit? Bro, kalau betul ini urusannya sama roh, dia emang bisa bantu?”
Arman berdiri, mengambil jaket. “Mau tidak mau, kita harus coba."
Bima mendesah berat. Wajahnya tampak frustasi menghadapi situasi mencekam itu. “Ya Tuhan, kenapa aku ikut-ikutan jadi figuran di cerita horor ini, sih. Padahal niatku cuma main, makan gratis, tidur, terus pulang.”
Arman menepuk bahunya. “Tenang, figuran biasanya mati duluan. Jadi, kamu aman.”
Chapitres populaires