DOSA TERINDAH
“Aku pengen kita sahabatan kayak dulu lagi, dan kayaknya kita emang sedang mengarah ke sana. Tapi kalo dia masih kepikiran buat ngambil kamu, silakan menghilang dari hidupku. Karena aku nggak takut kehilangan harta, aku nggak gentar kehilangan perusahaan, juga nggak masalah kehilangan sahabat, tetapi tak akan bisa jika kehilanganmu.”
Aku menyentuh rahangnya lagi.
“Jangan terlalu keras, dia pun sedang berusaha menjalani ini. Aku yakin lambat laun semua akan membaik, karena sekarang pun dia kelihatan sudah semakin baik.”
“Kenapa seyakin itu?”
“Karena aku pernah mengenalnya.”
Rahangnya mengeras.
“Betul kata Ibu, kita hanya harus lebih pintar menempatkan diri, waktu yang akan ngebantu kita menye