Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Alya tersenyum pada dirinya sendiri dan berkata, "Sekarang aku baru sadar, selama aku masih cinta padanya, pernikahan ini nggak akan pernah setara. Yang dicintai selalu santai dan pede, yang nggak dicintai gampang histeris. Kami kayak dua kutub yang berlawanan, cuma karena selembar surat nikah dipaksa terikat bareng. Kami nggak ada yang mau kompromi, sering berantem karena hal kecil yang buat dia itu nggak penting. Pandangan hidup beda, tujuan hidup beda."
"Paman Dodit, pernikahan dan hidup kayak gini bener-bener capek, sampai mencintainya pun jadi kayak lelucon."
Kepala pelayan itu menatap gadis yang sudah tumbuh besar itu, matanya berkaca-kaca. "Kalau saja Tuan Muda Vano nggak mengalami ke
Bab Populer