Surga yang Berdarah : Reinkarnasi Sang Kaisar Terbuang
Kubah emas menutup, rombongan berlari keluar, menyeberangi jembatan es, menghilang ke kabut rawa, seperti bayang yang tidak pernah ada.
09:50 rawa selatan, kabut tebal. Rombongan berhenti di batu besar, menatap kristal hitam emas di tangan bayi, berkilat seperti mahkota malam. Granny Mei tersenyit lelah, menatap langit surga rendah, yang kini tampak lebih dekat, tapi juga lebih muram. “Sembilan,” katanya pelan, “satu lagi, dan kita naik, menuju surga ke-2, menuju ibumu, menuju pengkhianat yang masih menunggu, dengan pedang yang sudah retak total, dan nama yang tidak pernah bisa dihapus.”
Hot Chapters