Di Ranjang Majikanku
"Bu, Binar datang."
Suara Binar pecah begitu kakinya melangkah memasuki ruang tengah. Tas ranselnya tergantung lemas di bahu, rambutnya berantakan setelah perjalanan semalaman yang penuh gelisah. Matanya sembap, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena air mata yang tak henti mengalir sejak di dalam bus.
Bu Nuri, yang beberapa jam lalu membuatnya panik setengah mati, kini duduk di sana, sedang mengupas salak dengan santai.