Pembalasan Sang Dokter Jenius
Api itu tidak hanya membakar, tapi juga memurnikan.
Cat minyak di atas kanvas itu meleleh dan mendesis. Wajah wanita yang bersedih itu seolah tersenyum sesaat di tengah kobaran api, sebelum akhirnya lenyap menjadi abu.
Di ambang pintu, sosok hitam itu menjerit. Kali ini adalah jeritan yang sesungguhnya, sebuah raungan mengerikan yang dipenuhi oleh rasa sakit dan keterkejutan. Tubuh asapnya bergolak liar, ditarik paksa ke arah api yang berkobar. Ia mencoba melawan, cakarnya mencakar-cakar kusen pintu, namun tarikan itu terlalu kuat.